Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Bila kita ibaratkan pikiran sebagai film, maka submodalitas adalah “kualitas efek” dari filmnya. Kualitas efek gambar dan suara yang ada di sebuah film lah yang memengaruhi emosi kita saat menontonnya. Kita merasa takut saat menonton film horor karena efek visual dan audio yang ada di film tersebut. Coba bayangkan, bila Anda menonton film horor di bioskop dengan layar lebar dengan di televisi dengan layar hanya 14” apakah sama rasanya? Bandingkan kualitas suara surround di bioskop dengan suara dari speaker tv Anda, apakah rasa yang dihasilkan sama? Tentu saja berbeda. Kualitas efek audio visual sebuah film menentukan besar kecilnya perasaan yang kita rasakan. Demikian juga film di pikiran kita, struktur VAK di dalam pikiran kita memengaruhi emosi yang kita rasakan.

Apa yang terjadi bila kita mengalami sebuah hari yang buruk (dimarahi oleh boss misalnya) kemudian Anda merasa kesal. Lalu Anda berulang-ulang memutar kembali kejadiannya di dalam benak Anda dengan gambar yang jernih, berwarna, terang, besar dan suara yang jelas? Dapatkah Anda move on dari rasa kesal Anda? Atau Anda justru semakin membesarkan dan menghidupkannya? Lalu, apa yang mungkin terjadi bila Anda mengecilkan suaranya, mengecilkan gambarnya, memutar kejadiannya dengan gambar yang kabur dan hitam putih? Apakah ada kemungkinan rasa kesalnya mengecil atau bahkan menghilang? Dalam sebagian besar kasus, it’s work. Anda bisa mencobanya sekarang.

Hal yang memicu emosi kita bukanlah kejadian di luar kita. Hal yang memicu kita adalah kejadian yang kita putar di kepala kita. Kejadian apapun di luar kita sebenarnya netral, kitalah yang melabelinya dengan baik atau buruk, positif atau negatif. Kita lah yang baper-an, suka menghubung-hubungkan kejadian di luar kita dengan perasaan tertentu.  Kita sendiri lah sebenarnya yang memicu rasa kesal dalam diri kita. Kita sendiri lah yang memicu rasa marah, senang, sedih dan berbagai rasa lainnya yang kita rasakan. Tidak ada seorang pun yang dapat memengaruhi perasaan kita sampai kita mengizinkannya.

Banyak orang menganggap emosi yang kita rasakan ini bersifat alamiah dan otomatis. Padahal menurut penelitian terbaru, emosi kita direkonstruksi oleh kita berdasarkan memori dan pengalaman kita. Kita lah yang menentukan ingin merasakan emosi apa. Inilah sebabnya, dua orang yang mengalami kejadian yang sama bisa saja merasakan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama-sama mendengar kalau tetangga sebelah membicarakan mereka di belakang, bisa saja merasakan pengalaman yang berbeda. Ada yang mungkin merasa kesal dan marah, sementara satu orang lainnya cuek saja, merasa baik-baik saja. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka memaknainya dengan cara yang berbeda. Si A kesal dan marah mungkin karena ia berpikir “beraninya bicara di belakang, dari dulu saya sudah kesel sama dia, memang saya punya salah apa?” Sementara si B cuek saja karena mungkin ia berpikir “alhamdulillah, ada yang peduli dengan saya. Mungkin Allah menampakkan kejadian ini karena Ia ingin saya memperbaiki diri.” Hasilnya berbeda bukan?

Bukan kejadian namun respon kita terhadap kejadian lah yang membuat hasil-hasil dalam hidup kita berbeda. Kita merasa susah, senang, kesal, marah, karena respon yang kita pilih dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar kita. Pertanyaannya, respon seperti apa yang akan Anda pilih untuk menghadapi kejadian yang Anda alami?

Memahami Struktur Pikiran (3)

Memahami Struktur Pikiran (3)

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa kita merekam pengalaman dalam bentuk gambar, suara dan rasa. Kita pun dapat menganalogikan proses berpikir kita dengan tayangan film. Semakin jelas gambar dan suaranya, semakin berasa efeknya.

Coba Anda bandingkan dua pengalaman. Pertama adalah pengalaman yang sangat berkesan (misal pengalaman menyenangkan, atau membanggakan – pengalaman yang melibatkan emosi Anda). Kedua adalah pengalaman yang biasa saja. Kita mulai dengan memunculkan pengalaman yang sangat berkesan terlebih dulu ya.

Munculkan pengalamannya, ingat-ingat peristiwanya. Sudah?

Sekarang, amati ingatan Anda. Apakah ada gambar yang muncul?

Perhatikan gambarnya, apakah gambarnya hidup seperti film atau diam seperti foto? Apakah gambarnya dekat atau jauh? Berwarna atau hitam putih? Ukurannya besar atau kecil? Gambarnya jelas atau kabur? Panoramik atau berbingkai?

Apakah ada suaranya? Volumenya besar atau kecil? Suaranya ada di sekeliling Anda (surround) atau hanya dari arah tertentu? Cepat atau lambat? Nadanya tinggi atau rendah?

Perhatikan apa yang Anda rasakan sekarang. Apakah muncul perasaan tertentu di tubuh Anda? Di bagian mana? Apakah perasaan tersebut bergerak atau diam? Jika bergerak gerakannya seperti apa? Naik turun, berputar-putar, ke depan belakang atau seperti apa? Jika berputar, putarannya ke arah kanan atau kiri?

Sudah? Anda boleh mencatat jawaban Anda di atas kertas. Jawaban Anda mungkin akan seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Film
  • Dekat
  • Berwarna
  • Besar
  • Jelas
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume sedang
  • Di sekeliling
  • Kecepatan sedang
  • Nada rendah

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Dada
  • Bergerak
  • Berputar ke kiri

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Kita break dulu sebentar. Hitung, 3 x 15 hasilnya berapa? (Ini namanya break state, fungsinya untuk mengubah dari satu kondisi pikiran ke kondisi pikiran lainnya).

Sekarang, pikirkan pengalaman yang biasa saja. Ingat-ingat peristiwanya. Tanyakan daftar pertanyaan yang sama seperti di atas. Kemudian tuliskan jawabannya di atas kertas.

Jawaban Anda mungkin seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Diam
  • Dekat
  • Berwarna
  • Sedang
  • Kabur
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume kecil
  • Selainnya tidak jelas

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Tidak ada rasa

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Bandingkan kedua jawaban Anda. Apakah jawabannya sama persis? Atau ada yang berbeda? Dalam sebagian besar kasus, jawabannya pasti ada yang berbeda. Ada yang perbedaannya sangat kontras, ada yang perbedaannya tipis (hanya pada satu dua sub elemen dari masing-masing modalitas).

Dari latihan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pikiran terdiri dari beberapa modalitas (VAK-OG). Masing-masing modalitas memiliki sub elemen, misalnya modalitas visual sub elemennya bisa saja: bergerak atau diam, jauh atau dekat, berwarna atau hitam putih dsb. Sub elemen dari sebuah modalitas kita istilahkan dengan submodalitas di dalam NLP.

Sehingga kita dapat mengatakan, pengalaman memiliki struktur. Strukturnya adalah modalitas dan submodalitas. Menariknya, ternyata struktur pengalaman kita memengaruhi apa yang kita rasakan. Struktur pengalaman di dalam pikiran kita memengaruhi perasaan kita.

Memahami Struktur Pikiran (2)

Memahami Struktur Pikiran (2)

Kemarin kita sudah belajar bahwa pikiran kita terdiri dari gambar, suara, sensasi, bau, dan rasa (VAKOG). Ini terjadi karena kita menyerap informasi menggunakan kelima indera kita:

  • Penglihatan,
  • Pendengaran,
  • Perabaan/sentuhan,
  • Penciuman,
  • Pengecapan.

Kita melihat sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk gambar. Kita mendengar sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk suara. Kita menyentuh sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk sensasi rasa. Kita mencium sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk bau. Kita mengecap sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk rasa.

Menariknya, otak kita tidak menyimpan pengalaman seperti kamera. Otak tidak menyimpan gambar persis seperti apa yang kita lihat. Otak tidak menyimpan suara persis seperti apa yang kita dengar. Otak tidak menyimpan sensasi rasa persis seperti apa yang kita sentuh. Otak kita mengolah terlebih dulu informasi berupa gambar, suara, atau rasa tersebut. Kemudian menyimpannya dalam bentuk kepingan-kepingan puzzle, bukan dalam bentuk puzzle yang tersusun utuh. Pada saat kita mengingat, yang kita lakukan adalah mengonstruksi ulang kepingan-kepingan puzzle tersebut.

Masalahnya, saat merekonstruksi ulang, sering kali kita tidak menemukan kepingan puzzle yang kita perlukan. Mengapa? Karena bisa jadi tidak semua puzzle-nya kita simpan, kita hanya menyimpan kepingan puzzle yang kita anggap penting dan berharga. Itulah sebabnya, kita dapat menyimpulkan dan memahami ceramah 30 menit yang kita dengar namun kita tidak dapat mengingat kata demi katanya satu per satu setiap menitnya.

Lucunya lagi, kita juga seringkali mengisi puzzle yang hilang dengan puzzle lain yang sudah kita miliki sebelumnya. Misalnya, kita menghubungkan pengalaman yang kita alami dengan pengalaman sebelumnya. Kadang kala, kita pun secara sengaja atau tidak sengaja menciptakan puzzle baru hasil khayalan/imajinasi kita, tujuannya agar puzzle lama terlihat lebih utuh.

Kita pun sering kali mencari kesamaan antara puzzle yang sekarang dengan puzzle yang sebelumnya. Mencoba menemukan pola yang mirip. Ini terjadi karena otak kita pada dasarnya malas dan ingin menghemat energi. Misalnya, kita mencari-cari kesamaan antara orang yang baru kita kenal dengan database kenalan lama kita. Kita pun suka menyimpulkan sesuatu tergesa-gesa padahal kita baru mendapatkan informasinya secara sekilas.

Ketiga proses ini adalah cara otak mengolah informasi dari indera.

  • Otak menghapus sebagian informasi yang dianggap tidak relevan (deletion).
  • Otak menghubung-hubungkan sebuah informasi dengan informasi lainnya – entah informasi yang bersifat fakta maupun fiksi (distortion).
  • Otak menyimpulkan informasi berdasarkan informasi yang kita miliki sebelumnya (generalization).

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa otak tidak menyimpan pengalaman apa adanya. Apa yang kita pikirkan tentang kenyataan bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Pikiran hanya mewakili kenyataan secara terbatas. Pikiran hanya berusaha merepresentasikan kenyataan, namun dia bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Bila kenyataan adalah sebuah wilayah yang sebenarnya, pikiran kita hanyalah peta yang mewakilinya.

Memahami Struktur Pikiran (1)

Memahami Struktur Pikiran (1)

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pikiran? Apa riilnya? Kalau kita lihat kamus, kita akan mendapatkan definisi sebagai berikut:

pikiran/pi·kir·an/ n 1 hasil berpikir (memikirkan); 2 akal; ingatan; 3 akal (dalam arti daya upaya); 4 angan-angan; gagasan; 5 niat; maksud.

Sementara berpikir memiliki definisi:

berpikir/ber·pi·kir/ v menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.

Jadi, pikiran ini masuk dalam kategori kata benda. Namun, apakah bendanya secara riil ada? Apakah bendanya secara fisik ada? Tidak ada. Sama seperti kata pembicaraaan, kata ini masuk dalam kata benda namun bendanya “tidak ada”. Karena pembicaraan adalah pembendaan (nominalisasi) dari proses berbicara. Prosesnya ada, namun bendanya tidak ada. Pikiran pun sama. Pikiran adalah nominalisasi dari proses berpikir. Hasilnya dan benda untuk melakukan proses berpikir kita namakan pikiran.

Sama seperti pikiran sadar dan tak sadar (bawah sadar), apakah riilnya ada? Tidak ada. Kedua istilah tersebut hanyalah model untuk memudahkan kita memahami proses berpikir. Proses berpikir ada yang kita sadari dan ada yang tidak kita sadari. Pikiran-pikiran yang kita sadari kita sebut dengan pikiran sadar, sementara yang tidak kita sadari kita sebut dengan pikiran tak sadar (atau bawah sadar).

Maka, untuk memahami pikiran, kita perlu memperhatikan prosesnya, bukan pada bendanya. Pada saat kita mengatakan saya sedang memikirkan sesuatu? Apa sebenarnya yang kita lakukan di dalam benak kita? Proses seperti apa yang terjadi dalam diri kita? Mari kita lakukan sedikit eksperimen.

Pikirkan makanan yang Anda suka. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah Anda melihat gambarnya di dalam benak Anda? Anda membayangkannya?

Apakah Anda memunculkan aromanya di dalam ingatan Anda?

Apakah Anda mengingat rasanya di lidah Anda?

Perhatikan, ternyata pikiran muncul dalam bentuk gambar, bau atau rasa.

Sekarang pikirkan salah satu teman SMA Anda. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah ada gambar wajah teman Anda dalam pikiran Anda?

Apakah ada suaranya?

Apakah Anda ingat baunya?

Perhatikan lagi, pikiran muncul dalam bentuk gambar, suara, atau bau.

Dari eksperimen sederhana ini kita dapat simpulkan bahwa kita berpikir dengan memunculkan gambar, suara, rasa (sentuhan), bau, dan rasa (pengecapan).

Entah kita mengingat sesuatu, atau memikirkan sesuatu yang belum terjadi, kita menggunakan salah satu dari lima modalitas di atas.

  • Modalitas Visual – gambar,
  • Modalitas Auditori – suara,
  • Modalitas Kinestetik – rasa (sentuhan),
  • Modalitas Olfaktori – bau,
  • Modalitas Gustatori – rasa (pengecapan).

Kita menyingkatnya dengan VAKOG – Visual, Auditori, Kinestetik, Olfaktori dan Gustatori.

Pada saat mengingat atau memikirkan sesuatu, kita menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa modalitas di atas. Misalnya, pada saat Anda mengingat buku yang pernah Anda baca, bisa jadi Anda mengingatnya dengan cara memunculkan gambarnya (V) atau memunculkan suaranya (A). Demikian juga saat ada pikiran yang mengganggu, pikiran tersebut bisa jadi berbentuk:

  • Tayangan film (V),
  • Gambar yang terbayang (V),
  • Suara yang terngiang-ngiang (A),
  • Self-talk – kita berbicara dengan diri sendiri (A),
  • Rasa nyeri, tertekan di dada atau rasa lainnya (K).

Nah, dengan memahami struktur dari pikiran ini nantinya kita akan mampu untuk mengelolanya. Bagaimana caranya? Simak saja artikel-artikel berikutnya.

Cara Kerja Pikiran (3)

Cara Kerja Pikiran (3)

Di artikel yang lalu kita sudah belajar perilaku dipengaruhi oleh perasaan. Maka, saat kita ingin mendorong diri untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang kita inginkan, tanyakan kepada diri sendiri:

“Agar aku mau melakukan perilaku ini, aku perlu merasakan apa dulu?”

“Perasaan apa yang perlu aku rasakan agar aku akhirnya terdorong untuk melakukan perilaku ini sekarang juga?”

Sebaliknya, saat kita tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan, kita pun perlu menandai perasaan kita. Ajukan pertanyaan:

“Apa yang aku rasakan saat aku mau melakukan hal ini sehingga akhirnya aku tidak melakukannya?”

“Perasaan apa yang muncul sehingga aku menunda-nunda melakukan hal ini?”

Setelah Anda menandainya, barulah Anda ajukan dua pertanyaan sebelumnya.

Lalu, setelah kita mengidentifikasi perasaan yang diperlukan, bagaimana cara mengaksesnya? Setelah mengidentifikasi perasaan yang menghambat, bagaimana cara mengubahnya? Kemarin kita sudah belajar bahwa perasaan dipengaruhi oleh pikiran. Maka, saat sebuah perasaan muncul, kita perlu menyadari apa yang kita pikirkan. Kita perlu menyadari pikiran-pikiran yang melintas yang memicu perasaan tersebut. Pikiran-pikiran ini muncul sekilas dan selintas. Maka, untuk kita perlu masuk ke dalam diri untuk menyadari lintasan-lintasan pikiran ini. Sadari secara penuh suara-suara yang muncul di dalam diri ketika perasaan tersebut muncul.

Misal, pada saat Anda menunda-nunda untuk mengerjakan sebuah tugas. Sadari pikiran yang memicunya. Bisa jadi pikiran yang muncul adalah “ah, masih ada waktu, besok juga masih bisa.” Saat pikiran ini yang muncul, diputar berulang-ulang dalam benak kita, maka kita tidak akan dapat segera memulai pengerjaan tugas tersebut. Kita akan menunda-nundanya. Atau misalnya saat Anda berniat berolahraga pagi, lalu pada saat seharusnya berolahraga, muncul rasa malas. Sadari pikiran yang memicunya. Bisa jadi pikiran yang muncul adalah “masih pagi, nanti sore saja lah. Lagian siang nanti ketemu klien, kalau pagi ini terlalu lelah nanti malah nggak optimal ketemu kliennya.” Selama suara ini yang kita putar dalam pikiran kita, rencana olahraga tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.

Maka, Anda perlu tanyakan ke diri sendiri: “Apa yang perlu aku pikirkan saat ini agar aku bersegera mengerjakan tugas ini sekarang?” “Apa yang perlu aku pikirkan saat ini agar aku bersemangat untuk berolahraga pagi ini?” Jawabannya tentu saja berbeda-beda pada setiap orang. Sebagian mungkin akan menjawab:

“Jika tidak aku kerjakan sekarang, aku tidak akan punya waktu untuk membaca novel besok”

“Jika aku tidak mengerjakannya sekarang, aku tidak akan sempat mengedit laporan yang perlu aku sajikan lusa”

“Aku memilih untuk mengerjakan tugas ini sekarang karena aku adalah orang yang disiplin”

“Aku akan berolahraga sekarang juga karena kesehatan itu sangat sangat penting untuk dijaga”

“Jika aku menunda hal-hal kecil seperti ini, aku akan menunda hal-hal besar yang mungkin datang kepadaku”

Apapun jawabannya, pilihlah pikiran yang membuat Anda terdorong untuk melakukan apa yang perlu Anda lakukan.