Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anak berusia empat tahun?

Ya, berbagai keterampilan dasar hidup tentu sudah begitu terampil dilakukan. Bicara, berjalan, bermain, belajar di sekolah, dan seterusnya. Di usia ini pula, seorang anak mulai belajar keterampilan sosial dengan lebih riil, sebab ia bersentuhan langsung dengan dunia nyata, dan semakin sedikit mendapat perlindungan dari orang tua.

Bagaimanapun, seorang anak tetaplah seorang anak. Hidup adalah permainan baginya, dan benar-benar sebuah permainan. Belumlah terpikir berbagai keseriusan hidup layaknya orang dewasa. Belumlah terasa beragam variasi emosi nan menggundahkan hati.

Tapi siapa sangka, justru masa inilah proses pembelajaran dengan sangat cepat terjadi. Serangkaian pelajaran yang kan jadi dasar keberlangsungan hidup diserap dengan amat lancar, hampir tanpa filter. Sungguh jauh rasa takut, minder, benci, sombong, dan berbagai penghalang ilmu lainnya. Seorang anak berusia 4 tahun, adalah anak dengan rasa ingin tahu begitu besar, serta keberanian bereksplorasi yang amat tinggi.

Maka inilah doa kami bagi seluruh anggo ta milis “Indonesia NLP Society”. Sesudah 4 tahun milis ini berdiri, menjadi wahana virtual belajar dan berbagai bersama all about NLP, adakah ia semakin membesarkan semangat pembelajar jalanan yang didengungkan di awal berdirinya? Jika tidak, mari luruskan! Jika ya, mari lanjutkan!

Street Smart NLP adalah jargon yang kita usung 4 tahun lalu. Berawal dari sekedar tag line bagi para pembelajar yang belum mampu belajar NLP ‘sekolahan’, ia berkembang menjadi penghayatan terhadap prinsip NLP itu sendiri.

Ya, NLP adalah ilmu pragmatik. Dengan rasa ingin tahu begitu besar, para pengembang awal hanya tertarik pada pertanyaan, “Bagaimana persisnya seseorang bisa melakukan sesuatu dengan amat ekselen?”

Dan, benarlah sebuah pepatah yang mengatakan, “Questions are the answer.” Pertanyaan adalah jawaban itu sendiri, sehingga mengantarkan para penanya pada sebuah ranah ilmu telah membantu banyak orang berubah.

Adalah Robert Dilts dan kawan-kawan yang kemudian mengatakan bahwa NLP kini memasuki generasi ketiganya. Setelah generasi kesatu menghasilkan karya-karya berupa metodologi modeling, lalu generasi kedua menelurkan ribuan teknik praktis dalam berbagai bidang, maka generasi ketiga adalah generasi NLP yang sistemik. NLP yang memperkaya diri dengan melakukan pemodelan organisasi dan sistem kehidupan. Dan sekali lagi, bukan NLP jika tidak praktis, hingga pemodelan ini pun berbuah varian teknik praktis yang dapat digunakan untuk intervensi sistem.

Maka saya pun penasaran. Di negeri yang paling banyak memiliki kekayaan budaya ini, model serta teknik seperti apakah yang kan lahir dari para praktisinya? Dua kali “Indonesian NLP Conference” telah memunculkan beberapa hasil pemodelan yang begitu menggelitik untuk dilanjutkan.

Ah, masih banyak yang impor kok? Tak apa. Bukankah fase awal belajar selalu merupakan peniruan. Simak bangsa yang dengan sungguh-sungguh meniru, macam Jepang dan kini Cina, yang mulai memimpin berbagai penemuan dunia, maka kita pun akan maklum dan bersegera untuk terus berjalan tanpa kenal lelah.

Bagaimana NLP ala Batak? Minang? Kalimantan? Jawa? Bali? Makassar?

Bagaimana NLP memodel spiritualitas yang begitu kental di negeri ini?

Bagaimana NLP memodel para pemimpin berkarakter pendiri bangsa, sehingga bisa direplikasi di masa kini?

Ah, perjalan masih panjang nan menggairahkan, bukan?

Maka mari kita belajar NLP dan menikmati setiap praktiknya, hingga secuplik semangat nan terus berkembang pun tersemai indah dalam kehidupan.

Selamat ulang tahun milis “Indonesia NLP Society”!

%d bloggers like this: