Kemarin kita sudah sama-sama mengekslporasi berbagai manfaat memelajari NLP. Sekarang kita akan mulai masuk ke dalam NLP. Kita akan awali dengan menyepakati terlebih dulu apa yang dimaksud dengan NLP. Kita perlu mendefinisikan NLP agar saat memelajarinya nanti kita punya pegangan yang jelas tentang disiplin ilmu yang satu ini.

Untuk mendefinisikan NLP, kita bisa lakukan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan mengutip definisi dari para foundernya. Sementara pendekatan kedua adalah dengan mendefinisikan kata per kata penyusunnya lalu memadukannya.

Richard Bandler, salah satu founder NLP, mendefinisikan NLP sebagai “the study of the structure of subjective experience” – NLP adalah kajian tentang struktur pengalaman subyektif. Artinya NLP banyak memelajari pengalaman subyektif seseorang (baca: pikiran). NLP juga meyakini bahwa pengalaman subyektif seseorang memiliki struktur. Karena pikiran memiliki struktur maka kita dapat membongkar, membentuk, dan memodifikasinya.

Sementara itu, John Grinder, mitra dari Richard Bandler mendefinisikan NLP sebagai “an accelerated learning strategy for the detection and utilization of patterns in the world“ – NLP adalah strategi pembelajaran yang dipercepat untuk mendeteksi dan memanfaatkan pola-pola di dunia. Definisi ini menyiratkan bahwa dunia ini penuh dengan pola. Manusia misalnya, memiliki pola tertentu saat berpikir, merasa, dan bertindak. Pola setiap orang tentu saja unik. NLP membantu kita mengenali pola-pola ini dan memanfaatkannya (tambahan: untuk kebaikan yang lebih besar. Seperti kata pamannya Spidey, “remember, with great power comes great responsibility”).

Sekarang, mari kita lihat NLP dari kata per kata penyusunnya.

NLP terdiri dari tiga kata: Neuro, Linguistic, dan Programming.

Neuro bila dapat diterjemahkan sebagai sistem saraf. Sistem saraf adalah penghubung antara indera dengan otak kita. Dia berfungsi menerima, mengolah dan merespon informasi dari luar diri kita. Fungsi ini serupa dengan fungsi pikiran. Maka untuk kepentingan praktis, kita dapat sederhanakan neuro sebagai pikiran.

Linguistic adalah ilmu tentang bahasa. Ilmu yang mengkaji tentang bahasa. Manusia menggunakan bahasa untuk mengodifikasi pengalaman yang diserap oleh indera. Manusia juga menggunakan bahasa untuk mengomunikasikannya ke pihak lain. Bahasa yang dimaksud di sini tidak terbatas pada kata-kata, termasuk juga bahasa non kata seperti gambar, suara, dan rasa.

Dalam konsep NLP, pikiran dan bahasa kita saling terkait. Pikiran memengaruhi bahasa. Kita dapat melihat kondisi pikiran seseorang dari bahasa yang ia keluarkan. Kita dengan mudah menandai seseorang gila atau tidak, dari bahasanya bukan?

Sebaliknya, bahasa pun memengaruhi pikiran. Misalnya, saat kita mendengar kata “kuda” kita langsung memahami maksudnya, karena pikiran kita langsung memproses kata “kuda” dengan memunculkan memori tentang kuda di dalam pikiran kita. Entah dalam bentuk bayangan/gambar kuda atau suaranya.

Programming adalah proses mengatur dan menyusun untuk mendapatkan hasil tertentu. Programming terkait dengan urut-urutan. Dalam programming, urutan yang berbeda akan menciptakan hasil yang berbeda. Maka, jika dikaitkan dengan dua kata sebelumnya (neuro dan linguistic), kita dapat menyimpulkan bahwa urutan berpikir yang berbeda akan menghasilkan perasaan/perilaku yang berbeda. Kita juga dengan mudah akan menyimpulkan bahwa urutan bahasa yang berbeda akan menghasilkan dampak yang berbeda. Contoh sederhananya adalah urutan kata. Kalimat yang konten kata-nya sama, akan bermakna berbeda bila susunannya berbeda. Misalnya:

“Aji digigit anjing”

Pada saat Anda membaca kalimat ini, apa yang terpikir/terbayang dalam benak Anda? Lalu apa rasa yang muncul?

Sekarang, bila susunan kalimatnya saya ubah:

“Anjing digigit Aji”

Apakah Anda masih memikirkan/membayangkan hal yang sama dalam benak Anda? Apakah rasanya sama? Saya yakin jauh berbeda hehehe

Dalam konteks NLP, kata programming menyiratkan bahwa manusia memiliki program-program (urutan pikiran dan bahasa) yang menghasilkan perasaan dan perilaku tertentu di dalam dirinya. Program-program ini ada yang memberdayakan, ada pula yang tidak memberdayakan. Ada program malas, ada program rajin. Ada program sedih, ada program bahagia. Ada program rendah diri, ada program percaya diri. Menariknya, karena kita menganalogikannya dengan program (baca: aplikasi), maka kita punya kendali untuk mengotak-atiknya. Kita bisa meng-uninstall program yang tidak memberdayakan, dan meng-install program yang memberdayakan. Inilah salah satu potensi yang dapat kita manfaatkan setelah nanti kita menguasai NLP. Menarik bukan?

 

P.S. Jadi apa itu NLP? Saya mendefinisikan NLP sebagai ilmu tentang bagaimana menyusun dan mengatur pikiran serta bahasa untuk mencapai hasil yang kita inginkan. Cukup sederhana bukan?

%d bloggers like this: