Coaching itu (Bukan) Percakapan Biasa

Coaching itu percakapan. Seorang coach yang mahir akan mampu mempraktikkan coaching sehingga seolah-olah ia adalah percakapan biasa. Namun sejatinya di dalam percakapan itu terjadi proses perubahan yang sangat halus. Serupa pengalaman saya ketika pertama kali melihat ayah saya memalu paku ke sebuah papan. Tampak ringan dan mudah. Begitu saya coba sendiri, hampir-hampir jemari saya pipih dibuatnya. Hehe..

Lalu, kapan sebuah percakapan dianggap sebagai coaching?

(more…)

Balada ‘Jangan’ dan ‘Mengapa’

Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak orang berduyun-duyun untuk menghindari penggunaan kata jangan dan sejenisnya.

Dulu, saya sempat amat meyakini hal ini. Sampai pada satu waktu sebuah pertanyaan pun muncul dalam diri: masak sih kata jangan tidak bisa digunakan? Kalau kata jangan dan semisalnya tidak bermanfaat, mengapa ia ada? Bukankah setiap kata memiliki fungsi masing-masing?

(more…)

Sertifikasi dari Mana?

Salah satu pertanyaan yang kerap saya terima terkait dengan NLP Coach Certification yang diadakan oleh Indonesia NLP Society adalah, “Sertifikasinya dari mana, Mas?” Sebuah pertanyaan yang amat khas beberapa tahun belakangan, semenjak maraknya berbagai program pelatihan bertajuk ‘sertifikasi’. Saya sendiri pun pernah mengalami masa ketika saya pun berprofesi sampingan sebagai ‘pemburu’ sertifikat. Alhamdulillah, saya segera insyaf. Hehe..

Tak ada yang salah dengan memburu sertifikat. Begitu pula bertanya tentang asal muasal sertifikasinya. Sebab asal sertifikat memang bisa jadi salah satu tolok ukur kualitas. Salah satu, masih ada yang lain.

(more…)

Bagaimana kah Cara Belajar Coaching?

Sejak saya memulai menulis tentang coaching, beberapa kawan mulai mengirim email berisi pertanyaan yang kurang lebih senada, “Bagaimana kita bisa menjadi seorang coach?”

Sekalian deh, saya buat sebuah artikel ya. Moga manfaat untuk semua.

Yang akan saya bahas adalah apa yang kita perlukan untuk menjadi seorang professional coach, alias coach yang memang menjalankan praktik secara profesional. Sebab ada pula rekan yang mungkin ingin belajar coaching namun tidak ingin praktik profesional, melainkan hanya untuk melengkapi keterampilan yang lain. Ada juga kawan yang tertarik belajar coaching untuk dipraktikkan dalam tugasnya di perusahaan.

(more…)

Mengapa Coaching akan Masih Terus Meningkat Kebutuhannya?

Saya meyakini bahwa pasar coaching di Indonesia—dan dunia—baru dimulai. Belum mencapai titik stabil, apalagi titik jenuh.

Alasannya?

  1. Bertumbuh adalah kebutuhan alamiah setiap manusia. Pilihannya adalah bertumbuh, atau mati. Csikszenmihalyi dalam karyanya, Flow, menguraikan bahwa tak membutuhkan waktu lama untuk seseorang menjadi bosan setelah terampil melakukan sesuatu. Kebosanan menjadikan seseorang sulit mengalami kondisi ‘larut’, dan lama kelamaan mematikan potensinya. Untuk terus bertumbuh, kita memerlukan tantangan atau masalah. Nah, tantangan sekaligus masalahnya, ketika terdapat tantangan baru, kita memerlukan keterampilan baru. Ini menimbulkan ketidaknyamanan, yang jika tak (more…)