Antara Internal Representation dan Mindset

Penulis:

Herlyanti

Certified NLP Coach, Indonesia NLP Society

Indonesia NLP Society – Bandung Chapter

 

Mindset.

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengeluhkan tentang mindset orang-orang yang tidak sesuai dengan harapannya. Kemudian saya ingat kata guru saya dulu bahwa untuk mengubah mindset yang tanya sedikit saja, dibutuhkan input yang banyak. Analoginya, untuk mengubah mindset sebanyak 1 miligram, dibutuhkan ilmu baru sebanyak 10 kilogram.

Sebenarnya apa arti mindset secara bahasa?

Definition of mind–set

1
:  a mental attitude or inclination politicians trying to determine the mind–set of voters

2
:  a fixed state of mind . His mind–set does not allow for new situations.

mindset

noun [ U ] UK /ˈmaɪnd.set/ US /ˈmaɪnd.set/

a person’s way of thinking and their opinions:

to have a different/the same mindset

It’s extraordinary how hard it is to change the mindset of the public and the press.

mind‧set /ˈmaɪndset/ noun [countable]

someone’s general attitude, and the way in which they think about things and make decisions.

The company seems to have a very old-fashioned mindset.

Berdasar pada 3 penjelasan dari 3 kamus yang saya rujuk, maka mindset ialah tentang:

  1. Mental attitude
  2. Fix state of mind 
  3. Way of thinking and their opinions
  4. General attitude
  5. Way they think about things and make decisions 

Jadi kalau ditanya, “memang sepenting apakah mindset?” Jawabannya, penting banget.

Contohnya begini, jika Anda memiliki mindset tentang marketing yang seperti ini: “Ah, marketing itu bisa-bisanya aja tipu-tipu, barang yang biasa aja dibilang bagus.” Kira-kira apakah Anda akan bersemangat belajar marketing? Yang ada malah bisa jadi Anda membenci marketing.

Namun, jika Anda punya mindset bahwa berdagang itu bermanfaat, berdagang ialah salah satu cara untuk masuk surga, berdagang ialah cara kaya yang halal dan bermanfaat bagi banyak orang. Saya bisa yakin bahwa Anda akan bangga berprofesi sebagai pedagang.

Dari mana datangnya mindset? Mindset, awalnya bisa dari apa yang Anda baca, Anda dengarkan, dari segala informasi yang Anda dapatkan, lalu Anda serap. Semakin hal itu yang ditambah

dengan bukti-bukti otentik, data, dan hal-hal yang mendukung suatu pernyataan, maka lama-lama pernyataan itu akan menjadi sebuah mindset,  keyakinan. Keyakinan akan mengakar, keyakinan yang menjadi pola pikir, sikap mental, state of mind, cara mengambil keputusan, dan pada akhirnya menjadi sebuah keseluruhan perilaku.

Maka dari itu, wajar jika dibutuhkan banyak masukan, informasi baru, dan data-data yang diterima seseorang untuk menggeser pola pikir lama. Mengapa saya menggunakan kata menggeser, dan bukannya mengganti? Untuk hal ini, saya merujuk pada sebuah hadist:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kepada Allah di manapun Anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Saya pernah mendengarnya dalam sebuah ceramah oleh ustadz Tengku Hanan Attaki, Lc; bahwa perbuatan buruk yang diiringi dengan perbuatan baik, lama-lama perbuatan buruk itu akan hilang, Karena telah tergesernya keburukan dennen kebaikan. Artinya? Mengubah perbuatan buruk bukanlah dengan sulap simsalambim, tiba-tiba jadi baik; namun bisa dengan memperbanyak perbuatan baik. Analoginya begini, jika sebuah kejahatan terjadi, di sebuah tempat dimana di sana tidak ada yang menyebarkan kebaikan, bisa jadi kejahatan itu merajalela. Sebaliknya, jika dalam lingkungan di mana terjadi kejahatan itu disebarkan kebaikan, maka mungkin saja lama-lama kejahatan akan menyingkir atau bahkan musnah, karena sudah tidak ada tempat lagi di sana.

Begitu pula yang saya percayai tentang mindset. Menggeser mindset, paradigma, keyakinan lama, butuh banyak informasi baru yang terus menerus membuktikan bahwa mindset lama sudah perlu di upgrade.

Alhamdulillahnya, manusia adalah makhluk spesial. Cara berpikirnya bisa diubah sesuai kebutuhan. Lalu, pertanyaan berikutnya, bagaimana menggeser mindset tadi? Jawabannya ada di sini:

(Image taken from: http://redelinghuys.info/coach/nlp-communications-model/)

Maksudnya?

Sekarang Anda hidup di dalam bubble, gelembung. Misalnya yang pernah saya baca tentang algoritma Facebook, di mana Anda akan melihat apa yang Anda sukai, sesuai interest Anda, selebihnya, seolah-olah dihilangkan. Tentu ada baik dan buruknya disini. Tapi jika merujuk pada keinginan terhadap perubahan, mungkin saatnya untuk menyeberang. Apa sih yang ada di pola pikir orang lain, bagaimana cara pandang mereka, yang nantinya itu bisa menyebabkan pemahaman dan juga sikap toleransi.

Lho, ini kok jadi nyambung ke toleransi? Maafkan, mari saya lanjutkan lagi dengan NLP dan Internal Representation. Jadi, informasi yang Anda dapat, akan melalui  3 filter yang secara garis besar disebut Delesi, Generalisasi, dan Distorsi. Makhluk-makhluk apakah ini? Mereka adalah 3 bersaudara yang tidak bisa dipisahkan. Apakah mereka negatif? Tidak juga, mereka juga berperan positif dalam proses kehidupan manusia.

Fungsi generalisasi bermanfaat saat belajar. Itulah mengapa, untuk tiap tuts keyboard yang berbeda, Anda masih bisa mengetik dengan biasa saja. Karena fungsi generalisasi muncul dengan pikiran: “Ah, ini kan sama-sama tuts keyboard, hurufnya sama, jadi ngetiknya juga bakal sama.”

Fungsi delesi bermanfaat contohnya saat Anda ditanya: “Gimana persiapan Idul Adha?” Tanpa fungsi delesi, Anda akan jawab panjang kali lebar kali tinggi. Bervolume. Tapi dengan adanya fungsi ini, maka Anda bisa jawab hanya dengan satu kata yang mewakili semua: “Aman.”

Fungsi distorsi, bermanfaat saat Anda membutuhkan proses kreatif. Misalnya bagaimana cara menghubungkan antara 2 hal yang tak berhubungan, misalkan saat Anda diminta mencari benda kreatif, untuk berinovasi, menghubungkan antara selang air dan dan sabun. Akhirnya muncul selang air yang bisa di bawahnya ada tempat penyimpanan sabun cair, dan bisa menyemburkan air sabun, bermanfaat untuk cuci kendaraan.

Nah, jadi tidak ada yang salah dengan ketiga bersaudara ini. Salahnya, kadang Anda tidak menggunakannya di saat yang tepat. Contohnya ya saat ingin mengubah mindset. Anda melakukan delesi terhadap hal-hal yang semestinya Anda perhatikan, melakukan generalisasi terhadap satu hal “ah, pokoknya kerjaan sales itu ya memalukan, dll dsb”; atau ketika melakukan fungsi distorsi: “jika memakai produk ini, maka keajaiban ini  akan terjadi pada Anda.”

Brand, ialah contoh fungsi distorsi yang luar biasa. Bagaimana mungkin sebuah simbol, sebuah barang, dijadikan identitas seseorang. Misalkan ketika orang memakai brand tertentu, itu artinya dia adalah orang yang bla bla bla; sesuai dengan identitas yang ingin ditampilkan pada brandnya. Kan tidak ada hubungan sebenarnya. Coba Anda pikirkan, apakah ada hubungannya antara sepatu dan pola pikir. Kan tidak ada? Tapi dengan adanya fungsi distorsi, Anda akan merasa semua masuk akal. Bahwa seolah-olah memang ada hubungannya antara merk sepatu yang dipakai, dan citra diri yang ditampilkan.

OK, jadi setelah informasi mendapat saringan dari 3 bersaudara ini, dia akan masuk menjadi Internal Representasi, yaitu apa yang Anda yakini terhadap sesuatu. Contohnya: ketika Anda mendengar kalimat: Domba, sapi, kambing, dan unta disembelih pada hari Raya Idul Adha. Coba perhatikan, apakah ada gambar yang muncul? Apakah ada gambar hewan-hewan yang disebutkan lalu satu per satu disembelih? Ataukah ada suara takbir yang terdengar, ataukah gambar kesibukan pada saat penyembelihan? Rasa takut karena melihat darah? Apa yang muncul?

Mudahnya, Internal representation adalah gambaran, suara, rasa yang muncul saat Anda menerima informasi.

Contoh lagi, apa yang Anda bayangkan ketika mendengar seseorang telah membeli IPhone terbaru? Apakah Anda akan langsung berdecak kagum, ataukah Anda akan meremehkan dengan berkata “ah, kayaknya BM”?

Mudahnya, Internal Representasi adalah persepsi.

Persepsi Anda terhadap sesuatu akan memunculkan state of mind tertentu, istilahnya mudahnya, perasaan tertentu. Rasa meremehkan yang ada, rasa kagum, rasa jijik, dan rasa-rasa yang lain, terhadap persepsi Anda terhadap sesuatu. Kemudian, perasaan ini berakibat pula pada keadaan jasmani Anda, misalkan jadi menggerakkan otot-otot muka sehingga rasa jijik, atau rasa meremehkan muncul, ataukah rasa kagum, dan bahagia; semua menggunakan konfigurasi otot yang berbeda. Ataukah muncul keringat dingin saat orang gugup berdiri di depan banyak orang?

Jika dilanjutkan, apakah sama perilaku orang yang gugup berbicara di depan orang, dan orang yang nyaman? Tentunya tidak. Alhasil, semua yang diingat oleh orang yang gugup bisa melayang pergi begitu saja, sehingga ia terpatung dan tampak aneh, sedangkan sebaliknya, orang yang nyaman begitu mudahnya berbagi cerita dan menguasai panggung. Walau dengan resource yang sama, misalkan sesama manajer, cara Anda menghadapi situasi, akan membedakan hasil yang akan dicapai.

Baiklah, kembali ke mindset. Apakah persepsi adalah mindset? Jika merujuk pada 5 arti mindset di atas, maka mindset dimulai dari proses penyaringan oleh 3 bersaudara (way they think about things), yang menghasilkan gambar, suara, dan rasa tertentu (their opinions); yang menghasilkan efek pada jasmani, dan perasaan (fix state of mind); sehingga menjadi sebuah perilaku (mental attitude, make decisions, general attitude).

Jadi mindset adalah keseluruhan fungsi penerimaan informasi hingga ke perilaku yang dihasilkan.

Mindset, bukan hal yang remeh. Maka jadi semakin yakin, inilah alasan mengapa untuk menggeser mindset sedikit saja, diperlukan banyak informasi baru, lingkungan baru; karena informasi biasanya berkaitan erat dengan lingkungan. Fiuh, effortful.

Anda masih yakin akan menggeser mindset lama dengan yang baru, kan

Jenis-jenis State

Selalu ada yang baru di NLP Essentials. Ya, belajar NLP itu dasarnya ya itu-itu saja. Tapi karena NLP itu ilmu struktur, dan kita lah yang mengisinya, maka meski struktur yang digunakan sama, hasil yang dilahirkan bisa teramat berbeda. Yang namanya penggorengan dari dulu sampai sekarang, mahal maupun murah, bentuknya kurang lebih sama. Namun apa yang dimasak di dalamnya, bisa melahirkan hasil yang berbeda-beda.

Begitu pun dengan kelas NLP Essentials Modul 1 – Personal Excellence yang baru pertama kali diadakan di Surabaya ini. Dalam sesi diskusi setelah latihan, ada pertanyaan yang baru pernah ditanyakan, setelah sekian batch berjalan. Bahkan mungkin sejak saya mulai berbagi tentang NLP di tahun 2007.

Begini ceritanya.

Jadi awalnya, saya berkeliling mengecek latihan yang dilakukan peserta saat melakukan proses submodality editing. Saya dapati ada peserta yang kurang pas ambil state untuk diubah. Misalnya, dia malas membereskan rumah. Lalu state yang ingin diubah adalah menurunkan malas.

Nah, kok rasanya ada yg aneh. Karena malas kalau diturunkan, lalu akan jadi apa?

Maka saya pun menyarankan untuk justru menaikkan semangat. Karena malas sejatinya adalah ketiadaan semangat. Seperti gelap adalah ketiadaan cahaya. Menghilangkan gelap bukan dengan menurunkan gelap atau mengurangi gelap. Tapi dengan menambah cahaya.

Nah, keseruan pun berlanjut. Peserta lain lalu menanyakan sebuah pertanyaan yang saya belum pernah memikirkan sebelumnya.

“Lalu jenis state apa saja yang sifatnya ketiadaan state lain, dan apa saja yang bisa dinaik-turunkan langsung tanpa mengisi dengan yang sebaliknya?”

Beberapa saat berpikir, muncullah sebuah pemahaman baru. Bahwa nama state itu kan sejatinya hanya label. Senang, sedih, semangat, lesu. Nominalisasi, kalau kita pinjam istilah dalam Meta Model.

Apa riilnya yg ada di diri kita?

Ya ‘cuma’ sensasi. Secara submodalitas kinestetik ya ‘hanya’ gerakan, suhu, dll.

Nah, sensasi ini kan ada yang jenisnya berupa intensitas naik dan ada yang turun. Semangat itu jenisnya naik. Malas itu jenisnya turun. Jadi ketika ingin menghilangkan malas, ya ada yg perlu dinaikkan. Malas tidak bisa diturunkan, karena malas itu sendiri sudah turun.

Sebagaimana state rileks. Kalau kita ingin rileks dan menghilangkan insomnia, kita tidak bisa meningkatkan rileks karena rileks itu jenis state yang intensitasnya menurun. Maka state rileks bisa dicapai dengan menurunkan konsentrasi, misalnya. Menurunkan ketegangan. Melepaskan pikiran. Dan seterusnya.

Demikian. Semoga manfaat ya.

Mencicipi NLP Essentials 2 – Relationship Excellence

Sesuai janji di artikel sebelumnya, kita akan lanjutkan bahasan tentang NLP for Excellent Life ya..

Setelah kemarin kita bedah tentang Personal Excellence, kita lanjut ke tahap berikutnya, yakni Relationship Excellence..

Menarik untuk diselami, bahwa para pelopor NLP menyimpulkan bahwa para terapis ahli yang dimodel sejatinya bukanlah semata pakar dalam terapi. Melainkan juga mereka adalah para komunikator ulung.

Sebab terapi, sejatinya adalah proses mengkomunikasikan ide dari terapis kepada kliennya. Bagaimana tidak? Sedang para klien adalah orang yang sedang berada dalam kondisi psikologis tidak stabil, kok ya bisa-bisanya mereka membangun hubungan, yang menimbulkan kepercayaan, sehingga klien bersedia terbuka, dan membuka diri, untuk kemudian menemukan pembelajaran baru.

Tidak mengherankan, kalau kemudian model dan teknik yang digunakan oleh para terapis handal itu bisa diaplikasikan juga ke dalam kehidupan sehari-hari.

Jika di Personal Excellence kita mempelajari 2 kompetensi: Kesadaran Diri dan Manajemen Diri, maka di Relationship Excellence kita membedah 2 kompetensi lagi:

1. Kesadaran Relasi.

2. Manajemen Relasi.

Apa sih maksudnya sadar relasi?

Pernah ketemu orang yang senengnya ngomooooong terus, padahal yang diajak bicara sudah gak tahan ingin segera mengakhiri?

Pernah juga kah menawarkan sebuah ide yang orang lain tolak padahal kita kira ia sepakat?

Nah, inilah contoh-contoh kondisi kurang sadar relasi. hehe..

Kesadaran relasi berarti kemampuan untuk menyadari apa yang terjadi pada rekan bicara, sehingga bisa menyelaraskan diri dengannya, yang berujung pada tumbuhnya kepercayaan.

Tanda lahirnya kepercayaan dalam NLP adalah hadirnya keakraban, alias rapport.

Lalu bagaimana membangun keakraban itu? Dengan menyelaraskan diri dengan rekan bicara.

NLP nya? Pacing dong. Caranya? Matching-mirroring dong.

Dulu saya sempat terkecoh, bahwa teknik matching-mirroring adalah aktivitas meniru-niru rekan bicara, agar ia merasa bahwa kita sama dengannya, sehingga kemudian bisa kita arahkan alias leading.

Padahal, esensinya jauh dari itu.

Pacing adalah cara kita memahami model dunia orang lain. Karena peta bukan wilayah, sementara orang merespon petanya, maka untuk bisa memahami orang lain, kita mesti memahami peta yang ia gunakan.

Nah, karena tubuh dan pikiran satu kesatuan yang saling mempengaruhi, maka ketika kita menyesuaikan gerakan tubuh dengan rekan bicara, dan memasang niat memahami, sembari menjernihkan pikiran serta melahirkan rasa tersambung, state kita pun terbentuk.

Kita pun jadi bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Dan karena state berkaitan dengan pikiran, pikiran kita pun diarahkan untuk bisa mengakses kondisi yang mirip, sehingga bisa lah kita memahami apa yang sedang ada dalam pikirannya.

Maka di #NLPEssentials 2, kita tidak hanya latihan meniru-niru. Kita belajar untuk menyesuaikan diri, hingga mampu menyelaraskan emosi.

Nah, jika rapport sudah mulai terbangun, apakah akan selaras seterusnya?

Ya belum tentu. Sebab manusia itu dinamis.

Pernah nggak lagi asyik ngobrol, eh tiba2 rekan bicara kita berubah air mukanya karena mendengar kalimat terakhir yang kita ucapkan?

Nah, perubahan kondisi ini, jika tidak dikenali dan dikelola, bisa merusak kepercayaan.

Maka kita perlu terampil mengenali sinyal-sinyal perubahan state rekan bicara kita, sehalus apapun itu.

Caranya? Sensory acuity dong. Latihan deh kita, mulai dari visual, auditorial, hingga kinestetikal. Akan disadari, perilaku manusia itu pasti memiliki pola. Dan kita bisa berlatih mengenali polanya.

Berbekal kesadaran relasi, kita beranjak ke Manajemen Relasi.

Apa nih maksudnya?

Manajemen Relasi adalah keterampilan mengelola hubungan, mengelola dialog, agar kita pesan yang diterima oleh rekan bicara, sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Sebab komponen komunikasi ada verbal dan non verbal, apa yang terucap kadang dimaknai secara berbeda oleh orang lain.

Bagaimana agar kita bisa memahami pesan orang lain dengan tepat? Kita perlu kemampuan untuk melakukan klarifikasi dengan jeli. NLP nya? Meta Model dong. Model legendaris yang melahirkan model dan teknik lain dalam NLP. Inilah jantungnya NLP.

Bahkan ekstrimnya, menurut saya, bukan praktisi NLP kalau menganggap remeh Meta Model. La wong ini intinya.

Meta Model adalah teknik bertanya secara presisi, untuk mendapatkan informasi berkualitas. Namun sebelum bertanya, praktisi NLP harus cukup peka untuk menangkap pola komunikasi yang sedang digunakan rekan bicara.

Maka Meta Model sejatinya adalah tentang kepekaan kita saat mendengar.

Jika informasi yang didapat sudah lengkap, saatnya kita menyampaikan apa yang kita ingin katakan, secara efektif.

Di titik inilah kita belajar dari Milton Erickson, yang tiap kata yang digunakan begitu presisi. Pola kalimat yang dipakai mengandung banyak asumsi yang disisipkan.

Inilah Milton Model, alias Hypnotic Language.

Ada buanyak sekali pola dalam Milton Model, yang jika kurang memahami esensinya, akan tidak efektif menghasilkan makna.

Saya pernah mendapati seorang rekan menggunakan Milton Model dengan serampangan, yang justru malah berakibat negatif. Atau minimal, tidak berdampak.

Ya, karena memang ia bukan sekedar pola kalimat yang mudah ditiru. Mesti dipahami esensinya, dan dilatih hingga terampil menggunakannya secara alamiah.

Lalu, proses komunikasi pun dilengkapi dengan teknik Reframing. Teknik ini cukup kesohor.

Cuma ya itu, kadang suka kecampur2 dengan teknik2 lain. Atau dianggap sekedar positive thinking.

Padahal, ada filosofi yang dalam di dalamnya.

Semua model dan teknik ada di buku sih. Jadi bisa dipelajari di sana. Tujuan pelatihan bukan menambah informasi, melainkan melatih pola yang benar, dan membedah esensi.

Maka para penggemar bela diri, itu hadir tiap minggu untuk latihan jurus yang itu2 lagi. Tidak bosan2. Sebab memang hanya itulah satu-satunya cara membangun keahlian.

Nah, di #NLPEssentials 2 – Relationship Excellence, kita pulang dengan membawa 2 keterampilan:

1. Keterampilan memahami orang lain.

2. Keterampilan dipahami orang lain.

Seru, kan?

OK, sampai di sini dulu. Silakan diskusi di grup jika ada pertanyaan ya.

Oia, bulan Oktober ini #NLPEssentials akan diadakan pada 15, 16, 22, dan 23 Oktober.

Tidak setiap bulan kami adakan. Jadi, saya tidak tahu seberapa ingin Anda menguasai keterampilan untuk menjadi pribadi unggul? Pribadi yang mandiri, bermanfaat, dan menyenangkan bagi orang-orang di sekitar.

Salam…

Mencicipi NLP Essentials 1 – Personal Excellence

Assalamu’alaikum.. alhamdulillah ada kesempatan lagi untuk melanjutkan bahasan.. saya mau bayar hutang beberapa minggu tidak ada bahasan..

Jadi gini ceritanya. Saya mau bahas hal yang sedikit berbeda kali ini. Bukan bedah buku dalam arti membahas bab, tapi membahas NLP dan perannya dalam kehidupan kita.

Buku saya, dulu diberi judul “NLP: The Art of Enjoying Life”, karena sebuah pemahaman yang waktu itu saya temukan. Bahwa NLP itu alat untuk membantu kita menikmati hidup, sebab banyak hal dalam hidup itu mesti kita jalani, mesti diterima.

Senang dan sedih itu tak tergantung pada apa yang dialami, apa yang dikerjakna, tapi bergantung pada bagaimana kita memaknai. Dan NLP menyediakan buanyak sekali perangkat untuk membantu kita lebih sering menikmati hidup, susah maupun senang.

Tapi kemudian saya menemukan pemahaman baru. Ya nggak baru2 amat sih. Cuma baru nyadar lagi. Bahwa perannya bukan cuma itu. Penggunaan NLP bisa jauh lebih dahsyat lagi.

Awal mulanya sih di sekitaran tahun 2008, ketika saya membaca buku karya Michael Hall, tentang Self Actualization Psychology. Di buku itu, beliau merunut sejarah NLP hingga berujung pada Human Potential Movement yang dipelopori oleh Maslow, Rogers, dkk. Gerakan psikologi mazhab ketiga, yang ingin fokus pada pengembangan potensi manusia.

Kesimpulan beliau, meski tidak secara langsung, ide NLP untuk memodel keunggulan yang dimiliki oleh para ahli (modeling expert), bisa jadi terilhami oleh Human Potential Movement (HPM) itu. Karena tokoh-tokoh yang dimodel oleh Bandler dan Grinder, seperti Perls dan Satir, keduanya adalah pegiat juga di Esalen Institute, lokasi tempat berkumpulnya para penggerak HPM.

Nah, jadi menarik ketika dirunut hingga Maslow tadi. Maslow, melahirkan teori tentang Aktualisasi Diri, bermula dari risetnya terhadap orang-orang yang sehat dan berfungsi optimal. Orang2 yang beliau sebut sebagai Actualized Person. Orang yang telah berhasil mengaktualisasikan potensi dirinya secara utuh.

Kalau menggunakan istilah NLP, maka Maslow bisa dibilang modeler (pemodel) pertama, jauh sebelum Bandler dan Grinder memodel Perls, Satir, dan Erickson.

Nah, bedanya, jika NLP fokus memodel keterampilan, Maslow memodel manusianya. Berusaha memahami manusianya secara utuh.

Pertama kali saya baca runutan oleh Michael Hall ini, saya nggak terlalu ambil pusing. Sampai ketika 2013 saya berkesempatan belajar langsung dari beliau, lalu kok kayak2nya baru bisa memahami cara beliau bertutur, saya pelajari ulang seluruh buku beliau yang saya punya. Saya pun baru paham.

Dan dari pemahaman itu muncul simpulan baru, bahwa NLP ini bukan sekedar alat bantu menikmati hidup. Tapi NLP ini adalah alat bantu untuk memodel keunggulan para ahli, agar kita pun bisa mencapai tingkat keahlian yang tertinggi yang bisa kita capai.

Singkatnya, NLP adalah alat bantu untuk mengaktualisasikan diri. Ini sudah saya tulis di artikel di web. Silakan mampir ya.

Nah, lalu bagaimana praktiknya?

Gimana hayo? Kasih tahu nggak ya..

Mau tau aja apa mau tau banget..

Ook ok.. saya kasih tahu deh..

Maka jadilah kami desain skema NLP for Excellent Life. Ini adalah NLP yang dirangkai dan dikemas, agar bisa membantu siapapun untuk jadi pribadi unggul.

Sebab model dan teknik dalam NLP demikian buanyaknya.. terutama teknik untuk terapi, yang tidak banyak orang awam butuhkan, maka perlu dipilah-pilah. Contoh, teknik ampuh atasi fobia yang kesohor, Fast Phobia Cure aka Visual Kinesthetic Dissociation itu, saya sendiri nggak pernah pakai untuk diri sendiri. La wong saya nggak punya fobia atau trauma. Saya pakai hanya ketika membantu orang lain saja.

Nah, di NLP buanyak sekali teknik seperti itu. Maka rasa-rasanya memang perlu dipilah. Mana teknik yang bisa dipakai dan bermanfaat untuk sehari-hari, dan mana yang khusus bagi terapis atau coach.

Singkat cerita, kami menemukan Excellent Life itu berkisar antara dua hal. Pertama adalah Manajemen Diri. Kedua adalah Manajemen Relasi.

Orang jadi ekselen ketika ia bisa mengelola dirinya, hingga mandiri, mampu mencapai apa yang jadi tujuannya. Lalu setelah itu ia mampu berkolaborasi dengan orang lain secara harmonis.

Jadilah NLP for Excellent Life itu dua bagian besar. Pertama Personal Excellence, kedua Relationship Excellence. Keterampilan keduanya nanti jadi dasar bagi keterampilan lanjutan untuk para coach dan terapis. Coach dan terapis, mesti berdamai dengan diri dulu, lalu ahli membangun relasi, baru bisa membantu orang lain.

Nah.. bagaimana persisnya menjadi pribadi unggul itu?

Ada 2 bagian besar. Pertama adalah mengenali diri. Kedua adalah mengelola diri.

Untuk memiliki relasi yang unggul pun ada 2 bagian besar. Pertama, kesadaran relasi. Kedua, manajemen relasi.

Yes, kami meminjam ide ini dari skema The New Leaders nya Daniel Goleman.

OK, mari kita bahas soal Personal Excellence dulu ya. Dalam artikel lanjutan akan kita bahas Relationship Excellence, insya Allah.

Bagaimana sih kita mengenal diri? Ya dengan mengenal bagaimana sebenarnya kita berpikir, merasa, dan bertindak. NLP nya? Human Model of the World. Hehe…

Dibedah lebih lanjut, dari Human Model of the World, kan kuncinya ada di pengelolaan Internal Rep dan state tuh. Nah, kita bedah deh bagaimana cara kerjanya Internal Rep aka persepsi itu.

NLP nya? Ya materi tentang Rep system, lalu submodality. Memahami submodality menjadikan kita mengenal diri, sebab kita jadi tahu bagaimana sebenarnya pikiran ini bekerja. Bahwa masalah itu tidak terletak pada kejadiannya, melainkan pada cara kita menyimpan informasi dalam pikiran.

Dari mengenal submodality, lanjut deh ke Manajemen Diri. NLP nya? Submodality Editing. Plus teknik-teknik kembangannya seperti Circle of Excellence dan anchoring.

Nah.. cuma submodality editing itu kan cara mengelola state yang basic. Padahal ada state yang kompleks. Gimana cara ngelolanya?

Ya dengan membedah lagi state yang kompleks itu. NLP nya? Neuro-Logical Level (NLL). Nah, serunya, NLL ini akan memahamkan kita akan kompleksitas pikiran dan perasaan.

Lebih jauh lagi, NLL di Personal Excellence diangkat lebih tinggi aplikasinya. Yang tadinya hanya untuk penyelarasan diri, kini dipakai untuk 2 hal.

Pertama, digunakan untuk mengenal diri lebih dalam, hingga ke level spiritualitas, hingga membantu kita menemukan misi hidup. Alasan keberadaan kita dalam tiap konteks.

Wuih.. sampai situ? Iya. Dari misi itulah kemudian kita bisa merumuskan visi hidup. Yang komprehensif, meliputi aspek Spiritual, Intelektual, Sosial, dan Fisikal. Kerangka ini kami pinjam dari Stephen R. Covey.

Kedua, NLL digunakan juga untuk memodel orang lain. Wah, bisa to? Ya bisa banget. Karena NLL menggambarkan kompleksitas berpikir dan bertindak, dan keahlian orang lain juga kompleks, maka membutuhkan skema untuk mempelajarinya. Dengan NLL, kita jadi lebih presisi kala memodel orang lain. Kita petain deh tuh level demi level keahliannya.

Sejak NLP Essentials perdana tahun lalu hingga kini, sudah macam2 yang dimodel. Mulai dari cara mengajar, cara menjadi supermom, cara memasak, dll.

Semua berbekal NLL.

Nah.. singkat cerita.. setelah dapat misi dan rumuskan visi.. saatnya kita beraksi..

Detilkan deh itu visi jadi target, lalu langkah-langkahnya.

NLP nya? Well Formed Outcome dong.. 18 pertanyaan.

Maka selama 2 hari belajar Personal Excellence, setidaknya kita bawa pulang 3 hari..

1. Keterampilan mengelola emosi.

2. Keterampilan mengenali misi dan merumuskan visi.

3. Keterampilan merancang eksekusi.

Semuanya praktis. Plus, filosofis. Ya, NLP memang aslinya pragmatis. Tapi kami menambahkan filosofi, agar tiap teknik memiliki ruh.

Nah.. bagaimana dengan Relationship Excellence?

Silakan simak di artikel berikutnya.

Kata-kata Para Ahli

Seri Kenalan dengan NLP #3

Halo, Sobat! Bagaimana mood Anda hari ini?

Jika menyenangkan, ah, tentu Anda bertanya-tanya, apa saja yang sudah Anda katakana kepada diri ini Anda sepanjang hari?

Jika kurang menyenangkan, saya pun jadi penasaran, setelah mempelajari 2 artikal sebelumnya, apa saja hal yang Anda katakan pada diri Anda? Dan bagaimana Anda ingin mengubahnya?

(more…)

NLP: Dari Kata ke Kata

Seri Kenalan dengan NLP #2

Apa kabar? Bagaimana pagi Anda, Sobat? Setelah membaca artikel “NLP? Apaan Tuh?” kemarin, apa saja yang sudah dipraktikkan?

OK, mari kita tinjau sejenak. Saya berasumsi Anda sudah menjalankan latihan di bagian akhir artikel tersebut. Dan saya sungguh amat penasaran, apa saja yang Anda temukan setelah mencobanya.