Circle of Excellence

Circle of Excellence

Circle of Excellence adalah sebuah teknik NLP yang didevelop oleh Dr. John Grinder. Teknik ini bermanfaat untuk mengakses state yang diperlukan untuk melakukan sebuah perilaku tertentu. Misalnya, Anda grogi saat harus berbicara di depan jajaran direksi. Maka, Anda bisa mengakses state lain yang diperlukan supaya Anda mampu berbicara dengan baik di depan direksi. Anda bisa saja mengakses state percaya diri dan tenang, misalnya. Bagaimana tekniknya? Mari kita simak langkah demi langkah untuk melakukan teknik Circle of Excellence ini.

Pertama, identifikasi pemicu dari state yang tidak memberdayakan.

Misalnya dalam kasus di atas, apa tepatnya yang memicu state grogi? Sadari pikiran yang muncul dalam benak Anda. Misalnya, pemicunya adalah bayangan jajaran direksi yang menatap ke Anda, ini artinya pemicu dari state tersebut bersifat visual. Silakan Anda tes, bayangkan gambar tersebut kembali, apakah state groginya muncul? Jika iya, berarti benar itu adalah pemicunya. Dengan kata lain, ini adalah anchor negatif Anda. Perhatikan, pemicu tidak selalu berupa gambar, bisa suara, sensasi, bau atau rasa tertentu (VAKOG). Setelah Anda menemukan pemicunya, untuk sementara simpan kembali pemicu tersebut. Singkirkan dari benak Anda.

Kedua, ciptakan lingkaran imajiner.

Ciptakan lingkarang imajiner pada lantai di depan Anda, Anda juga boleh menggambarkannya di lantai dengan kapur. Bebaskan diri Anda menentukan besar dan warna lingkaran tersebut.

Ketiga, akses state yang Anda inginkan.

State apa yang ingin Anda munculkan? Percaya diri dan tenang? Sekarang akses state yang Anda inginkan satu per satu. Mulailah dengan mengingat kembali saat Anda merasakan state percaya diri. Apa yang Anda lihat, dengar dan rasakan? Saat state percaya dirinya mulai terasa memuncak, masuklah ke dalam lingkaran tersebut. Asosiasikan diri Anda dengan state percaya diri yang muncul. Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan. Saat state tersebut mulai melemah, keluarlah dari lingkaran. Pastikan Anda berada di dalam lingkaran hanya ketika state Anda berada di puncaknya. Ulangi langkah ini beberapa kali bila diperlukan.

Keempat, akses state lainnya.

Sekarang, munculkan state lain yang ingin Anda akses. Dalam contoh di atas misalnya adalah state tenang. Ingat kembali rasa tenang yang pernah Anda rasakan. Saat ketenangannya muncul, masuklah ke dalam lingkaran. Keluarlah dari lingkaran ketika rasa tenangnya mulai menghilang.

Kelima, uji lingkaran keunggulan Anda.

Dari state yang netral, masuklah ke dalam lingkaran. Jika Anda dapat merasakan state percaya diri dan tenang ketika Anda masuk ke dalam lingkaran artinya circle of excellence Anda sudah tercipta. Bila belum, ulangi kembali langkah ketiga dan keempat.

Keenam, gunakan lingkaran keunggulan Anda.

Akses kembali pemicu yang tidak memberdayakan (dalam contoh di atas bayangan jajaran direksi) sambil Anda masuk ke dalam lingkaran. Ulangi beberapa kali. Ini akan meruntuhkan anchor negatif yang Anda miliki sebelumnya.

Sampai sini mungkin Anda bisa menyimpulkan bahwa Circle of Excellence sebenarnya adalah salah satu turunan dari teknik Anchoring. Pada saat kita menggunakan anchor untuk meruntuhkan anchor sebelumnya, kita memberinya dengan istilah Collapsing Anchor.

Mengelola Mood dengan Anchoring

Mengelola Mood dengan Anchoring

Pernah mengalami kejadian seperti ini?

  • Anda melihat foto kenangan, otomatis pikiran Anda melayang ke masa lalu, dan merasakan kembali suasana saaat itu.
  • Anda mendengar sebuah lagu lama, otomatis pikiran Anda melayang ke masa lalu, dan merasakan kembali suasana saat itu.
  • Anda melihat bendera negara dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan, perasaan bangga dan cinta tanah air Anda pun muncul.
  • Anda mencium aroma tertentu, Anda otomatis ingat dengan tempat tertentu.

Dalam khasanah NLP, stimulus seperti foto, aroma, dan lagu tertentu di atas disebut dengan anchor (jangkar). Sehingga kita dapat definisikan anchor sebagai sebuah stimulus yang dapat memicu sebuat respons otomatis tertentu: entah pikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh-contoh di atas adalah anchor yang terbentuk secara tidak sengaja. Menariknya, kita pun dapat membuat anchor dengan sengaja untuk mengakses perasaan yang kita inginkan.

Proses yang terjadi saat terbentuknya anchor mirip dengan penelitian Dr. Pavlov (ilmuan Rusia) pada, maaf, anjing. Dr. Pavlov menyimpan anjing-anjing kelaparan dalam sebuah kandang. Lalu, mereka disuguhi daging untuk mereka makan. Melihat makanan tersedia, anjing-anjing itu pun mengeluarkan air liur – pada saat itulah bel dibunyikan. Demikian proses pengkondisian dilakukan berulang-ulang: setiap kali daging muncul dan air liur anjing keluar, bel dibunyikan. Proses ini diulang beberapa kali. Sampai akhirnya, anjing-anjing ini mengasosiasikan bunyi bel dengan daging/makanan. Setiap kali bel dibunyikan anjing-anjing yang diteliti Pavlov secara otomatis mengeluarkan air liur. Pengkondisian stimulus-respon pun sudah terjadi. Kesimpulan singkatnya, setelah proses pengkondisian maka sebuah respon (perilaku) akan muncul otomatis setiap kali stimulus (rangsangan) diberikan.

Menariknya, manusia pun dapat “terkondisikan” baik secara sengaja maupun tak sengaja. Dalam NLP, proses pengkondisian seperti ini disebut anchoring, yaitu proses mengasosiasikan respon internal dengan pemicu atau stimulus eksternal, sehingga respon tersebut muncul dengan cepat dan otomatis. Stimulus dalam anchoring ini dapat berupa informasi visual, auditory, kinestetik, olfactory, maupun gustatory.

Kita dapat melakukan anchoring dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini.

Access

Munculkan state (baca: mood, perasaan, emosi) yang ingin Anda dapatkan, katakanlah state percaya diri. Anda dapat memunculkan state ini dengan:

  • Mengingat-ingat pengalaman percaya diri yang pernah Anda alami, atau
  • Membayangkan seperti apa diri Anda saat Anda begitu percaya diri, atau
  • Membayangkan sosok yang Anda anggap begitu percaya diri.

State terbaik untuk di-achor adalah state yang sedang terjadi. Terbaik berikutnya adalah states yang pernah terjadi di masa lalu yang dapat dirasakan kembali dengan jelas saat ini. Terakhir, barulah state imajinatif.

Amplify

Perkuat pengalaman Anda dengan memperjelas bayangan, suara dan sensasi fisik yang Anda rasakan. Beri warna yang lebih cerah dalam gambaran mental Anda (atur ulang submodalitas-nya, silakan baca bahasan sebelum ini). Lalu, masuklah Anda ke dalam pengalaman tersebut (asosiasi). Menyatulah diri Anda dengan perasaan percaya diri ini. Sesuaikan fisiologi tubuh Anda.

Anchor

Perkuat lagi state percaya diri ini dengan menarik napas panjang dan dalam. Sebelum tarikan napas Anda sampai pada puncaknya, pasang anchor-nya (misalnya dengan mengepalkan tangan, menyentuh dagu atau dengan kode lainnya). Lalu, saat setelah sampai di puncak pengalaman, hembuskan nafas Anda perlahan-lahan sambil melepaskan anchor Anda. Ulangi proses ini beberapa kali.

Apply

Sekarang bayangkan kapan dan dimana Anda akan menggunakan anchor ini. Dalam benak Anda, imajinasikan Anda sedang mengalami situasi tersebut. Lalu picu anchor Anda.

Test

Lakukan tes, kepalkan tangan Anda dan rasakan state percaya diri yang muncul. Oya, ingatlah untuk melakukan break state (istirahat, berinteraksi dengan lingkungan, memikirkan hal lain) sebelum melakukan tes. Jika hasilnya masih belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan, ulangi prosesnya.

Dengan keterampilan anchor ini, Anda dapat mengakses state apapun yang Anda inginkan: percaya diri, bahagia, tenang, rileks, bijaksana, berani…, dan Anda dapat mengaksesnya kapanpun. Tentu saja, sama seperti keterampilan lain, Anda perlu berlatih secara teratur agar keterampilan anchoring ini menyatu dengan diri Anda.

Oya, agar anchor dapat bekerja lebih efektif maka dalam membentuk anchor Anda perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  • Associate (asosiasi): pastikan Anda menyatu dengan perasaan yang ingin Anda akses.
  • Intensitas emosi: tingkatkan intensitas emosi dengan mengatur ulang fisiologi dan submodalitasnya.
  • Unique (khas): buatlah pemicu yang unik (misal dengan menyentuh telinga, menyatukan tiga jari, menyentuh tulang iga sebelah kiri…)
  • Momentum: pasang anchor tepat sebelum emosi tersebut pada puncaknya.
  • Repetisi: Ulangi beberapa kali agar anchor tersebut menjadi otomatis.

Selamat Berlatih!

Asosiasi & Disosiasi (2)

Asosiasi & Disosiasi (2)

Sepanjang perjalanan hidup, sadarkah kita, saat ada teman yang sedang bermasalah, kita mudah sekali memberikan solusi (ide/saran/nasihat) untuk mereka? Namun, saat kita mengalami masalah yang sama, kok rasanya sulit sekali menemukan solusi sendiri ya?

Inilah karakteristik asosiasi/disosiasi. Saat orang lain yang punya masalah, kita terdisosiasi dari masalahnya sehingga kita bisa melihat masalah tersebut dengan jernih. Lalu, kita pun bisa memikirkan solusi-solusi yang memungkinkan.

Sementara saat kita yang mengalami masalah, kita terasosiasi dengan masalah tersebut. Sehingga kita tidak dapat melihat masalah dengan jernih, solusi pun menjadi sulit ditemukan.

Ini ibarat pemain bola dan komentator sepak bola. Dimana-mana, komentator sepak bola itu lebih pintar daripada pemainnya. Mengapa? Karena dia disosiasi dari permainan, sehingga ia dapat menganalisis permainan dari berbagai sudut pandang. Apa yang terjadi bila di ajadi pemain? Bisa jadi dia tidak akan sehebat saat jadi komentator, karena saat menjadi pemain dia terasosiasi dengan permainannya. Dia merasakan emosi dan lelahnya berlari.

Inilah kekuatas disosiasi dan asosiasi.

Mengapa ada orang yang kaku dan kritis, sementara ada orang yang luwes dan menyenangkan? Orang menjadi kaku dan kritis biasanya karena dia berada dalam mode disosiasi saat bertemu dengan orang lain. Orang menjadi luwes dan menyenangkan biasanya karena dia berada dalam mode asosiasi saat bertemu dengan orang lain.

Pernah diajari metode visualisasi untuk mewujudkan impian? Mana yang lebih efektif: kita visualisasi secara asosiasi atau disosiasi?

Banyak yang mengajarkan visualiasi secara asosiasi. Kita diminta membayangkan dan merasakan seakan-akan sudah mencapai tujuan kita. Lalu, apa yang terjadi? Kita merasa puas, karena merasa sudah mencapainya… lalu kita berhenti berusaha. Dampaknya, tujuan kita pun tidak tercapai.

Akan lebih baik bila setelah asosiasi, kita disosiasi dari pengalaman tersebut. Melihat diri kita di sana sudah mencapai tujuan kita. Sehingga kita tergerak untuk mencapainya. Bahkan, jika ingin semakin efektif, kita bayangkan juga diri kita sedang dalam proses bertindak – bekerja keras mencapainya. Ini lebih efektif menggerakkan kita.

Asosiasi/disosiasi ini hal yang sederhana, namun perlu dilatih agar kita terampil menggunakannya. Bagaimana teknis melatihnya?

Berikut cara yang paling sederhana.

Bila Anda sedang mengalami masalah, duduklah di sebuah kursi. Rasakan masalahnya (asosiasi). Lalu, berdiri dari kursi tersebut, melangkah satu langkah dan berbalik melihat ke arah kursi. Bayangkan di kursi tersebut duduk diri Anda yang punya masalah (disosiasi). Bila ini masih sulit, bayangkan orang yang punya masalah di kursi itu adalah orang lain. Sekarang, dalam posisi disosiasi ini, tanyakan ke diri Anda: nasihat apa yang bisa saya berikan ke dia?

Cara lainnya:

Pikirkan hal yang membuat Anda bersemangat. Rasakan semangatnya di dalam tubuh Anda (asosiasi). Melangkah mundur satu langkah ke belakang, tinggalkan rasa semangatnya di depan Anda (disosiasi). Melangkah ke depan, masuk lagi dan rasakan semangatnya (asosiasi). Melangkah mundur, tinggalkan semangatnya di depan (disosiasi).

Melatih asosiasi/disosiasi ini pun dapat kita lakukan dalam keseharian. Saat bertemu dengan kawan yang sedang bersedih, berempatilah (asosiasi) lalu melangkah ke belakang (disosiasi) supaya Anda bisa memberi support kepada orang yang sedang bersedih tersebut.

Saat terlalu gembira menerima sebuah kabar, segera melangkah ke belakang (atau minimal geser punggung kita ke belakang; seperti akan menyender). Tinggalkan rasa terlalu gembira-nya di depan. Dengan latihan seperti ini, Anda tidak akan mudah masuk bujuk rayu penjual atau masuk dalam sugesti penghipnotis 😁

Asosiasi & Disosiasi (1)

Asosiasi & Disosiasi (1)

Di artikel kali ini saya akan membahas salah satu konsep penting dalam NLP yaitu asosiasi dan disosiasi. Makanan macam apakah ini? Dan apa manfaatnya?

Sebelum kita masuk ke bahasan, saya ingin Anda mengalami sesuatu terlebih dulu. Saya ingin Anda membayangkan diri Anda sedang duduk di roller coaster. Silakan pasang sabuk pengaman Anda. Sekarang, rasakan perlahan-lahan roller coaster yang Anda naiki mulai bergerak. Semakin cepat dan semakiiiiin cepaaaaat…wuzzzzzz…. Naik… turun…. Lalu berhenti. Agar lebih khusyu, Anda boleh membayangkannya sambil menutup mata.

Silakan ulangi latihan di atas agar Anda memahami penjelasan nanti. Apa yang Anda rasakan? Apakah jantung Anda berdetak lebih kencang saat membayangkannya?

Ini latihan pertama.

Sekarang, kita lakukan latihan berikutnya. Masih tentang membayangkan diri Anda naik roller coaster. Namun kini, bayangkan Anda melihat diri Anda di depan sana sedang naik roller coaster. Anda bisa melihat diri Anda memasang sabuk pengaman. Lalu Anda melihat roller coaster itu mulai bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat, naik… turun… lalu berhenti.

Pertanyaan sekarang, apakah Anda merasakan hal yang sama dengan latihan sebelumnya?

Biasanya tidak. Anda merasa biasa saja. Jantung Anda tidak berdetak lebih kencang seperti pengalaman pertama. Dalam NLP, pengalaman di latihan pertama diistilahkan dengan asosiasi, Anda mengalami dan melihat dari mata kepala Anda sendiri. Sementara pengalaman kedua diistilahkan dengan disosiasi, Anda melihat diri Anda sedang mengalami sesuatu.

Saat kita membayangkan/mengingat sesuatu, ada dua kemungkinan bentuk bayangan/ingatannya: asosiasi atau disosiasi. Konsep ini sederhana, namun banyak dari kita tidak mengenali sebelumnya.

Berikut saya beri gambaran lain agar kita lebih paham asosiasi dan disosiasi. Katakanlah kita membayangkan punya mobil mewah, kita dapat membayangkannya secara asosiasi atau disosiasi.

Asosiasi:

Disosiasi:

Kebayang bedanya?

Saat asosiasi, kita menyatu dengan pengalaman, kita sebagai pelaku. Sementara saat disosiasi, kita terpisah dengan pengalaman, kita sebagai pengamat.

Kita terasosiasi saat kita menyatu dengan pengalaman kita. Hadir utuh di sini saat ini. Larut dengan apa yang kita lakukan tanpa menyadari bergesernya waktu. Pikiran dan perasaan kita menyatu dengan tubuh kita, merasakan sensasi yang muncul di tubuh kita.

Asosiasi bermanfaat untuk:

  • Menikmati pengalaman menyenangkan/bahagia/positif.
  • Menikmati memori menyenangkan/bahagia/positif.
  • Melatih keterampilan.
  • Mengobrol dengan kawan.

Kita terdisosiasi saat kita terpisah dari pengalaman kita. Memikirkan pengalaman bukannya mengalami/merasakannya kembali. Kita melihat diri kita sedang melakukan sesuatu bukannya melihat dari mata kepala Anda sendiri. Kita menyadari waktu berlalu.

Disosiasi bermanfaat untuk:

  • Meninjau sebuah pengalaman.
  • Mengambil pelajaran dari masa lalu.
  • Mengevaluasi keterampilan.
  • Melepaskan “rasa sakit” dari pengalaman tidak menyenangkan.

Nah, menariknya kita bisa melatih asosiasi dan disosiasi, kita bisa melatih diri kita masuk dan keluar dari sebuah pengalaman.  Sayangnya, mode asosiasi/disosiasi kita terjadi tanpa kita sadari (unconscious). Untungnya, setelah kita memahami konsep ini kita bisa mengaturnya secara sadar. Kapan kita masuk (asosiasi) dan kapan kita keluar (disosiasi) dari pengalaman kita.

Latihan Mengedit Pikiran

Latihan Mengedit Pikiran

Menurut disiplin ilmu NLP, “berpikir” adalah kegiatan memutar film, gambar, suara atau sensasi di dalam benak kita. Untuk memudahkan, kita sebut film/gambar/suara/sensasi ini sebagai “film mental.” Film mental ini memengaruhi apa yang kita rasakan dalam tubuh kita; state (perasaan/emosi) kita. Menyadari film mental yang kita putar dalam benak kita adalah keterampilan penting agar kita mampu mengelola state kita.

Film mental dalam benak kita muncul begitu cepatnya tanpa kita sadari. Untuk “menghentikan”, mengamati dan memodifikasinya kita perlu berlatih menyadarinya. Luangkan waktu setiap hari untuk melatih diri menyadari film mental yang kita putar di dalam benak kita.

Sebagian besar film mental dalam benak kita muncul secara otomatis. Bila kita tidak mengendalikannya, maka kita akan dikendalikan olehnya. Mengendalikan secara penuh tentu saja tidak bisa, namun kita dapat berlatih untuk mengelola dan mengeditnya.

Ibarat seorang sutradara, kita punya hak untuk mengatur skenario yang kita putar dalam benak kita. Kita punya hak untuk mengelola tampilan film di dalam benak kita.

Ide film mental ini memang hanya metafora, meski demikian ide ini sangat bermanfaat dalam memahami dan mengelola diri sendiri.

Film mental yang kita ciptakan di dalam benak kita akan menjadi peta untuk menjalani hidup kita. Kita menciptakannya, merekamnya, menyimpannya dan memutarnya untuk memandu pilihan-pilihan serta tindakan-tindakan kita. Bila kita mampu mengubah elemen di dalam film mental ini, kita tidak hanya akan mengubah filmya. Mengubah elemen dalam film mental akan mengubah keputusan, tindakan, kata-kata, perilaku, dan emosi kita.

Dalam artikel kali ini saya akan bagikan latihan-latihan praktis untuk mengedit pikiran yang mengganggu. Langsung saja ya…

Latihan #1

Apakah Anda memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang mengganggu diri Anda? Bukan pengalaman traumatik, melainkan sekadar pengalaman tidak nyaman saja. Ada? Perasaan apa yang muncul bila Anda mengingatknya? Kesal? Marah? Sedih? Kecewa? Atau apa? Beri nama pada perasaan tersebut. Lalu periksa, di skala berapakah rasa tersebut saat ini? Gunakan skala 1-10. Sekarang, saya ingin Anda membayangkan di depan Anda ada sebuah televisi hitam putih kuno. Putar kejadian yang tidak menyenangkan di televisi tersebut. Lihat diri Anda yang sedang mengalami peristiwanya di dalam televisi hitam putih itu. Geser dan jauhkan televisinya, lalu buat gambarnya menjadi agak kabur. Sekarang, periksa kembali perasaan Anda? Sudah turun di skala berapa kah rasanya?

Latihan #2

Apakah Anda memiliki kenalan yang kurang Anda sukai? Mungkin Anda kesal atau marah kalau mengingatnya? Jika Anda ingin menetralisir atau paling tidak mengurangi perasaan Anda kepadanya, Anda boleh melakukan latihan berikut.

Munculkan gambar orang tersebut dalam pikiran Anda. Buat menjadi diam seperti foto. Lalu, beri bingkai yang lucu (misal bingkai bunga-bunga). Bagaimana perasaan Anda sekarang? Jika, Anda masih ingin menguranginya, Anda boleh menambahkan blush-on warna merah di pipinya dan bola bulat merah di hidungnya. Bagaimana perasaan Anda sekarang? Berubah bukan?

Latihan #3

Pilih pengalaman yang kurang menyenangkan. Amati gambar yang muncul di pikiran Anda. Putar musik yang lucu untuk mengiringinya (misal soundtrack Doraemon), bagaimana perasaan Anda?

Latihan #4

Pilih pengalaman yang memunculkan perasaan yang kurang nyaman dalam diri Anda. Amati perasaan tidak nyaman itu. Di bagian tubuh mana lokasinya? Apakah dia diam atau bergerak? Dengan imajinasi Anda, pindahkan lokasinya. Buat dia bergerak naik… turun… kemudian menuju ubun-ubun dan lepaskan… biarkan dia lepas ke udara… lakukan berulang-ulang sampai perasaan tidak nyaman tersebut hilang…

Selamat berlatih!

Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Kejadian, Pikiran dan Emosi yang Kita Rasakan

Bila kita ibaratkan pikiran sebagai film, maka submodalitas adalah “kualitas efek” dari filmnya. Kualitas efek gambar dan suara yang ada di sebuah film lah yang memengaruhi emosi kita saat menontonnya. Kita merasa takut saat menonton film horor karena efek visual dan audio yang ada di film tersebut. Coba bayangkan, bila Anda menonton film horor di bioskop dengan layar lebar dengan di televisi dengan layar hanya 14” apakah sama rasanya? Bandingkan kualitas suara surround di bioskop dengan suara dari speaker tv Anda, apakah rasa yang dihasilkan sama? Tentu saja berbeda. Kualitas efek audio visual sebuah film menentukan besar kecilnya perasaan yang kita rasakan. Demikian juga film di pikiran kita, struktur VAK di dalam pikiran kita memengaruhi emosi yang kita rasakan.

Apa yang terjadi bila kita mengalami sebuah hari yang buruk (dimarahi oleh boss misalnya) kemudian Anda merasa kesal. Lalu Anda berulang-ulang memutar kembali kejadiannya di dalam benak Anda dengan gambar yang jernih, berwarna, terang, besar dan suara yang jelas? Dapatkah Anda move on dari rasa kesal Anda? Atau Anda justru semakin membesarkan dan menghidupkannya? Lalu, apa yang mungkin terjadi bila Anda mengecilkan suaranya, mengecilkan gambarnya, memutar kejadiannya dengan gambar yang kabur dan hitam putih? Apakah ada kemungkinan rasa kesalnya mengecil atau bahkan menghilang? Dalam sebagian besar kasus, it’s work. Anda bisa mencobanya sekarang.

Hal yang memicu emosi kita bukanlah kejadian di luar kita. Hal yang memicu kita adalah kejadian yang kita putar di kepala kita. Kejadian apapun di luar kita sebenarnya netral, kitalah yang melabelinya dengan baik atau buruk, positif atau negatif. Kita lah yang baper-an, suka menghubung-hubungkan kejadian di luar kita dengan perasaan tertentu.  Kita sendiri lah sebenarnya yang memicu rasa kesal dalam diri kita. Kita sendiri lah yang memicu rasa marah, senang, sedih dan berbagai rasa lainnya yang kita rasakan. Tidak ada seorang pun yang dapat memengaruhi perasaan kita sampai kita mengizinkannya.

Banyak orang menganggap emosi yang kita rasakan ini bersifat alamiah dan otomatis. Padahal menurut penelitian terbaru, emosi kita direkonstruksi oleh kita berdasarkan memori dan pengalaman kita. Kita lah yang menentukan ingin merasakan emosi apa. Inilah sebabnya, dua orang yang mengalami kejadian yang sama bisa saja merasakan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama-sama mendengar kalau tetangga sebelah membicarakan mereka di belakang, bisa saja merasakan pengalaman yang berbeda. Ada yang mungkin merasa kesal dan marah, sementara satu orang lainnya cuek saja, merasa baik-baik saja. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka memaknainya dengan cara yang berbeda. Si A kesal dan marah mungkin karena ia berpikir “beraninya bicara di belakang, dari dulu saya sudah kesel sama dia, memang saya punya salah apa?” Sementara si B cuek saja karena mungkin ia berpikir “alhamdulillah, ada yang peduli dengan saya. Mungkin Allah menampakkan kejadian ini karena Ia ingin saya memperbaiki diri.” Hasilnya berbeda bukan?

Bukan kejadian namun respon kita terhadap kejadian lah yang membuat hasil-hasil dalam hidup kita berbeda. Kita merasa susah, senang, kesal, marah, karena respon yang kita pilih dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar kita. Pertanyaannya, respon seperti apa yang akan Anda pilih untuk menghadapi kejadian yang Anda alami?