Di artikel kali ini saya akan membahas salah satu konsep penting dalam NLP yaitu asosiasi dan disosiasi. Makanan macam apakah ini? Dan apa manfaatnya?

Sebelum kita masuk ke bahasan, saya ingin Anda mengalami sesuatu terlebih dulu. Saya ingin Anda membayangkan diri Anda sedang duduk di roller coaster. Silakan pasang sabuk pengaman Anda. Sekarang, rasakan perlahan-lahan roller coaster yang Anda naiki mulai bergerak. Semakin cepat dan semakiiiiin cepaaaaat…wuzzzzzz…. Naik… turun…. Lalu berhenti. Agar lebih khusyu, Anda boleh membayangkannya sambil menutup mata.

Silakan ulangi latihan di atas agar Anda memahami penjelasan nanti. Apa yang Anda rasakan? Apakah jantung Anda berdetak lebih kencang saat membayangkannya?

Ini latihan pertama.

Sekarang, kita lakukan latihan berikutnya. Masih tentang membayangkan diri Anda naik roller coaster. Namun kini, bayangkan Anda melihat diri Anda di depan sana sedang naik roller coaster. Anda bisa melihat diri Anda memasang sabuk pengaman. Lalu Anda melihat roller coaster itu mulai bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat, naik… turun… lalu berhenti.

Pertanyaan sekarang, apakah Anda merasakan hal yang sama dengan latihan sebelumnya?

Biasanya tidak. Anda merasa biasa saja. Jantung Anda tidak berdetak lebih kencang seperti pengalaman pertama. Dalam NLP, pengalaman di latihan pertama diistilahkan dengan asosiasi, Anda mengalami dan melihat dari mata kepala Anda sendiri. Sementara pengalaman kedua diistilahkan dengan disosiasi, Anda melihat diri Anda sedang mengalami sesuatu.

Saat kita membayangkan/mengingat sesuatu, ada dua kemungkinan bentuk bayangan/ingatannya: asosiasi atau disosiasi. Konsep ini sederhana, namun banyak dari kita tidak mengenali sebelumnya.

Berikut saya beri gambaran lain agar kita lebih paham asosiasi dan disosiasi. Katakanlah kita membayangkan punya mobil mewah, kita dapat membayangkannya secara asosiasi atau disosiasi.

Asosiasi:

Disosiasi:

Kebayang bedanya?

Saat asosiasi, kita menyatu dengan pengalaman, kita sebagai pelaku. Sementara saat disosiasi, kita terpisah dengan pengalaman, kita sebagai pengamat.

Kita terasosiasi saat kita menyatu dengan pengalaman kita. Hadir utuh di sini saat ini. Larut dengan apa yang kita lakukan tanpa menyadari bergesernya waktu. Pikiran dan perasaan kita menyatu dengan tubuh kita, merasakan sensasi yang muncul di tubuh kita.

Asosiasi bermanfaat untuk:

  • Menikmati pengalaman menyenangkan/bahagia/positif.
  • Menikmati memori menyenangkan/bahagia/positif.
  • Melatih keterampilan.
  • Mengobrol dengan kawan.

Kita terdisosiasi saat kita terpisah dari pengalaman kita. Memikirkan pengalaman bukannya mengalami/merasakannya kembali. Kita melihat diri kita sedang melakukan sesuatu bukannya melihat dari mata kepala Anda sendiri. Kita menyadari waktu berlalu.

Disosiasi bermanfaat untuk:

  • Meninjau sebuah pengalaman.
  • Mengambil pelajaran dari masa lalu.
  • Mengevaluasi keterampilan.
  • Melepaskan “rasa sakit” dari pengalaman tidak menyenangkan.

Nah, menariknya kita bisa melatih asosiasi dan disosiasi, kita bisa melatih diri kita masuk dan keluar dari sebuah pengalaman.  Sayangnya, mode asosiasi/disosiasi kita terjadi tanpa kita sadari (unconscious). Untungnya, setelah kita memahami konsep ini kita bisa mengaturnya secara sadar. Kapan kita masuk (asosiasi) dan kapan kita keluar (disosiasi) dari pengalaman kita.

%d bloggers like this: