Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

Niat, ibarat pendaftaran. Sebelum kita berlomba, kita harus mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba itu. Baru lah setelah itu kita bisa menang atau kalah. Tanpa pendaftaran, kita dilarang untuk ikut berlomba, tidak mendapatkan fasilitas yang sama seperti peserta lain. Pun jika kita memaksakan untuk ikut, misalnya, tidak mungkin mendapat hadiah meski menang.

Maka niat sungguh teramat penting, sebab ia menentukan diperhitungkan atau tidaknya tiap perbuatan kita. Tanpa niat yang lurus, meski kerja keras telah ditunaikan, balasannya hanya kesia-siaan.

Mari berhenti sejenak di sini. Merenungi apa yang terjadi belakangan ini. Banyak insan menjadi pimpinan, dengan beragam niatan. Posisi pimpinan, kerap menjadi semacam kerja biasa. Padahal meski memang ada kontrak sebagai seorang manajer, misalnya, urusan kita tidak hanya dengan perusahaan, melainkan dengan Sang Pemilik takdir yang telah menggariskan.

Apa niatmu memimpin, wahai diri? Adakah ia semata mengejar karir? Adakah uang dan fasilitas mewah yang dikehendaki? Adakah pujian dan sanjungan tetangga atau mertua yang hitungan detik kan berlalu?

Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

Sungguh sah menginginkan kepemimpinan sebab dunia. Namun ingatlah, hanya itu yang kan jadi balasan. Padahal tiap detik bagi pemimpin adalah pertaruhan, sebab ia bertanggung jawab atas tiap keputusan. Pada diri pemimpin ada keteladanan, yang kan diikuti oleh tiap bawahan. Pada pundak pemimpin terpanggul beban, akan kehalalan tiap yang diusahakan.

Pemimpin buruk, memberi contoh buruk, menjadikan bawahan berperilaku buruk, yang diikuti lagi oleh keluarganya yang berpotensi pula menjadi buruk. Pemimpin baik, menjadi teladan kebaikan, mendorong bawahan bekerja dengan keikhlasan, hingga membawa pulang keberkahan.

Maka perhatikanlah niat, wahai para pemimpin. Kemewahan dan fasilitas itu, jika pun ada, adalah alat untuk memproduksi kebaikan. Ia bukan tujuan. Sebab jika dijadikan tujuan, merugi lah diri, yang hanya mendapat sesedikit itu. Namun jika Allah jadi tujuan, energi besar tersedia, tiap usaha terhitung amalan, setitik hasil jadi keberkahan.

Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

Sebab niat mengarahkan perhatian. Dan energi mengalir, kemana perhatian diarahkan. Perhatian yang sempit, buntu kala mencari jalan keluar, bisa jadi sebab niat yang hanya dipasang pada apa-apa yang remeh. Maka jika perhatian yang luas yang diharapkan, pasanglah niat pada Yang Menguasai seluruh alam. Yang Menggenggam tiap jiwa. Yang Memperhitungkan tiap amalan.