Kapan Saya Siap Menjalani Coaching?

Saya siap menjadi coachee ketika:

  1. Sudah bulat untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Tidak berkutat lagi dengan fokus pada apa yang salah.
  2. Sudah memahami beberapa pemahaman dasar akan hal yang ingin saya capai. Tidak mesti ahli, tapi dasarnya tahu. Misalnya, kalau saya dulunya adalah orang akuntansi, lalu pindah ke dunia penjualan, maka saya perlu tahu dulu ilmu dan keterampilan menjual. Jika saya sama sekali belum tahu, maka saya belum bisa efektif menjalani sales coaching. Begitu pun jika saya staf yang baru saja naik menjadi manajer, sedang saya sama sekali belum tahu tentang ilmu manajemen dan kepemimpinan. Maka saya perlu belajar dulu baru bisa menjalani leadership coaching. (more…)

Kapan Saya Membutuhkan Coaching?

Yang paling jelas, saya membutuhkan coaching kala saya ingin mencapai sebuah tujuan. Jangka panjang maupun pendek. Jangka panjang misalnya adalah pengembangan bisnis, pencapaian karir yang lebih tinggi, perpindahan karir, dll. Jangka pendek contohnya adalah pencapaian target yang lebih tinggi, ekspansi pasar, dll.

Nah, dalam proses mencapai tujuan itu, tentu akan ditemui berbagai kendala, baik berasal dari luar maupun dalam diri. Dari luar, semisal peraturan, kebijakan, sumber daya yang terbatas. Dari dalam, contohnya kepercayaan diri, ketidakyakinan akan kemampuan, keterbatasan informasi, belum terbentuknya keterampilan, dll.

(more…)

Atasan yang Baik adalah Bawahan yang Baik

Suatu kali saya pernah diminta untuk membawakan pelatihan untuk para manajer. Tak tanggung-tanggung, materi yang diminta adalah soal kepemimpinan. Padahal, saya belum punya pengalaman memimpin secara formal. Pengalaman memimpin saya lebih banyak tak formal, terutama dalam komunitas. Untung kala itu terbersit sebuah ide dalam benak saya. Ya, memang saya tak punya pengalaman sebagai atasan formal, tapi saya bertahun-tahun menjadi bawahan secara formal. Hehehe…

Jadilah, dalam pelatihan itu, alih-alih saya mengajari para peserta tentang cara memimpin anak buah, saya mengajak mereka untuk kembali mengingat-ingat pengalaman mereka sebagai (more…)

Pemimpin adalah Hadiah

“Pemimpin, adalah hadiah bagi yang dipimpin.”

Demikian sebuah nasihat pernah bertutur. Ya, saya dulu berpikir sebaliknya. Bahwa kita, yang dipimpin ini, membutuhkan seorang pemimpin agar bisa berubah. Ini benar adanya. Hanya dalam banyak kondisi, yang terjadi bisa sebaliknya. Yakni bahwa hadirnya seorang pemimpin, ditentukan oleh yang dipimpin.

Apa pasal?

Lah, memang darimana asal seorang pemimpin jika bukan dari orang-orang yang dipimpin? Darimana lahirnya presiden jika bukan dari rakyatnya? Untuk kasus presiden, terutama, sungguh hampir mustahil sebuah negara mengimpor presiden dari negara lain. Jadilah seorang (more…)