Menyelami Lagi Neuro-Logical Level (NLL)

Para pembelajar NLP pasti pernah mengenal Neuro-Logical Level (NLL). Ya, model yang dikembangkan oleh Robert Dilts berdasar pada teori level pembelajaran Gregory Bateson ini merupakan salah satu usaha NLP generasi kedua untuk menyusun sebuah unified theory, yang menyatukan beragam teknik dan model NLP. Saking banyaknya model dan teknik praktis ini, kebanyakan pembelajar pemula kerap kebingungan tentang harus menggunakan apa, kapan, dan dimana. Nah, NLL mengajarkan kita sebuah skema untuk mengenali sebuah kondisi, dan melakukan pemetaan untuk menentukan intervensi yang akan digunakan. Kaidah dasarnya, masalah di satu level, bisa diatasi dengan paling tidak mengintervensi minimal 1 level di atasnya. Maka permasalahan di level perilaku, perlu diatasi minimal di level kemampuan. Model aslinya berbentu hirarki. Namun kemudian saya modifikasi menjadi seperti di bawah ini, sebab menurut saya lebih pas. Karena tidak saja level yang di atas menaungi yang di bawah, namun juga melingkupi keseluruhan level yang di bawahnya.

(more…)

NLP untuk Aktualisasi Diri

Pada artikel yang lalu saya telah membahas sedikit tentang kaitan sejarah antara NLP dan Human Potential Movement. Lebih lengkapnya silakan pelajari dalam buku karya L. Michael Hall, “Self Actualization Psychology”. Tentu, ini adalah penafsiran Hall, dan masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun setidaknya kita bisa mendapatkan sebuah gambaran yang lebih besar dan utuh tentang apa sebenarnya NLP itu.

Ya, memahami bahwa ada kemungkinan akar NLP adalah dari riset-riset tentang manusia sehat yang dipelopori oleh Maslow, kita bisa merasakan bahwa NLP punya arah yang lebih luas. Tidak bisa dipungkiri, meski Richard Bandler sungguh sering mengatakan, “NLP is not therapy!”, namun kenyataannya terapi selalu menjadi bahasan utama dalam NLP. Para pembelajar yang mengikuti kelas NLP Practitioner banyak mendapati di akhir kelas biasanya ada semacam ujian praktik berupa terapi. Maka ketika NLP kiranya punya kaitan dengan Aktualisasi Diri, fungsinya sungguh menjadi teramat besar. Apalagi, Maslow sejatinya sejak puluhan lalu telah mengembangkan teori yang tak hanya membahas aktualisasi diri dalam ranah diri itu semata, namun sudah sampai pada organisasi dan masyarakat. Masyarakat sehat, sebagaimana organisasi yang sehat, adalah ia yang terdiri dari orang-orang sehat, dan memfasilitasi tumbuhnya orang-orang sehat. Jika dalam kerangka ini kita memahami NLP, wah, sungguh besar dan panjang perjalanan kita.

(more…)

Kapan Coaching Digunakan?

Dalam artikel yang lalu, saya telah membahas tentang sejarah NLP dan kaitannya dengan coaching. Saya bahkan ingin sekali mengatakan kalau NLP itu coaching banget. Dan coaching itu NLP banget. Hehe..

Dan sebuah artikel dari Coach Tjia rupanya menggelitik saya, judulnya “Coaching is Not Enough”. Menggelitik, sebab ia membahas coaching sebagai sebuah tren, yang kemunculannya belakangan mirip seperti tren beragam pelatihan-pelatihan motivasi beberapa tahun lalu. Saking gandrungnya orang pada pelatihan motivasi, hingga seolah-olah semua masalah dapat selesai dengannya. Pelatihan motivasi adalah obat bagi segala masalah (mirip dengan Habbatussauda, hehe).

(more…)

Mind into Muscle: Dari Misi Menjadi Aksi

Misi dan Tujuan telah dimiliki, bagaimana menjadikannya nyata?

Inilah tantangannya. Sebab bermimpi itu enak, maka ada banyak orang yang berhenti disitu, dan merasa bahwa segalanya telah dimiliki. Padahal adalah hak sebuah impian, untuk diwujudkan. Jika kita telah berani bermimpi, kita mesti sungguh-sungguh mewujudkannya. Atau kalau tidak, impian itu akan menghantui masa depan kita, menuntut haknya. Eh, kok jadi ngeri. Hehehe…

Tapi ada benarnya lho. Orang yang berani bermimpi, namun tidak sungguh-sungguh, akhirnya tak mendapatkan hasil apapun. Dan karena tidak mendapat hasil, ia jadi putus asa kala melihat kembali mimpinya. Dan bahayanya, ia bisa menjadi lebih putus asa dari sebelum punya mimpi. Lebih bahayanya lagi kalau ia lalu ‘meracuni’ orang lain, “Udah lah. Nggak usah mimpi tinggi-tinggi. Nanti sakit kalau jatuh.”

(more…)

Manage Your Mind, or Someone Else Will

“Menabur pikiran, menuai tindakan,” nasihat Samuel Smiles, sebagaimana kerapkali dikutip oleh Stephen R. Covey. Sebab kita menginginkan hasil, dan hasil adalah buah dari tindakan, maka cermatlah terhadap pikiran yang menjadi bibitnya. Mengapa ada orang yang mencapai hasil sedang yang lain tidak? Cermati pikirannya, sebab dari sana lah semuanya bermula.

Tapi apa itu pikiran? Seperti apa persisnya mengelola pikiran itu? Dan mengapa pula orang lain bisa mengambil alih pikiran kita jika tak kita kendalikan?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sangat erat kaitannya dengan NLP. Menguasai cara mengelola pikiran adalah langkah awal menjadi pemimpin diri, menjadi orang bertanggung jawab atas responnya sendiri.

(more…)

NLP dan Kepemimpinan Diri

Sebagaimana telah saya singgung pada artikel lalu, NLP amat erat hubungannya dengan kepemimpinan. Sebab mempraktikkan NLP, sejatinya adalah menjadi tuan atas diri sendiri, menjadi pemimpin atas diri sendiri.

OK, kepemimpinan. Ia adalah sebuah nominalisasi. Kata benda, yang bukan benda. Meski secara kaidah kebahasaan tergolong kata benda, kita tidak pernah bisa menemukannya di pasar, mal, pun toko online. Sebab kepemimpinan memang sebenarnya sebuah proses. Kumpulan perilaku yang terangkai dalam tema tertentu. Maka untuk memahami apa itu kepemimpinan, dan bagaimana kita bisa melakukannya dengan baik, kita perlu membedahnya. Melakukan cracking, dalam istilah pegiat NLP.

(more…)