Selalu ada yang baru di NLP Essentials. Ya, belajar NLP itu dasarnya ya itu-itu saja. Tapi karena NLP itu ilmu struktur, dan kita lah yang mengisinya, maka meski struktur yang digunakan sama, hasil yang dilahirkan bisa teramat berbeda. Yang namanya penggorengan dari dulu sampai sekarang, mahal maupun murah, bentuknya kurang lebih sama. Namun apa yang dimasak di dalamnya, bisa melahirkan hasil yang berbeda-beda.

Begitu pun dengan kelas NLP Essentials Modul 1 – Personal Excellence yang baru pertama kali diadakan di Surabaya ini. Dalam sesi diskusi setelah latihan, ada pertanyaan yang baru pernah ditanyakan, setelah sekian batch berjalan. Bahkan mungkin sejak saya mulai berbagi tentang NLP di tahun 2007.

Begini ceritanya.

Jadi awalnya, saya berkeliling mengecek latihan yang dilakukan peserta saat melakukan proses submodality editing. Saya dapati ada peserta yang kurang pas ambil state untuk diubah. Misalnya, dia malas membereskan rumah. Lalu state yang ingin diubah adalah menurunkan malas.

Nah, kok rasanya ada yg aneh. Karena malas kalau diturunkan, lalu akan jadi apa?

Maka saya pun menyarankan untuk justru menaikkan semangat. Karena malas sejatinya adalah ketiadaan semangat. Seperti gelap adalah ketiadaan cahaya. Menghilangkan gelap bukan dengan menurunkan gelap atau mengurangi gelap. Tapi dengan menambah cahaya.

Nah, keseruan pun berlanjut. Peserta lain lalu menanyakan sebuah pertanyaan yang saya belum pernah memikirkan sebelumnya.

“Lalu jenis state apa saja yang sifatnya ketiadaan state lain, dan apa saja yang bisa dinaik-turunkan langsung tanpa mengisi dengan yang sebaliknya?”

Beberapa saat berpikir, muncullah sebuah pemahaman baru. Bahwa nama state itu kan sejatinya hanya label. Senang, sedih, semangat, lesu. Nominalisasi, kalau kita pinjam istilah dalam Meta Model.

Apa riilnya yg ada di diri kita?

Ya ‘cuma’ sensasi. Secara submodalitas kinestetik ya ‘hanya’ gerakan, suhu, dll.

Nah, sensasi ini kan ada yang jenisnya berupa intensitas naik dan ada yang turun. Semangat itu jenisnya naik. Malas itu jenisnya turun. Jadi ketika ingin menghilangkan malas, ya ada yg perlu dinaikkan. Malas tidak bisa diturunkan, karena malas itu sendiri sudah turun.

Sebagaimana state rileks. Kalau kita ingin rileks dan menghilangkan insomnia, kita tidak bisa meningkatkan rileks karena rileks itu jenis state yang intensitasnya menurun. Maka state rileks bisa dicapai dengan menurunkan konsentrasi, misalnya. Menurunkan ketegangan. Melepaskan pikiran. Dan seterusnya.

Demikian. Semoga manfaat ya.