Latihan Mengedit Pikiran

Latihan Mengedit Pikiran

Menurut disiplin ilmu NLP, “berpikir” adalah kegiatan memutar film, gambar, suara atau sensasi di dalam benak kita. Untuk memudahkan, kita sebut film/gambar/suara/sensasi ini sebagai “film mental.” Film mental ini memengaruhi apa yang kita rasakan dalam tubuh kita; state (perasaan/emosi) kita. Menyadari film mental yang kita putar dalam benak kita adalah keterampilan penting agar kita mampu mengelola state kita.

Film mental dalam benak kita muncul begitu cepatnya tanpa kita sadari. Untuk “menghentikan”, mengamati dan memodifikasinya kita perlu berlatih menyadarinya. Luangkan waktu setiap hari untuk melatih diri menyadari film mental yang kita putar di dalam benak kita.

Sebagian besar film mental dalam benak kita muncul secara otomatis. Bila kita tidak mengendalikannya, maka kita akan dikendalikan olehnya. Mengendalikan secara penuh tentu saja tidak bisa, namun kita dapat berlatih untuk mengelola dan mengeditnya.

Ibarat seorang sutradara, kita punya hak untuk mengatur skenario yang kita putar dalam benak kita. Kita punya hak untuk mengelola tampilan film di dalam benak kita.

Ide film mental ini memang hanya metafora, meski demikian ide ini sangat bermanfaat dalam memahami dan mengelola diri sendiri.

Film mental yang kita ciptakan di dalam benak kita akan menjadi peta untuk menjalani hidup kita. Kita menciptakannya, merekamnya, menyimpannya dan memutarnya untuk memandu pilihan-pilihan serta tindakan-tindakan kita. Bila kita mampu mengubah elemen di dalam film mental ini, kita tidak hanya akan mengubah filmya. Mengubah elemen dalam film mental akan mengubah keputusan, tindakan, kata-kata, perilaku, dan emosi kita.

Dalam artikel kali ini saya akan bagikan latihan-latihan praktis untuk mengedit pikiran yang mengganggu. Langsung saja ya…

Latihan #1

Apakah Anda memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang mengganggu diri Anda? Bukan pengalaman traumatik, melainkan sekadar pengalaman tidak nyaman saja. Ada? Perasaan apa yang muncul bila Anda mengingatknya? Kesal? Marah? Sedih? Kecewa? Atau apa? Beri nama pada perasaan tersebut. Lalu periksa, di skala berapakah rasa tersebut saat ini? Gunakan skala 1-10. Sekarang, saya ingin Anda membayangkan di depan Anda ada sebuah televisi hitam putih kuno. Putar kejadian yang tidak menyenangkan di televisi tersebut. Lihat diri Anda yang sedang mengalami peristiwanya di dalam televisi hitam putih itu. Geser dan jauhkan televisinya, lalu buat gambarnya menjadi agak kabur. Sekarang, periksa kembali perasaan Anda? Sudah turun di skala berapa kah rasanya?

Latihan #2

Apakah Anda memiliki kenalan yang kurang Anda sukai? Mungkin Anda kesal atau marah kalau mengingatnya? Jika Anda ingin menetralisir atau paling tidak mengurangi perasaan Anda kepadanya, Anda boleh melakukan latihan berikut.

Munculkan gambar orang tersebut dalam pikiran Anda. Buat menjadi diam seperti foto. Lalu, beri bingkai yang lucu (misal bingkai bunga-bunga). Bagaimana perasaan Anda sekarang? Jika, Anda masih ingin menguranginya, Anda boleh menambahkan blush-on warna merah di pipinya dan bola bulat merah di hidungnya. Bagaimana perasaan Anda sekarang? Berubah bukan?

Latihan #3

Pilih pengalaman yang kurang menyenangkan. Amati gambar yang muncul di pikiran Anda. Putar musik yang lucu untuk mengiringinya (misal soundtrack Doraemon), bagaimana perasaan Anda?

Latihan #4

Pilih pengalaman yang memunculkan perasaan yang kurang nyaman dalam diri Anda. Amati perasaan tidak nyaman itu. Di bagian tubuh mana lokasinya? Apakah dia diam atau bergerak? Dengan imajinasi Anda, pindahkan lokasinya. Buat dia bergerak naik… turun… kemudian menuju ubun-ubun dan lepaskan… biarkan dia lepas ke udara… lakukan berulang-ulang sampai perasaan tidak nyaman tersebut hilang…

Selamat berlatih!

Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Bila kita ibaratkan pikiran sebagai film, maka submodalitas adalah “kualitas efek” dari filmnya. Kualitas efek gambar dan suara yang ada di sebuah film lah yang memengaruhi emosi kita saat menontonnya. Kita merasa takut saat menonton film horor karena efek visual dan audio yang ada di film tersebut. Coba bayangkan, bila Anda menonton film horor di bioskop dengan layar lebar dengan di televisi dengan layar hanya 14” apakah sama rasanya? Bandingkan kualitas suara surround di bioskop dengan suara dari speaker tv Anda, apakah rasa yang dihasilkan sama? Tentu saja berbeda. Kualitas efek audio visual sebuah film menentukan besar kecilnya perasaan yang kita rasakan. Demikian juga film di pikiran kita, struktur VAK di dalam pikiran kita memengaruhi emosi yang kita rasakan.

Apa yang terjadi bila kita mengalami sebuah hari yang buruk (dimarahi oleh boss misalnya) kemudian Anda merasa kesal. Lalu Anda berulang-ulang memutar kembali kejadiannya di dalam benak Anda dengan gambar yang jernih, berwarna, terang, besar dan suara yang jelas? Dapatkah Anda move on dari rasa kesal Anda? Atau Anda justru semakin membesarkan dan menghidupkannya? Lalu, apa yang mungkin terjadi bila Anda mengecilkan suaranya, mengecilkan gambarnya, memutar kejadiannya dengan gambar yang kabur dan hitam putih? Apakah ada kemungkinan rasa kesalnya mengecil atau bahkan menghilang? Dalam sebagian besar kasus, it’s work. Anda bisa mencobanya sekarang.

Hal yang memicu emosi kita bukanlah kejadian di luar kita. Hal yang memicu kita adalah kejadian yang kita putar di kepala kita. Kejadian apapun di luar kita sebenarnya netral, kitalah yang melabelinya dengan baik atau buruk, positif atau negatif. Kita lah yang baper-an, suka menghubung-hubungkan kejadian di luar kita dengan perasaan tertentu.  Kita sendiri lah sebenarnya yang memicu rasa kesal dalam diri kita. Kita sendiri lah yang memicu rasa marah, senang, sedih dan berbagai rasa lainnya yang kita rasakan. Tidak ada seorang pun yang dapat memengaruhi perasaan kita sampai kita mengizinkannya.

Banyak orang menganggap emosi yang kita rasakan ini bersifat alamiah dan otomatis. Padahal menurut penelitian terbaru, emosi kita direkonstruksi oleh kita berdasarkan memori dan pengalaman kita. Kita lah yang menentukan ingin merasakan emosi apa. Inilah sebabnya, dua orang yang mengalami kejadian yang sama bisa saja merasakan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama-sama mendengar kalau tetangga sebelah membicarakan mereka di belakang, bisa saja merasakan pengalaman yang berbeda. Ada yang mungkin merasa kesal dan marah, sementara satu orang lainnya cuek saja, merasa baik-baik saja. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka memaknainya dengan cara yang berbeda. Si A kesal dan marah mungkin karena ia berpikir “beraninya bicara di belakang, dari dulu saya sudah kesel sama dia, memang saya punya salah apa?” Sementara si B cuek saja karena mungkin ia berpikir “alhamdulillah, ada yang peduli dengan saya. Mungkin Allah menampakkan kejadian ini karena Ia ingin saya memperbaiki diri.” Hasilnya berbeda bukan?

Bukan kejadian namun respon kita terhadap kejadian lah yang membuat hasil-hasil dalam hidup kita berbeda. Kita merasa susah, senang, kesal, marah, karena respon yang kita pilih dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar kita. Pertanyaannya, respon seperti apa yang akan Anda pilih untuk menghadapi kejadian yang Anda alami?

Memahami Struktur Pikiran (3)

Memahami Struktur Pikiran (3)

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa kita merekam pengalaman dalam bentuk gambar, suara dan rasa. Kita pun dapat menganalogikan proses berpikir kita dengan tayangan film. Semakin jelas gambar dan suaranya, semakin berasa efeknya.

Coba Anda bandingkan dua pengalaman. Pertama adalah pengalaman yang sangat berkesan (misal pengalaman menyenangkan, atau membanggakan – pengalaman yang melibatkan emosi Anda). Kedua adalah pengalaman yang biasa saja. Kita mulai dengan memunculkan pengalaman yang sangat berkesan terlebih dulu ya.

Munculkan pengalamannya, ingat-ingat peristiwanya. Sudah?

Sekarang, amati ingatan Anda. Apakah ada gambar yang muncul?

Perhatikan gambarnya, apakah gambarnya hidup seperti film atau diam seperti foto? Apakah gambarnya dekat atau jauh? Berwarna atau hitam putih? Ukurannya besar atau kecil? Gambarnya jelas atau kabur? Panoramik atau berbingkai?

Apakah ada suaranya? Volumenya besar atau kecil? Suaranya ada di sekeliling Anda (surround) atau hanya dari arah tertentu? Cepat atau lambat? Nadanya tinggi atau rendah?

Perhatikan apa yang Anda rasakan sekarang. Apakah muncul perasaan tertentu di tubuh Anda? Di bagian mana? Apakah perasaan tersebut bergerak atau diam? Jika bergerak gerakannya seperti apa? Naik turun, berputar-putar, ke depan belakang atau seperti apa? Jika berputar, putarannya ke arah kanan atau kiri?

Sudah? Anda boleh mencatat jawaban Anda di atas kertas. Jawaban Anda mungkin akan seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Film
  • Dekat
  • Berwarna
  • Besar
  • Jelas
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume sedang
  • Di sekeliling
  • Kecepatan sedang
  • Nada rendah

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Dada
  • Bergerak
  • Berputar ke kiri

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Kita break dulu sebentar. Hitung, 3 x 15 hasilnya berapa? (Ini namanya break state, fungsinya untuk mengubah dari satu kondisi pikiran ke kondisi pikiran lainnya).

Sekarang, pikirkan pengalaman yang biasa saja. Ingat-ingat peristiwanya. Tanyakan daftar pertanyaan yang sama seperti di atas. Kemudian tuliskan jawabannya di atas kertas.

Jawaban Anda mungkin seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Diam
  • Dekat
  • Berwarna
  • Sedang
  • Kabur
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume kecil
  • Selainnya tidak jelas

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Tidak ada rasa

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Bandingkan kedua jawaban Anda. Apakah jawabannya sama persis? Atau ada yang berbeda? Dalam sebagian besar kasus, jawabannya pasti ada yang berbeda. Ada yang perbedaannya sangat kontras, ada yang perbedaannya tipis (hanya pada satu dua sub elemen dari masing-masing modalitas).

Dari latihan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pikiran terdiri dari beberapa modalitas (VAK-OG). Masing-masing modalitas memiliki sub elemen, misalnya modalitas visual sub elemennya bisa saja: bergerak atau diam, jauh atau dekat, berwarna atau hitam putih dsb. Sub elemen dari sebuah modalitas kita istilahkan dengan submodalitas di dalam NLP.

Sehingga kita dapat mengatakan, pengalaman memiliki struktur. Strukturnya adalah modalitas dan submodalitas. Menariknya, ternyata struktur pengalaman kita memengaruhi apa yang kita rasakan. Struktur pengalaman di dalam pikiran kita memengaruhi perasaan kita.

Memahami Struktur Pikiran (2)

Memahami Struktur Pikiran (2)

Kemarin kita sudah belajar bahwa pikiran kita terdiri dari gambar, suara, sensasi, bau, dan rasa (VAKOG). Ini terjadi karena kita menyerap informasi menggunakan kelima indera kita:

  • Penglihatan,
  • Pendengaran,
  • Perabaan/sentuhan,
  • Penciuman,
  • Pengecapan.

Kita melihat sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk gambar. Kita mendengar sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk suara. Kita menyentuh sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk sensasi rasa. Kita mencium sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk bau. Kita mengecap sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk rasa.

Menariknya, otak kita tidak menyimpan pengalaman seperti kamera. Otak tidak menyimpan gambar persis seperti apa yang kita lihat. Otak tidak menyimpan suara persis seperti apa yang kita dengar. Otak tidak menyimpan sensasi rasa persis seperti apa yang kita sentuh. Otak kita mengolah terlebih dulu informasi berupa gambar, suara, atau rasa tersebut. Kemudian menyimpannya dalam bentuk kepingan-kepingan puzzle, bukan dalam bentuk puzzle yang tersusun utuh. Pada saat kita mengingat, yang kita lakukan adalah mengonstruksi ulang kepingan-kepingan puzzle tersebut.

Masalahnya, saat merekonstruksi ulang, sering kali kita tidak menemukan kepingan puzzle yang kita perlukan. Mengapa? Karena bisa jadi tidak semua puzzle-nya kita simpan, kita hanya menyimpan kepingan puzzle yang kita anggap penting dan berharga. Itulah sebabnya, kita dapat menyimpulkan dan memahami ceramah 30 menit yang kita dengar namun kita tidak dapat mengingat kata demi katanya satu per satu setiap menitnya.

Lucunya lagi, kita juga seringkali mengisi puzzle yang hilang dengan puzzle lain yang sudah kita miliki sebelumnya. Misalnya, kita menghubungkan pengalaman yang kita alami dengan pengalaman sebelumnya. Kadang kala, kita pun secara sengaja atau tidak sengaja menciptakan puzzle baru hasil khayalan/imajinasi kita, tujuannya agar puzzle lama terlihat lebih utuh.

Kita pun sering kali mencari kesamaan antara puzzle yang sekarang dengan puzzle yang sebelumnya. Mencoba menemukan pola yang mirip. Ini terjadi karena otak kita pada dasarnya malas dan ingin menghemat energi. Misalnya, kita mencari-cari kesamaan antara orang yang baru kita kenal dengan database kenalan lama kita. Kita pun suka menyimpulkan sesuatu tergesa-gesa padahal kita baru mendapatkan informasinya secara sekilas.

Ketiga proses ini adalah cara otak mengolah informasi dari indera.

  • Otak menghapus sebagian informasi yang dianggap tidak relevan (deletion).
  • Otak menghubung-hubungkan sebuah informasi dengan informasi lainnya – entah informasi yang bersifat fakta maupun fiksi (distortion).
  • Otak menyimpulkan informasi berdasarkan informasi yang kita miliki sebelumnya (generalization).

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa otak tidak menyimpan pengalaman apa adanya. Apa yang kita pikirkan tentang kenyataan bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Pikiran hanya mewakili kenyataan secara terbatas. Pikiran hanya berusaha merepresentasikan kenyataan, namun dia bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Bila kenyataan adalah sebuah wilayah yang sebenarnya, pikiran kita hanyalah peta yang mewakilinya.

Memahami Struktur Pikiran (1)

Memahami Struktur Pikiran (1)

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pikiran? Apa riilnya? Kalau kita lihat kamus, kita akan mendapatkan definisi sebagai berikut:

pikiran/pi·kir·an/ n 1 hasil berpikir (memikirkan); 2 akal; ingatan; 3 akal (dalam arti daya upaya); 4 angan-angan; gagasan; 5 niat; maksud.

Sementara berpikir memiliki definisi:

berpikir/ber·pi·kir/ v menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.

Jadi, pikiran ini masuk dalam kategori kata benda. Namun, apakah bendanya secara riil ada? Apakah bendanya secara fisik ada? Tidak ada. Sama seperti kata pembicaraaan, kata ini masuk dalam kata benda namun bendanya “tidak ada”. Karena pembicaraan adalah pembendaan (nominalisasi) dari proses berbicara. Prosesnya ada, namun bendanya tidak ada. Pikiran pun sama. Pikiran adalah nominalisasi dari proses berpikir. Hasilnya dan benda untuk melakukan proses berpikir kita namakan pikiran.

Sama seperti pikiran sadar dan tak sadar (bawah sadar), apakah riilnya ada? Tidak ada. Kedua istilah tersebut hanyalah model untuk memudahkan kita memahami proses berpikir. Proses berpikir ada yang kita sadari dan ada yang tidak kita sadari. Pikiran-pikiran yang kita sadari kita sebut dengan pikiran sadar, sementara yang tidak kita sadari kita sebut dengan pikiran tak sadar (atau bawah sadar).

Maka, untuk memahami pikiran, kita perlu memperhatikan prosesnya, bukan pada bendanya. Pada saat kita mengatakan saya sedang memikirkan sesuatu? Apa sebenarnya yang kita lakukan di dalam benak kita? Proses seperti apa yang terjadi dalam diri kita? Mari kita lakukan sedikit eksperimen.

Pikirkan makanan yang Anda suka. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah Anda melihat gambarnya di dalam benak Anda? Anda membayangkannya?

Apakah Anda memunculkan aromanya di dalam ingatan Anda?

Apakah Anda mengingat rasanya di lidah Anda?

Perhatikan, ternyata pikiran muncul dalam bentuk gambar, bau atau rasa.

Sekarang pikirkan salah satu teman SMA Anda. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah ada gambar wajah teman Anda dalam pikiran Anda?

Apakah ada suaranya?

Apakah Anda ingat baunya?

Perhatikan lagi, pikiran muncul dalam bentuk gambar, suara, atau bau.

Dari eksperimen sederhana ini kita dapat simpulkan bahwa kita berpikir dengan memunculkan gambar, suara, rasa (sentuhan), bau, dan rasa (pengecapan).

Entah kita mengingat sesuatu, atau memikirkan sesuatu yang belum terjadi, kita menggunakan salah satu dari lima modalitas di atas.

  • Modalitas Visual – gambar,
  • Modalitas Auditori – suara,
  • Modalitas Kinestetik – rasa (sentuhan),
  • Modalitas Olfaktori – bau,
  • Modalitas Gustatori – rasa (pengecapan).

Kita menyingkatnya dengan VAKOG – Visual, Auditori, Kinestetik, Olfaktori dan Gustatori.

Pada saat mengingat atau memikirkan sesuatu, kita menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa modalitas di atas. Misalnya, pada saat Anda mengingat buku yang pernah Anda baca, bisa jadi Anda mengingatnya dengan cara memunculkan gambarnya (V) atau memunculkan suaranya (A). Demikian juga saat ada pikiran yang mengganggu, pikiran tersebut bisa jadi berbentuk:

  • Tayangan film (V),
  • Gambar yang terbayang (V),
  • Suara yang terngiang-ngiang (A),
  • Self-talk – kita berbicara dengan diri sendiri (A),
  • Rasa nyeri, tertekan di dada atau rasa lainnya (K).

Nah, dengan memahami struktur dari pikiran ini nantinya kita akan mampu untuk mengelolanya. Bagaimana caranya? Simak saja artikel-artikel berikutnya.