“Pemimpin, adalah hadiah bagi yang dipimpin.”

Demikian sebuah nasihat pernah bertutur. Ya, saya dulu berpikir sebaliknya. Bahwa kita, yang dipimpin ini, membutuhkan seorang pemimpin agar bisa berubah. Ini benar adanya. Hanya dalam banyak kondisi, yang terjadi bisa sebaliknya. Yakni bahwa hadirnya seorang pemimpin, ditentukan oleh yang dipimpin.

Apa pasal?

Lah, memang darimana asal seorang pemimpin jika bukan dari orang-orang yang dipimpin? Darimana lahirnya presiden jika bukan dari rakyatnya? Untuk kasus presiden, terutama, sungguh hampir mustahil sebuah negara mengimpor presiden dari negara lain. Jadilah seorang presiden sebuah negara, pastilah adalah putra asli negara itu. Nah, di titik inilah mata kita dibukakan, tentang sebuah tanya, “Kapankah kiranya negeri ini memiliki presiden yang teramat amanah dan dicintai rakyatnya?”

Jawabannya adalah, “Ketika kita sungguh-sungguh mempersiapkan, melahirkan, membesarkan, mendidik, para pemimpin dari rumah-rumah kita.” Ya, sebab kita tak pernah tahu dari rumah mana kelak kan datang para pemimpin negeri ini. Bisa jadi itu dari rumah kita. Lalu pemimpin seperti apa kah yang akan kita sumbangkan bagi negeri ini jika mereka tak sungguh-sungguh kita siapkan?

Sisi lain, tak semua pemimpin cocok dengan yang dipimpin. Maka pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh kita adalah, “Jika kita menghendaki pemimpin yang amanah, kompeten, shalih, dsb, siapkah kita dipimpin olehnya?” Bersedia kah kita mengikuti perjuangannya, pengorbanannya? Rela kah kita tuk menjalani kehidupan yang bisa jadi tak mudah, namun berada di jalan yang benar?

Jawaban ‘ya’ atas semua tanya itu lah yang menentukan kesiapan kita tuk dihadiahi pemimpin idaman. Bersiaplah, wahai diri, perjalanan masih panjang.