Mind to Muscle: Bagaimana Menjembatani Wacana dan Tindakan

Mind to Muscle: Bagaimana Menjembatani Wacana dan Tindakan

Jeffrey Pfeffer dan Robert Sutton menulis sebuah buku menarik berjudul The Knowing-Doing Gap. Mereka ‘mempertanyakan’ mengapa begitu banyak pelatihan, pendampingan, buku dan kursus hanya menghasilkan sedikit perubahan dalam organisasi (dan seseorang)? Jawabannya adalah adanya kesenjangan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan (knowing-doing gap). Banyaknya pengetahuan dan luasnya ilmu seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang mereka dapatkan. Mengapa? Karena tidak semua orang menerapkan dan melakukan apa yang sudah mereka sudah ketahui.

Coba kita cek, ada berapa banyak buku yang membahas tentang prinsip menjadi kaya? Banyak. Ada berapa banyak yang sudah membaca? Banyak. Berapa banyak yang akhirnya benar-benar kaya? Sedikit. Mengapa? Karena mereka hanya ‘mengumpulkan’ pengetahuan dan tidak mengubahnya menjadi tindakan. Ada berapa banyak pelatihan yang membahas tentang strategi mendongkrak penjualan? Banyak. Berapa banyak yang sudah mengikutinya? Banyak. Berapa banyak yang akhirnya benar-benar terdongkrak penjualannya? Sedikit. Alasannya sama, tidak semua orang melakukan apa yang sudah mereka ketahui. Berapa banyak yang paham bahwa olahraga teratur itu baik bagi kesehatan? Banyak, bahkan mungkin sebagian besar orang berpikir demikian. Berapa banyak yang benar-benar berolahraga secara teratur dalam hidupnya? Tidak banyak. Berapa orang yang tahu bahwa kunci kekayaan adalah berinvestasi secara teratur? Banyak. Berapa banyak yang berinvestasi secara teratur? Sedikit.

Knowing-Doing Gap menghinggapi hampir sebagian besar orang. Kita tahu apa yang perlu kita lakukan, namun kita tak kunjung melakukannya juga. Saya pun sama. Sejak lima tahun lalu saya tahu bahwa untuk menghasilkan buku saya perlu menulis secara teratur. Namun saya baru melakukannya setahun terakhir. Sejak lima belas tahun yang lalu saya tahu bahwa untuk kaya saya perlu berinvestasi secara teratur. Namun saya baru melakukannya lima tahun terakhir. Pertanyaannya, apa yang membedakan lima tahun yang lalu dengan sekarang? Apa yang membedakan sebelum kita melakukan dengan saat kita akhirnya benar-benar melakukannya? Selidik punya selidik ternyata sebuah ide (baca: pemikiran, pengetahuan, konsep, rencana) akan dilakukan bila ia sudah menyatu dengan darah dan daging kita , tidak hanya bertengger di pikiran kita. Coba cek ke diri Anda, apakah saat Anda memikirkan ide Anda rasanya terasa sampai ke tubuh Anda? Bila belum, bisa jadi ide tersebut baru sekadar ‘wacana’ dalam benak Anda.
Mengubah sebuah ‘wacana’ menjadi tindakan nyata memerlukan proses pendarahdagingan. Awalnya wacana ini hanya berkeliaran di pikiran Anda, Anda perlu meresapinya hingga wacana ini menjadi sebuah keyakinan yang kuat dalam diri Anda. Lalu, Anda perlu meyakini keyakinan Anda seyakin-yakinnya dan mengkristalisasinya menjadi sebuah niat yang bulat . Saat niat Anda bulat, emosi Anda akan terlibat, Anda akan merasakan tarikan-dorongan untuk mewujudkan niat Anda. Saat ini terjadi, Anda pun akhirnya benar-benar bertindak. Anda akhirnya berhasil mengubah sebuah wacana menjadi tindakan nyata.

Beruntung akhirnya saya menemukan proses ini diformalisasi menjadi sebuat teknik yang aplikatif. Tekniknya bernama Mind to Muscle. Dikembangkan oleh Michael Hall, salah satu developer aktif NLP dan founder dari Neurosemantic. Teknik Mind to Muscle ini sangat membantu kita untuk mendarahdagingkan sebuah ide, mengubah sebuah wacana menjadi tindakan nyata. Bagaimana tekniknya? Kita bedah di artikel besok ya, insyaallah.

Circle of Excellence

Circle of Excellence

Circle of Excellence adalah sebuah teknik NLP yang didevelop oleh Dr. John Grinder. Teknik ini bermanfaat untuk mengakses state yang diperlukan untuk melakukan sebuah perilaku tertentu. Misalnya, Anda grogi saat harus berbicara di depan jajaran direksi. Maka, Anda bisa mengakses state lain yang diperlukan supaya Anda mampu berbicara dengan baik di depan direksi. Anda bisa saja mengakses state percaya diri dan tenang, misalnya. Bagaimana tekniknya? Mari kita simak langkah demi langkah untuk melakukan teknik Circle of Excellence ini.

Pertama, identifikasi pemicu dari state yang tidak memberdayakan.

Misalnya dalam kasus di atas, apa tepatnya yang memicu state grogi? Sadari pikiran yang muncul dalam benak Anda. Misalnya, pemicunya adalah bayangan jajaran direksi yang menatap ke Anda, ini artinya pemicu dari state tersebut bersifat visual. Silakan Anda tes, bayangkan gambar tersebut kembali, apakah state groginya muncul? Jika iya, berarti benar itu adalah pemicunya. Dengan kata lain, ini adalah anchor negatif Anda. Perhatikan, pemicu tidak selalu berupa gambar, bisa suara, sensasi, bau atau rasa tertentu (VAKOG). Setelah Anda menemukan pemicunya, untuk sementara simpan kembali pemicu tersebut. Singkirkan dari benak Anda.

Kedua, ciptakan lingkaran imajiner.

Ciptakan lingkarang imajiner pada lantai di depan Anda, Anda juga boleh menggambarkannya di lantai dengan kapur. Bebaskan diri Anda menentukan besar dan warna lingkaran tersebut.

Ketiga, akses state yang Anda inginkan.

State apa yang ingin Anda munculkan? Percaya diri dan tenang? Sekarang akses state yang Anda inginkan satu per satu. Mulailah dengan mengingat kembali saat Anda merasakan state percaya diri. Apa yang Anda lihat, dengar dan rasakan? Saat state percaya dirinya mulai terasa memuncak, masuklah ke dalam lingkaran tersebut. Asosiasikan diri Anda dengan state percaya diri yang muncul. Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan. Saat state tersebut mulai melemah, keluarlah dari lingkaran. Pastikan Anda berada di dalam lingkaran hanya ketika state Anda berada di puncaknya. Ulangi langkah ini beberapa kali bila diperlukan.

Keempat, akses state lainnya.

Sekarang, munculkan state lain yang ingin Anda akses. Dalam contoh di atas misalnya adalah state tenang. Ingat kembali rasa tenang yang pernah Anda rasakan. Saat ketenangannya muncul, masuklah ke dalam lingkaran. Keluarlah dari lingkaran ketika rasa tenangnya mulai menghilang.

Kelima, uji lingkaran keunggulan Anda.

Dari state yang netral, masuklah ke dalam lingkaran. Jika Anda dapat merasakan state percaya diri dan tenang ketika Anda masuk ke dalam lingkaran artinya circle of excellence Anda sudah tercipta. Bila belum, ulangi kembali langkah ketiga dan keempat.

Keenam, gunakan lingkaran keunggulan Anda.

Akses kembali pemicu yang tidak memberdayakan (dalam contoh di atas bayangan jajaran direksi) sambil Anda masuk ke dalam lingkaran. Ulangi beberapa kali. Ini akan meruntuhkan anchor negatif yang Anda miliki sebelumnya.

Sampai sini mungkin Anda bisa menyimpulkan bahwa Circle of Excellence sebenarnya adalah salah satu turunan dari teknik Anchoring. Pada saat kita menggunakan anchor untuk meruntuhkan anchor sebelumnya, kita memberinya dengan istilah Collapsing Anchor.

Mengelola Mood dengan Anchoring

Mengelola Mood dengan Anchoring

Pernah mengalami kejadian seperti ini?

  • Anda melihat foto kenangan, otomatis pikiran Anda melayang ke masa lalu, dan merasakan kembali suasana saaat itu.
  • Anda mendengar sebuah lagu lama, otomatis pikiran Anda melayang ke masa lalu, dan merasakan kembali suasana saat itu.
  • Anda melihat bendera negara dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan, perasaan bangga dan cinta tanah air Anda pun muncul.
  • Anda mencium aroma tertentu, Anda otomatis ingat dengan tempat tertentu.

Dalam khasanah NLP, stimulus seperti foto, aroma, dan lagu tertentu di atas disebut dengan anchor (jangkar). Sehingga kita dapat definisikan anchor sebagai sebuah stimulus yang dapat memicu sebuat respons otomatis tertentu: entah pikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh-contoh di atas adalah anchor yang terbentuk secara tidak sengaja. Menariknya, kita pun dapat membuat anchor dengan sengaja untuk mengakses perasaan yang kita inginkan.

Proses yang terjadi saat terbentuknya anchor mirip dengan penelitian Dr. Pavlov (ilmuan Rusia) pada, maaf, anjing. Dr. Pavlov menyimpan anjing-anjing kelaparan dalam sebuah kandang. Lalu, mereka disuguhi daging untuk mereka makan. Melihat makanan tersedia, anjing-anjing itu pun mengeluarkan air liur – pada saat itulah bel dibunyikan. Demikian proses pengkondisian dilakukan berulang-ulang: setiap kali daging muncul dan air liur anjing keluar, bel dibunyikan. Proses ini diulang beberapa kali. Sampai akhirnya, anjing-anjing ini mengasosiasikan bunyi bel dengan daging/makanan. Setiap kali bel dibunyikan anjing-anjing yang diteliti Pavlov secara otomatis mengeluarkan air liur. Pengkondisian stimulus-respon pun sudah terjadi. Kesimpulan singkatnya, setelah proses pengkondisian maka sebuah respon (perilaku) akan muncul otomatis setiap kali stimulus (rangsangan) diberikan.

Menariknya, manusia pun dapat “terkondisikan” baik secara sengaja maupun tak sengaja. Dalam NLP, proses pengkondisian seperti ini disebut anchoring, yaitu proses mengasosiasikan respon internal dengan pemicu atau stimulus eksternal, sehingga respon tersebut muncul dengan cepat dan otomatis. Stimulus dalam anchoring ini dapat berupa informasi visual, auditory, kinestetik, olfactory, maupun gustatory.

Kita dapat melakukan anchoring dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini.

Access

Munculkan state (baca: mood, perasaan, emosi) yang ingin Anda dapatkan, katakanlah state percaya diri. Anda dapat memunculkan state ini dengan:

  • Mengingat-ingat pengalaman percaya diri yang pernah Anda alami, atau
  • Membayangkan seperti apa diri Anda saat Anda begitu percaya diri, atau
  • Membayangkan sosok yang Anda anggap begitu percaya diri.

State terbaik untuk di-achor adalah state yang sedang terjadi. Terbaik berikutnya adalah states yang pernah terjadi di masa lalu yang dapat dirasakan kembali dengan jelas saat ini. Terakhir, barulah state imajinatif.

Amplify

Perkuat pengalaman Anda dengan memperjelas bayangan, suara dan sensasi fisik yang Anda rasakan. Beri warna yang lebih cerah dalam gambaran mental Anda (atur ulang submodalitas-nya, silakan baca bahasan sebelum ini). Lalu, masuklah Anda ke dalam pengalaman tersebut (asosiasi). Menyatulah diri Anda dengan perasaan percaya diri ini. Sesuaikan fisiologi tubuh Anda.

Anchor

Perkuat lagi state percaya diri ini dengan menarik napas panjang dan dalam. Sebelum tarikan napas Anda sampai pada puncaknya, pasang anchor-nya (misalnya dengan mengepalkan tangan, menyentuh dagu atau dengan kode lainnya). Lalu, saat setelah sampai di puncak pengalaman, hembuskan nafas Anda perlahan-lahan sambil melepaskan anchor Anda. Ulangi proses ini beberapa kali.

Apply

Sekarang bayangkan kapan dan dimana Anda akan menggunakan anchor ini. Dalam benak Anda, imajinasikan Anda sedang mengalami situasi tersebut. Lalu picu anchor Anda.

Test

Lakukan tes, kepalkan tangan Anda dan rasakan state percaya diri yang muncul. Oya, ingatlah untuk melakukan break state (istirahat, berinteraksi dengan lingkungan, memikirkan hal lain) sebelum melakukan tes. Jika hasilnya masih belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan, ulangi prosesnya.

Dengan keterampilan anchor ini, Anda dapat mengakses state apapun yang Anda inginkan: percaya diri, bahagia, tenang, rileks, bijaksana, berani…, dan Anda dapat mengaksesnya kapanpun. Tentu saja, sama seperti keterampilan lain, Anda perlu berlatih secara teratur agar keterampilan anchoring ini menyatu dengan diri Anda.

Oya, agar anchor dapat bekerja lebih efektif maka dalam membentuk anchor Anda perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  • Associate (asosiasi): pastikan Anda menyatu dengan perasaan yang ingin Anda akses.
  • Intensitas emosi: tingkatkan intensitas emosi dengan mengatur ulang fisiologi dan submodalitasnya.
  • Unique (khas): buatlah pemicu yang unik (misal dengan menyentuh telinga, menyatukan tiga jari, menyentuh tulang iga sebelah kiri…)
  • Momentum: pasang anchor tepat sebelum emosi tersebut pada puncaknya.
  • Repetisi: Ulangi beberapa kali agar anchor tersebut menjadi otomatis.

Selamat Berlatih!

Asosiasi & Disosiasi (2)

Asosiasi & Disosiasi (2)

Sepanjang perjalanan hidup, sadarkah kita, saat ada teman yang sedang bermasalah, kita mudah sekali memberikan solusi (ide/saran/nasihat) untuk mereka? Namun, saat kita mengalami masalah yang sama, kok rasanya sulit sekali menemukan solusi sendiri ya?

Inilah karakteristik asosiasi/disosiasi. Saat orang lain yang punya masalah, kita terdisosiasi dari masalahnya sehingga kita bisa melihat masalah tersebut dengan jernih. Lalu, kita pun bisa memikirkan solusi-solusi yang memungkinkan.

Sementara saat kita yang mengalami masalah, kita terasosiasi dengan masalah tersebut. Sehingga kita tidak dapat melihat masalah dengan jernih, solusi pun menjadi sulit ditemukan.

Ini ibarat pemain bola dan komentator sepak bola. Dimana-mana, komentator sepak bola itu lebih pintar daripada pemainnya. Mengapa? Karena dia disosiasi dari permainan, sehingga ia dapat menganalisis permainan dari berbagai sudut pandang. Apa yang terjadi bila di ajadi pemain? Bisa jadi dia tidak akan sehebat saat jadi komentator, karena saat menjadi pemain dia terasosiasi dengan permainannya. Dia merasakan emosi dan lelahnya berlari.

Inilah kekuatas disosiasi dan asosiasi.

Mengapa ada orang yang kaku dan kritis, sementara ada orang yang luwes dan menyenangkan? Orang menjadi kaku dan kritis biasanya karena dia berada dalam mode disosiasi saat bertemu dengan orang lain. Orang menjadi luwes dan menyenangkan biasanya karena dia berada dalam mode asosiasi saat bertemu dengan orang lain.

Pernah diajari metode visualisasi untuk mewujudkan impian? Mana yang lebih efektif: kita visualisasi secara asosiasi atau disosiasi?

Banyak yang mengajarkan visualiasi secara asosiasi. Kita diminta membayangkan dan merasakan seakan-akan sudah mencapai tujuan kita. Lalu, apa yang terjadi? Kita merasa puas, karena merasa sudah mencapainya… lalu kita berhenti berusaha. Dampaknya, tujuan kita pun tidak tercapai.

Akan lebih baik bila setelah asosiasi, kita disosiasi dari pengalaman tersebut. Melihat diri kita di sana sudah mencapai tujuan kita. Sehingga kita tergerak untuk mencapainya. Bahkan, jika ingin semakin efektif, kita bayangkan juga diri kita sedang dalam proses bertindak – bekerja keras mencapainya. Ini lebih efektif menggerakkan kita.

Asosiasi/disosiasi ini hal yang sederhana, namun perlu dilatih agar kita terampil menggunakannya. Bagaimana teknis melatihnya?

Berikut cara yang paling sederhana.

Bila Anda sedang mengalami masalah, duduklah di sebuah kursi. Rasakan masalahnya (asosiasi). Lalu, berdiri dari kursi tersebut, melangkah satu langkah dan berbalik melihat ke arah kursi. Bayangkan di kursi tersebut duduk diri Anda yang punya masalah (disosiasi). Bila ini masih sulit, bayangkan orang yang punya masalah di kursi itu adalah orang lain. Sekarang, dalam posisi disosiasi ini, tanyakan ke diri Anda: nasihat apa yang bisa saya berikan ke dia?

Cara lainnya:

Pikirkan hal yang membuat Anda bersemangat. Rasakan semangatnya di dalam tubuh Anda (asosiasi). Melangkah mundur satu langkah ke belakang, tinggalkan rasa semangatnya di depan Anda (disosiasi). Melangkah ke depan, masuk lagi dan rasakan semangatnya (asosiasi). Melangkah mundur, tinggalkan semangatnya di depan (disosiasi).

Melatih asosiasi/disosiasi ini pun dapat kita lakukan dalam keseharian. Saat bertemu dengan kawan yang sedang bersedih, berempatilah (asosiasi) lalu melangkah ke belakang (disosiasi) supaya Anda bisa memberi support kepada orang yang sedang bersedih tersebut.

Saat terlalu gembira menerima sebuah kabar, segera melangkah ke belakang (atau minimal geser punggung kita ke belakang; seperti akan menyender). Tinggalkan rasa terlalu gembira-nya di depan. Dengan latihan seperti ini, Anda tidak akan mudah masuk bujuk rayu penjual atau masuk dalam sugesti penghipnotis 😁

Asosiasi & Disosiasi (1)

Asosiasi & Disosiasi (1)

Di artikel kali ini saya akan membahas salah satu konsep penting dalam NLP yaitu asosiasi dan disosiasi. Makanan macam apakah ini? Dan apa manfaatnya?

Sebelum kita masuk ke bahasan, saya ingin Anda mengalami sesuatu terlebih dulu. Saya ingin Anda membayangkan diri Anda sedang duduk di roller coaster. Silakan pasang sabuk pengaman Anda. Sekarang, rasakan perlahan-lahan roller coaster yang Anda naiki mulai bergerak. Semakin cepat dan semakiiiiin cepaaaaat…wuzzzzzz…. Naik… turun…. Lalu berhenti. Agar lebih khusyu, Anda boleh membayangkannya sambil menutup mata.

Silakan ulangi latihan di atas agar Anda memahami penjelasan nanti. Apa yang Anda rasakan? Apakah jantung Anda berdetak lebih kencang saat membayangkannya?

Ini latihan pertama.

Sekarang, kita lakukan latihan berikutnya. Masih tentang membayangkan diri Anda naik roller coaster. Namun kini, bayangkan Anda melihat diri Anda di depan sana sedang naik roller coaster. Anda bisa melihat diri Anda memasang sabuk pengaman. Lalu Anda melihat roller coaster itu mulai bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat, naik… turun… lalu berhenti.

Pertanyaan sekarang, apakah Anda merasakan hal yang sama dengan latihan sebelumnya?

Biasanya tidak. Anda merasa biasa saja. Jantung Anda tidak berdetak lebih kencang seperti pengalaman pertama. Dalam NLP, pengalaman di latihan pertama diistilahkan dengan asosiasi, Anda mengalami dan melihat dari mata kepala Anda sendiri. Sementara pengalaman kedua diistilahkan dengan disosiasi, Anda melihat diri Anda sedang mengalami sesuatu.

Saat kita membayangkan/mengingat sesuatu, ada dua kemungkinan bentuk bayangan/ingatannya: asosiasi atau disosiasi. Konsep ini sederhana, namun banyak dari kita tidak mengenali sebelumnya.

Berikut saya beri gambaran lain agar kita lebih paham asosiasi dan disosiasi. Katakanlah kita membayangkan punya mobil mewah, kita dapat membayangkannya secara asosiasi atau disosiasi.

Asosiasi:

Disosiasi:

Kebayang bedanya?

Saat asosiasi, kita menyatu dengan pengalaman, kita sebagai pelaku. Sementara saat disosiasi, kita terpisah dengan pengalaman, kita sebagai pengamat.

Kita terasosiasi saat kita menyatu dengan pengalaman kita. Hadir utuh di sini saat ini. Larut dengan apa yang kita lakukan tanpa menyadari bergesernya waktu. Pikiran dan perasaan kita menyatu dengan tubuh kita, merasakan sensasi yang muncul di tubuh kita.

Asosiasi bermanfaat untuk:

  • Menikmati pengalaman menyenangkan/bahagia/positif.
  • Menikmati memori menyenangkan/bahagia/positif.
  • Melatih keterampilan.
  • Mengobrol dengan kawan.

Kita terdisosiasi saat kita terpisah dari pengalaman kita. Memikirkan pengalaman bukannya mengalami/merasakannya kembali. Kita melihat diri kita sedang melakukan sesuatu bukannya melihat dari mata kepala Anda sendiri. Kita menyadari waktu berlalu.

Disosiasi bermanfaat untuk:

  • Meninjau sebuah pengalaman.
  • Mengambil pelajaran dari masa lalu.
  • Mengevaluasi keterampilan.
  • Melepaskan “rasa sakit” dari pengalaman tidak menyenangkan.

Nah, menariknya kita bisa melatih asosiasi dan disosiasi, kita bisa melatih diri kita masuk dan keluar dari sebuah pengalaman.  Sayangnya, mode asosiasi/disosiasi kita terjadi tanpa kita sadari (unconscious). Untungnya, setelah kita memahami konsep ini kita bisa mengaturnya secara sadar. Kapan kita masuk (asosiasi) dan kapan kita keluar (disosiasi) dari pengalaman kita.