Memahami Struktur Pikiran (3)

Memahami Struktur Pikiran (3)

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa kita merekam pengalaman dalam bentuk gambar, suara dan rasa. Kita pun dapat menganalogikan proses berpikir kita dengan tayangan film. Semakin jelas gambar dan suaranya, semakin berasa efeknya.

Coba Anda bandingkan dua pengalaman. Pertama adalah pengalaman yang sangat berkesan (misal pengalaman menyenangkan, atau membanggakan – pengalaman yang melibatkan emosi Anda). Kedua adalah pengalaman yang biasa saja. Kita mulai dengan memunculkan pengalaman yang sangat berkesan terlebih dulu ya.

Munculkan pengalamannya, ingat-ingat peristiwanya. Sudah?

Sekarang, amati ingatan Anda. Apakah ada gambar yang muncul?

Perhatikan gambarnya, apakah gambarnya hidup seperti film atau diam seperti foto? Apakah gambarnya dekat atau jauh? Berwarna atau hitam putih? Ukurannya besar atau kecil? Gambarnya jelas atau kabur? Panoramik atau berbingkai?

Apakah ada suaranya? Volumenya besar atau kecil? Suaranya ada di sekeliling Anda (surround) atau hanya dari arah tertentu? Cepat atau lambat? Nadanya tinggi atau rendah?

Perhatikan apa yang Anda rasakan sekarang. Apakah muncul perasaan tertentu di tubuh Anda? Di bagian mana? Apakah perasaan tersebut bergerak atau diam? Jika bergerak gerakannya seperti apa? Naik turun, berputar-putar, ke depan belakang atau seperti apa? Jika berputar, putarannya ke arah kanan atau kiri?

Sudah? Anda boleh mencatat jawaban Anda di atas kertas. Jawaban Anda mungkin akan seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Film
  • Dekat
  • Berwarna
  • Besar
  • Jelas
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume sedang
  • Di sekeliling
  • Kecepatan sedang
  • Nada rendah

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Dada
  • Bergerak
  • Berputar ke kiri

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Kita break dulu sebentar. Hitung, 3 x 15 hasilnya berapa? (Ini namanya break state, fungsinya untuk mengubah dari satu kondisi pikiran ke kondisi pikiran lainnya).

Sekarang, pikirkan pengalaman yang biasa saja. Ingat-ingat peristiwanya. Tanyakan daftar pertanyaan yang sama seperti di atas. Kemudian tuliskan jawabannya di atas kertas.

Jawaban Anda mungkin seperti ini:

Gambar (modalitas visual):

  • Diam
  • Dekat
  • Berwarna
  • Sedang
  • Kabur
  • Panoramik

Suara (modalitas auditori)

  • Volume kecil
  • Selainnya tidak jelas

Rasa (modalitas kinestetik)

  • Tidak ada rasa

(Jawaban setiap orang tentu saja berbeda, ini bukan tentang benar-salah)

Bandingkan kedua jawaban Anda. Apakah jawabannya sama persis? Atau ada yang berbeda? Dalam sebagian besar kasus, jawabannya pasti ada yang berbeda. Ada yang perbedaannya sangat kontras, ada yang perbedaannya tipis (hanya pada satu dua sub elemen dari masing-masing modalitas).

Dari latihan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pikiran terdiri dari beberapa modalitas (VAK-OG). Masing-masing modalitas memiliki sub elemen, misalnya modalitas visual sub elemennya bisa saja: bergerak atau diam, jauh atau dekat, berwarna atau hitam putih dsb. Sub elemen dari sebuah modalitas kita istilahkan dengan submodalitas di dalam NLP.

Sehingga kita dapat mengatakan, pengalaman memiliki struktur. Strukturnya adalah modalitas dan submodalitas. Menariknya, ternyata struktur pengalaman kita memengaruhi apa yang kita rasakan. Struktur pengalaman di dalam pikiran kita memengaruhi perasaan kita.

Memahami Struktur Pikiran (2)

Memahami Struktur Pikiran (2)

Kemarin kita sudah belajar bahwa pikiran kita terdiri dari gambar, suara, sensasi, bau, dan rasa (VAKOG). Ini terjadi karena kita menyerap informasi menggunakan kelima indera kita:

  • Penglihatan,
  • Pendengaran,
  • Perabaan/sentuhan,
  • Penciuman,
  • Pengecapan.

Kita melihat sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk gambar. Kita mendengar sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk suara. Kita menyentuh sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk sensasi rasa. Kita mencium sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk bau. Kita mengecap sesuatu, lalu otak kita menyimpan pengalaman tersebut dalam bentuk rasa.

Menariknya, otak kita tidak menyimpan pengalaman seperti kamera. Otak tidak menyimpan gambar persis seperti apa yang kita lihat. Otak tidak menyimpan suara persis seperti apa yang kita dengar. Otak tidak menyimpan sensasi rasa persis seperti apa yang kita sentuh. Otak kita mengolah terlebih dulu informasi berupa gambar, suara, atau rasa tersebut. Kemudian menyimpannya dalam bentuk kepingan-kepingan puzzle, bukan dalam bentuk puzzle yang tersusun utuh. Pada saat kita mengingat, yang kita lakukan adalah mengonstruksi ulang kepingan-kepingan puzzle tersebut.

Masalahnya, saat merekonstruksi ulang, sering kali kita tidak menemukan kepingan puzzle yang kita perlukan. Mengapa? Karena bisa jadi tidak semua puzzle-nya kita simpan, kita hanya menyimpan kepingan puzzle yang kita anggap penting dan berharga. Itulah sebabnya, kita dapat menyimpulkan dan memahami ceramah 30 menit yang kita dengar namun kita tidak dapat mengingat kata demi katanya satu per satu setiap menitnya.

Lucunya lagi, kita juga seringkali mengisi puzzle yang hilang dengan puzzle lain yang sudah kita miliki sebelumnya. Misalnya, kita menghubungkan pengalaman yang kita alami dengan pengalaman sebelumnya. Kadang kala, kita pun secara sengaja atau tidak sengaja menciptakan puzzle baru hasil khayalan/imajinasi kita, tujuannya agar puzzle lama terlihat lebih utuh.

Kita pun sering kali mencari kesamaan antara puzzle yang sekarang dengan puzzle yang sebelumnya. Mencoba menemukan pola yang mirip. Ini terjadi karena otak kita pada dasarnya malas dan ingin menghemat energi. Misalnya, kita mencari-cari kesamaan antara orang yang baru kita kenal dengan database kenalan lama kita. Kita pun suka menyimpulkan sesuatu tergesa-gesa padahal kita baru mendapatkan informasinya secara sekilas.

Ketiga proses ini adalah cara otak mengolah informasi dari indera.

  • Otak menghapus sebagian informasi yang dianggap tidak relevan (deletion).
  • Otak menghubung-hubungkan sebuah informasi dengan informasi lainnya – entah informasi yang bersifat fakta maupun fiksi (distortion).
  • Otak menyimpulkan informasi berdasarkan informasi yang kita miliki sebelumnya (generalization).

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa otak tidak menyimpan pengalaman apa adanya. Apa yang kita pikirkan tentang kenyataan bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Pikiran hanya mewakili kenyataan secara terbatas. Pikiran hanya berusaha merepresentasikan kenyataan, namun dia bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Bila kenyataan adalah sebuah wilayah yang sebenarnya, pikiran kita hanyalah peta yang mewakilinya.

Memahami Struktur Pikiran (1)

Memahami Struktur Pikiran (1)

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pikiran? Apa riilnya? Kalau kita lihat kamus, kita akan mendapatkan definisi sebagai berikut:

pikiran/pi·kir·an/ n 1 hasil berpikir (memikirkan); 2 akal; ingatan; 3 akal (dalam arti daya upaya); 4 angan-angan; gagasan; 5 niat; maksud.

Sementara berpikir memiliki definisi:

berpikir/ber·pi·kir/ v menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.

Jadi, pikiran ini masuk dalam kategori kata benda. Namun, apakah bendanya secara riil ada? Apakah bendanya secara fisik ada? Tidak ada. Sama seperti kata pembicaraaan, kata ini masuk dalam kata benda namun bendanya “tidak ada”. Karena pembicaraan adalah pembendaan (nominalisasi) dari proses berbicara. Prosesnya ada, namun bendanya tidak ada. Pikiran pun sama. Pikiran adalah nominalisasi dari proses berpikir. Hasilnya dan benda untuk melakukan proses berpikir kita namakan pikiran.

Sama seperti pikiran sadar dan tak sadar (bawah sadar), apakah riilnya ada? Tidak ada. Kedua istilah tersebut hanyalah model untuk memudahkan kita memahami proses berpikir. Proses berpikir ada yang kita sadari dan ada yang tidak kita sadari. Pikiran-pikiran yang kita sadari kita sebut dengan pikiran sadar, sementara yang tidak kita sadari kita sebut dengan pikiran tak sadar (atau bawah sadar).

Maka, untuk memahami pikiran, kita perlu memperhatikan prosesnya, bukan pada bendanya. Pada saat kita mengatakan saya sedang memikirkan sesuatu? Apa sebenarnya yang kita lakukan di dalam benak kita? Proses seperti apa yang terjadi dalam diri kita? Mari kita lakukan sedikit eksperimen.

Pikirkan makanan yang Anda suka. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah Anda melihat gambarnya di dalam benak Anda? Anda membayangkannya?

Apakah Anda memunculkan aromanya di dalam ingatan Anda?

Apakah Anda mengingat rasanya di lidah Anda?

Perhatikan, ternyata pikiran muncul dalam bentuk gambar, bau atau rasa.

Sekarang pikirkan salah satu teman SMA Anda. Sudah? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang memikirkannya? Apa yang muncul dalam benak Anda?

Apakah ada gambar wajah teman Anda dalam pikiran Anda?

Apakah ada suaranya?

Apakah Anda ingat baunya?

Perhatikan lagi, pikiran muncul dalam bentuk gambar, suara, atau bau.

Dari eksperimen sederhana ini kita dapat simpulkan bahwa kita berpikir dengan memunculkan gambar, suara, rasa (sentuhan), bau, dan rasa (pengecapan).

Entah kita mengingat sesuatu, atau memikirkan sesuatu yang belum terjadi, kita menggunakan salah satu dari lima modalitas di atas.

  • Modalitas Visual – gambar,
  • Modalitas Auditori – suara,
  • Modalitas Kinestetik – rasa (sentuhan),
  • Modalitas Olfaktori – bau,
  • Modalitas Gustatori – rasa (pengecapan).

Kita menyingkatnya dengan VAKOG – Visual, Auditori, Kinestetik, Olfaktori dan Gustatori.

Pada saat mengingat atau memikirkan sesuatu, kita menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa modalitas di atas. Misalnya, pada saat Anda mengingat buku yang pernah Anda baca, bisa jadi Anda mengingatnya dengan cara memunculkan gambarnya (V) atau memunculkan suaranya (A). Demikian juga saat ada pikiran yang mengganggu, pikiran tersebut bisa jadi berbentuk:

  • Tayangan film (V),
  • Gambar yang terbayang (V),
  • Suara yang terngiang-ngiang (A),
  • Self-talk – kita berbicara dengan diri sendiri (A),
  • Rasa nyeri, tertekan di dada atau rasa lainnya (K).

Nah, dengan memahami struktur dari pikiran ini nantinya kita akan mampu untuk mengelolanya. Bagaimana caranya? Simak saja artikel-artikel berikutnya.

Cara Kerja Pikiran (3)

Cara Kerja Pikiran (3)

Di artikel yang lalu kita sudah belajar perilaku dipengaruhi oleh perasaan. Maka, saat kita ingin mendorong diri untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang kita inginkan, tanyakan kepada diri sendiri:

“Agar aku mau melakukan perilaku ini, aku perlu merasakan apa dulu?”

“Perasaan apa yang perlu aku rasakan agar aku akhirnya terdorong untuk melakukan perilaku ini sekarang juga?”

Sebaliknya, saat kita tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan, kita pun perlu menandai perasaan kita. Ajukan pertanyaan:

“Apa yang aku rasakan saat aku mau melakukan hal ini sehingga akhirnya aku tidak melakukannya?”

“Perasaan apa yang muncul sehingga aku menunda-nunda melakukan hal ini?”

Setelah Anda menandainya, barulah Anda ajukan dua pertanyaan sebelumnya.

Lalu, setelah kita mengidentifikasi perasaan yang diperlukan, bagaimana cara mengaksesnya? Setelah mengidentifikasi perasaan yang menghambat, bagaimana cara mengubahnya? Kemarin kita sudah belajar bahwa perasaan dipengaruhi oleh pikiran. Maka, saat sebuah perasaan muncul, kita perlu menyadari apa yang kita pikirkan. Kita perlu menyadari pikiran-pikiran yang melintas yang memicu perasaan tersebut. Pikiran-pikiran ini muncul sekilas dan selintas. Maka, untuk kita perlu masuk ke dalam diri untuk menyadari lintasan-lintasan pikiran ini. Sadari secara penuh suara-suara yang muncul di dalam diri ketika perasaan tersebut muncul.

Misal, pada saat Anda menunda-nunda untuk mengerjakan sebuah tugas. Sadari pikiran yang memicunya. Bisa jadi pikiran yang muncul adalah “ah, masih ada waktu, besok juga masih bisa.” Saat pikiran ini yang muncul, diputar berulang-ulang dalam benak kita, maka kita tidak akan dapat segera memulai pengerjaan tugas tersebut. Kita akan menunda-nundanya. Atau misalnya saat Anda berniat berolahraga pagi, lalu pada saat seharusnya berolahraga, muncul rasa malas. Sadari pikiran yang memicunya. Bisa jadi pikiran yang muncul adalah “masih pagi, nanti sore saja lah. Lagian siang nanti ketemu klien, kalau pagi ini terlalu lelah nanti malah nggak optimal ketemu kliennya.” Selama suara ini yang kita putar dalam pikiran kita, rencana olahraga tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.

Maka, Anda perlu tanyakan ke diri sendiri: “Apa yang perlu aku pikirkan saat ini agar aku bersegera mengerjakan tugas ini sekarang?” “Apa yang perlu aku pikirkan saat ini agar aku bersemangat untuk berolahraga pagi ini?” Jawabannya tentu saja berbeda-beda pada setiap orang. Sebagian mungkin akan menjawab:

“Jika tidak aku kerjakan sekarang, aku tidak akan punya waktu untuk membaca novel besok”

“Jika aku tidak mengerjakannya sekarang, aku tidak akan sempat mengedit laporan yang perlu aku sajikan lusa”

“Aku memilih untuk mengerjakan tugas ini sekarang karena aku adalah orang yang disiplin”

“Aku akan berolahraga sekarang juga karena kesehatan itu sangat sangat penting untuk dijaga”

“Jika aku menunda hal-hal kecil seperti ini, aku akan menunda hal-hal besar yang mungkin datang kepadaku”

Apapun jawabannya, pilihlah pikiran yang membuat Anda terdorong untuk melakukan apa yang perlu Anda lakukan.

Cara Kerja Pikiran (2)

Cara Kerja Pikiran (2)

Kemarin kita sudah belajar bahwa untuk mengubah hasil, kita perlu mengubah perilaku kita. Pertanyaannya, bagaimana kah cara mengubah perilaku? Bagaimana cara kita memunculkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang kita inginkan?

Jika kita menanyakan pertanyaan ini kepada para ahli, kita akan mendapatkan jawaban: motivasi. Orang tergerak melakukan tindakan jika mereka termotivasi untuk melakukannya. Motivasi ini terkait dengan emosi. Seperti kata Tony Robins, emotion create motion – emosi menciptakan pergerakan. Emosi itu terkait dengan rasa. Perilaku yang kita munculkan berbeda, jika kita sedang merasakan emosi yang berbeda. Coba Anda ingat-ingat seseorang yang Anda sering berinteraksi dengannya. Boleh pasangan, rekanan, teman atau siapapun. Sudah? Sekarang ingat-ingat perilaku Anda saat berhadapan dengannya. Bandingkan saat Anda merasa happy dengannya dengan saat Anda merasa kesal dengannya, apakah perilaku Anda sama? Jika Anda seperti sebagian besar orang, saya yakin jawabannya: berbeda. Ya, perilaku kita ‘dikendalikan’ oleh apa yang kita rasakan.

Perilaku saat Anda merasa malas berbeda dengan saat Anda merasa rajin bukan? Perilaku Anda saat Anda merasa senang berbeda dengan saat Anda merasa sedih bukan? Perilaku Anda saat merasa tenang berbeda dengan saat Anda merasa resah bukan? Perasaan mengendalikan perilaku.

Dalam terminologi NLP, perasaan diistilahkan dengan state of mind (dalam bahasa Inggris, mind bermakna pikiran dan perasaan bukan hanya pikiran). Biasanya kita cukup menyebutnya dengan state saja. Kemampuan mengelola state inilah salah satu kunci para peak performer. Para pebisnis, pembicara, pemimpin, atlit, artis, dan para peak performer lainnya secara disadari maupun tidak memiliki kemampuan untuk mengelola state dengan baik. Sehingga dia bisa mengatur mood-nya saat mau tampil di hadapan orang lain maupun saat menghadapi tantangan pelik. Mereka yang memiliki kemampuan mengelola state mampu melakukan tindakan yang diperlukan meski mereka sedang tidak mood untuk melakukannya. Mereka mampu ‘menaklukan’ rasa malas, dan perasaan-perasaan negatif lain yang berpotensi menghambat performanya saat itu. Nah, kemampuan mengelola state inilah salah satu kompetensi yang diharapkan mampu dikuasai setelah kita memelajari NLP. Bukankah menarik saat kita mampu mengelola state kita sehingga kita mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk mewujudkan hasil yang kita inginkan?

Mampu mengelola state berarti mampu mengelola perilaku. Mampu mengelola perilaku berarti mampu secara aktif memengaruhi hasil-hasil yang kita ciptakan. Pertanyaannya, bagaimanakah cara mengelola state kita? Agar mampu mengelola state, kita perlu menyadari hal-hal yang memengaruhi state kita. Apa-apa yang kita sadari akan mampu kita kelola, apa-apa yang tidak kita sadari tidak akan mampu kita kelola.

Dalam disiplin ilmu NLP, state itu dipengaruhi dua hal:

Pertama, pikiran. Apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita memikirkannya.

Kedua, fisiologi. Kondisi fisik kita: mulai dari postur, gerak,  sampai pola napas kita.

Mari kita lakukan percobaan sederhana:

Duduk yang nyaman, senyum semanis mungkin, lalu pikirkan satu pengalaman indah dalam hidup Anda. Munculkan gambarannya dalam benak Anda, buat gambarannya semakin berwarna dan semakin nyata. Nikmati rasa yang muncul sekarang….

Bagaimana perasaan Anda? Rasa apa yang muncul saat tersenyum (fisiologi) dan memikirkan pengalaman indah tersebut (pikiran)?

Secara umum orang merasa bahagia, senang, gembira…tergantung bagaimana kita melekatkan makna pada pengalaman indah tersebut.

Pikiran dan fisiologi mempengaruhi perasaan, kemudian perasaan akan memengaruhi perilaku kita. Maka, bila kita ingin mengubah perilaku kita, mulailah dengan mengubah perasaan kita terlebih dulu. Dan untuk mengubah perasaan kita, ubahlah pikiran dan fisiologi kita terlebih dulu.

Jadi, perilaku/tindakan apa yang ingin Anda lakukan untuk mewujudkan hasil-hasil yang Anda inginkan dan sampai saat ini belum Anda lakukan juga?

Menabung secara rutin?

Menulis secara rutin?

Menghubungi calon nasabah secara rutin?

Periksa perasaan Anda. Pada saat Anda memikirkan perilaku-perilaku tersebut apa yang Anda rasakan? Ragu? Malas? Takut? Khawatir? Jika ini yang Anda rasakan, bagaimana bisa Anda melakukannya? Lalu, perasaan apa yang seharusnya Anda rasakan agar Anda akhirnya benar-benar melakukannya? Dan agar perasaan yang diperlukan muncul, apa yang perlu Anda pikirkan? Bagaimana seharusnya Anda mengatur fisiologi Anda?

Di artikel berikutnya kita akan membahas hal ini secara lebih mendetail, insyaa Allah.

Cara Kerja Pikiran (1)

Cara Kerja Pikiran (1)

Bahasan kita kali ini adalah tentang Cara Kerja Pikiran. Bahasa teknisnya agak berbeda: NLP Communcation Model. Memahami cara kerja pikiran akan memudahkan kita dalam memodifikasi berbagai program yang ada dalam diri kita. Entah program yang terkait emosi, maupun program yang terkait dengan perilaku.

Sebelum saya bahas lebih banyak, coba renungkan pertanyaan sederhana berikut ini:

Apa sebenarnya yang paling diinginkan oleh seseorang di atas bumi ini? Setiap orang akan menjawab berbeda-beda: bahagia, sukses, kaya, damai dsb. Jawaban klasik bukan?

Jika seseorang ingin bahagia, apakah sekarang sudah bahagia?

Jika seseorang ingin sukses, apakah sekarang sudah sukses?

Jika seseorang ingin kaya, apakah sekarang sudah kaya?

Jawaban brutalnya: belum

Bila kita generalisasi, maka sebenarnya yang diinginkan oleh manusia adalah perubahan.

Dari tidak bahagia menjadi bahagia. Dari bahagia menjadi lebih bahagia.

Dari belum kaya menjadi kaya. Dari kaya menjadi semakin kaya.

Dari belum sukses menjadi sukses. Dari sukses menjadi lebih sukses.

Orang pada dasarnya ingin mengubah hasil-hasil yang mereka dapatkan dalam hidup mereka.

Mereka yang punya anak “nakal” ingin mengubah anaknya menjadi “baik.”

Mereka yang kariernya mentok, ingin kariernya mulus.

Mereka yang jualannya seret, ingin jualannya laris.

Orang ingin mengubah hasil-hasil yang mereka dapatkan di berbagai area hidup mereka: keluarga, pekerjaan, bisnis dsb.

Pertanyaannya, hasil-hasil yang kita dapatkan ini darimana datangnya? Hasil-hasil yang kita dapatkan adalah akibat dari perilaku kita, dari tindakan dan aksi kita. Maka, jika kita ingin mengubah hasil-hasil yang kita dapatkan kita perlu mengubah perilaku kita. Tidak mungkin hasil berubah bila kita tidak mau mengubah perilaku kita.

Misalnya Anda ingin meningkatkan omset Anda 2x lipat dari sekarang. Apakah Anda bisa mewujudkan hasil tersebut bila Anda tidak mengubah perilaku (tindakan dan cara) Anda? Saya yakin tidak. Bila kita ingin meningkatkan omset, maka kita perlu mengubah cara promosi kita.

Contoh lain, Anda ingin anak Anda mengerti saat diajari oleh Anda tentang pelajarannya. Anda sudah coba mengajari mereka tapi mereka masih nggak ngerti-ngerti juga. Lalu, Anda ajari mereka berulang kali dengan cara yang sama. Apakah mereka akan mengerti? Biasanya tidak. Percuma Anda mengajari mereka berulang-ulang dengan cara yang tidak mereka mengerti. Lucunya, kita menyalahkan mereka dengan mengatakan “kamu ini gimana sih, diajari bolak-balik nggak ngerti-ngerti!” Padahal yang salah bukan yang diajari, yang salah adalah yang mengajari. Seperti kata pepatah, “Tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya guru yang tidak bisa mengajar.”

Contoh lain lagi, saya ingin menghasilkan buku. Selama ini saya tidak pernah mengkhususkan waktu untuk menulis naskah buku secara rutin. Jika saya pertahankan perilaku ini, mungkinkah buku yang saya cita-citakan terwujud? Saya yakin tidak.

Maka, untuk mengubah hasil kita perlu mengubah perilaku kita. Kita perlu fleksibel menyesuaikan cara kita sehingga hasilnya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Einstein pernah berkata: “Cukuplah dianggap sebagai orang gila, mereka yang melakukan berulang-ulang hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda.” Kita tidak mau disebut sebagai orang gsila bukan?

Jadi, untuk mengubah hasil kita perlu mengubah perilaku. Lalu, bagaimana cara kita mengubah perilaku? Kita akan pelajari di artikel berikutnya. Stay tune.