Kemarin kita sudah belajar bahwa untuk mengubah hasil, kita perlu mengubah perilaku kita. Pertanyaannya, bagaimana kah cara mengubah perilaku? Bagaimana cara kita memunculkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang kita inginkan?

Jika kita menanyakan pertanyaan ini kepada para ahli, kita akan mendapatkan jawaban: motivasi. Orang tergerak melakukan tindakan jika mereka termotivasi untuk melakukannya. Motivasi ini terkait dengan emosi. Seperti kata Tony Robins, emotion create motion – emosi menciptakan pergerakan. Emosi itu terkait dengan rasa. Perilaku yang kita munculkan berbeda, jika kita sedang merasakan emosi yang berbeda. Coba Anda ingat-ingat seseorang yang Anda sering berinteraksi dengannya. Boleh pasangan, rekanan, teman atau siapapun. Sudah? Sekarang ingat-ingat perilaku Anda saat berhadapan dengannya. Bandingkan saat Anda merasa happy dengannya dengan saat Anda merasa kesal dengannya, apakah perilaku Anda sama? Jika Anda seperti sebagian besar orang, saya yakin jawabannya: berbeda. Ya, perilaku kita ‘dikendalikan’ oleh apa yang kita rasakan.

Perilaku saat Anda merasa malas berbeda dengan saat Anda merasa rajin bukan? Perilaku Anda saat Anda merasa senang berbeda dengan saat Anda merasa sedih bukan? Perilaku Anda saat merasa tenang berbeda dengan saat Anda merasa resah bukan? Perasaan mengendalikan perilaku.

Dalam terminologi NLP, perasaan diistilahkan dengan state of mind (dalam bahasa Inggris, mind bermakna pikiran dan perasaan bukan hanya pikiran). Biasanya kita cukup menyebutnya dengan state saja. Kemampuan mengelola state inilah salah satu kunci para peak performer. Para pebisnis, pembicara, pemimpin, atlit, artis, dan para peak performer lainnya secara disadari maupun tidak memiliki kemampuan untuk mengelola state dengan baik. Sehingga dia bisa mengatur mood-nya saat mau tampil di hadapan orang lain maupun saat menghadapi tantangan pelik. Mereka yang memiliki kemampuan mengelola state mampu melakukan tindakan yang diperlukan meski mereka sedang tidak mood untuk melakukannya. Mereka mampu ‘menaklukan’ rasa malas, dan perasaan-perasaan negatif lain yang berpotensi menghambat performanya saat itu. Nah, kemampuan mengelola state inilah salah satu kompetensi yang diharapkan mampu dikuasai setelah kita memelajari NLP. Bukankah menarik saat kita mampu mengelola state kita sehingga kita mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk mewujudkan hasil yang kita inginkan?

Mampu mengelola state berarti mampu mengelola perilaku. Mampu mengelola perilaku berarti mampu secara aktif memengaruhi hasil-hasil yang kita ciptakan. Pertanyaannya, bagaimanakah cara mengelola state kita? Agar mampu mengelola state, kita perlu menyadari hal-hal yang memengaruhi state kita. Apa-apa yang kita sadari akan mampu kita kelola, apa-apa yang tidak kita sadari tidak akan mampu kita kelola.

Dalam disiplin ilmu NLP, state itu dipengaruhi dua hal:

Pertama, pikiran. Apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita memikirkannya.

Kedua, fisiologi. Kondisi fisik kita: mulai dari postur, gerak,  sampai pola napas kita.

Mari kita lakukan percobaan sederhana:

Duduk yang nyaman, senyum semanis mungkin, lalu pikirkan satu pengalaman indah dalam hidup Anda. Munculkan gambarannya dalam benak Anda, buat gambarannya semakin berwarna dan semakin nyata. Nikmati rasa yang muncul sekarang….

Bagaimana perasaan Anda? Rasa apa yang muncul saat tersenyum (fisiologi) dan memikirkan pengalaman indah tersebut (pikiran)?

Secara umum orang merasa bahagia, senang, gembira…tergantung bagaimana kita melekatkan makna pada pengalaman indah tersebut.

Pikiran dan fisiologi mempengaruhi perasaan, kemudian perasaan akan memengaruhi perilaku kita. Maka, bila kita ingin mengubah perilaku kita, mulailah dengan mengubah perasaan kita terlebih dulu. Dan untuk mengubah perasaan kita, ubahlah pikiran dan fisiologi kita terlebih dulu.

Jadi, perilaku/tindakan apa yang ingin Anda lakukan untuk mewujudkan hasil-hasil yang Anda inginkan dan sampai saat ini belum Anda lakukan juga?

Menabung secara rutin?

Menulis secara rutin?

Menghubungi calon nasabah secara rutin?

Periksa perasaan Anda. Pada saat Anda memikirkan perilaku-perilaku tersebut apa yang Anda rasakan? Ragu? Malas? Takut? Khawatir? Jika ini yang Anda rasakan, bagaimana bisa Anda melakukannya? Lalu, perasaan apa yang seharusnya Anda rasakan agar Anda akhirnya benar-benar melakukannya? Dan agar perasaan yang diperlukan muncul, apa yang perlu Anda pikirkan? Bagaimana seharusnya Anda mengatur fisiologi Anda?

Di artikel berikutnya kita akan membahas hal ini secara lebih mendetail, insyaa Allah.

%d bloggers like this: