Suatu kali saya pernah diminta untuk membawakan pelatihan untuk para manajer. Tak tanggung-tanggung, materi yang diminta adalah soal kepemimpinan. Padahal, saya belum punya pengalaman memimpin secara formal. Pengalaman memimpin saya lebih banyak tak formal, terutama dalam komunitas. Untung kala itu terbersit sebuah ide dalam benak saya. Ya, memang saya tak punya pengalaman sebagai atasan formal, tapi saya bertahun-tahun menjadi bawahan secara formal. Hehehe…

Jadilah, dalam pelatihan itu, alih-alih saya mengajari para peserta tentang cara memimpin anak buah, saya mengajak mereka untuk kembali mengingat-ingat pengalaman mereka sebagai bawahan. Seperti apa kah mereka berharap untuk dipimpin? Jika mereka merasa memiliki atasan yang baik, apa saja kah karakteristiknya? Jika mereka mau berada dalam satu tim yang dipimpin oleh atasan yang efektif, apa saja perilakunya?

Dan jawaban-jawaban itulah tips yang mereka perlukan sendiri. Saya pun tak perlu repot-repot mengajari sesuatu yang saya sendiri tak punya pengalaman. Hehehe…

Di titik ini, saya pun merenung panjang, dan menyadari bahwa menjadi atasan yang baik, sejatinya adalah menjadi bawahan yang baik pula. Leadership and followership are two sides of the same coin. Sebab setinggi apapun jabatan formal seorang atasan, ia pasti bawahan dari seseorang. Bahkan seorang presiden direktur pun adalah bawahan dari komisaris. Dengan demikian, syarat bagi para bawahan yang ingin menjadi atasan adalah, menjadi bawahan yang baik. Ya, bagaimana mungkin seseorang diangkat menjadi seorang manajer, jika kala menjadi staf kerjanya tak becus?

Maka ingatan saya pun melayang pada sebuah nasihat yang pernah saya dengar dari seorang guru. “Cara terbaik bagi seorang bawahan yang tak menyukai atasannya, adalah dengan mendukung sang atasan dengan performa terbaik.”

Loh, kok?

Ya, sebab kalau seorang bawahan benci pada atasannya, lalu menjelek-jelekkan di depan orang lain, plus memperburuk kinerjanya, bagaimana mungkin sang atasan dipindahkan? Alih-alih, ia akan dipertahankan di tempat itu dalam waktu yang tak tentu. Sebaliknya, jika sang bawahan berprestasi, nama sang atasan akan turut harum, dan karenanya memiliki peluang untuk dipromosi atau bahkan ditawari posisi yang lebih baik di perusahaan lain. Kalaupun belum ada tawaran, sang bawahan boleh memprovikasi, “Bos, bos kan berprestasi. Saya bantuin ya cari posisi yang lebih tinggi di perusahaan lain.” Hehehe…