Antara Internal Representation dan Mindset

Penulis:

Herlyanti

Certified NLP Coach, Indonesia NLP Society

Indonesia NLP Society – Bandung Chapter

 

Mindset.

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengeluhkan tentang mindset orang-orang yang tidak sesuai dengan harapannya. Kemudian saya ingat kata guru saya dulu bahwa untuk mengubah mindset yang tanya sedikit saja, dibutuhkan input yang banyak. Analoginya, untuk mengubah mindset sebanyak 1 miligram, dibutuhkan ilmu baru sebanyak 10 kilogram.

Sebenarnya apa arti mindset secara bahasa?

Definition of mind–set

1
:  a mental attitude or inclination politicians trying to determine the mind–set of voters

2
:  a fixed state of mind . His mind–set does not allow for new situations.

mindset

noun [ U ] UK /ˈmaɪnd.set/ US /ˈmaɪnd.set/

a person’s way of thinking and their opinions:

to have a different/the same mindset

It’s extraordinary how hard it is to change the mindset of the public and the press.

mind‧set /ˈmaɪndset/ noun [countable]

someone’s general attitude, and the way in which they think about things and make decisions.

The company seems to have a very old-fashioned mindset.

Berdasar pada 3 penjelasan dari 3 kamus yang saya rujuk, maka mindset ialah tentang:

  1. Mental attitude
  2. Fix state of mind 
  3. Way of thinking and their opinions
  4. General attitude
  5. Way they think about things and make decisions 

Jadi kalau ditanya, “memang sepenting apakah mindset?” Jawabannya, penting banget.

Contohnya begini, jika Anda memiliki mindset tentang marketing yang seperti ini: “Ah, marketing itu bisa-bisanya aja tipu-tipu, barang yang biasa aja dibilang bagus.” Kira-kira apakah Anda akan bersemangat belajar marketing? Yang ada malah bisa jadi Anda membenci marketing.

Namun, jika Anda punya mindset bahwa berdagang itu bermanfaat, berdagang ialah salah satu cara untuk masuk surga, berdagang ialah cara kaya yang halal dan bermanfaat bagi banyak orang. Saya bisa yakin bahwa Anda akan bangga berprofesi sebagai pedagang.

Dari mana datangnya mindset? Mindset, awalnya bisa dari apa yang Anda baca, Anda dengarkan, dari segala informasi yang Anda dapatkan, lalu Anda serap. Semakin hal itu yang ditambah

dengan bukti-bukti otentik, data, dan hal-hal yang mendukung suatu pernyataan, maka lama-lama pernyataan itu akan menjadi sebuah mindset,  keyakinan. Keyakinan akan mengakar, keyakinan yang menjadi pola pikir, sikap mental, state of mind, cara mengambil keputusan, dan pada akhirnya menjadi sebuah keseluruhan perilaku.

Maka dari itu, wajar jika dibutuhkan banyak masukan, informasi baru, dan data-data yang diterima seseorang untuk menggeser pola pikir lama. Mengapa saya menggunakan kata menggeser, dan bukannya mengganti? Untuk hal ini, saya merujuk pada sebuah hadist:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kepada Allah di manapun Anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Saya pernah mendengarnya dalam sebuah ceramah oleh ustadz Tengku Hanan Attaki, Lc; bahwa perbuatan buruk yang diiringi dengan perbuatan baik, lama-lama perbuatan buruk itu akan hilang, Karena telah tergesernya keburukan dennen kebaikan. Artinya? Mengubah perbuatan buruk bukanlah dengan sulap simsalambim, tiba-tiba jadi baik; namun bisa dengan memperbanyak perbuatan baik. Analoginya begini, jika sebuah kejahatan terjadi, di sebuah tempat dimana di sana tidak ada yang menyebarkan kebaikan, bisa jadi kejahatan itu merajalela. Sebaliknya, jika dalam lingkungan di mana terjadi kejahatan itu disebarkan kebaikan, maka mungkin saja lama-lama kejahatan akan menyingkir atau bahkan musnah, karena sudah tidak ada tempat lagi di sana.

Begitu pula yang saya percayai tentang mindset. Menggeser mindset, paradigma, keyakinan lama, butuh banyak informasi baru yang terus menerus membuktikan bahwa mindset lama sudah perlu di upgrade.

Alhamdulillahnya, manusia adalah makhluk spesial. Cara berpikirnya bisa diubah sesuai kebutuhan. Lalu, pertanyaan berikutnya, bagaimana menggeser mindset tadi? Jawabannya ada di sini:

(Image taken from: http://redelinghuys.info/coach/nlp-communications-model/)

Maksudnya?

Sekarang Anda hidup di dalam bubble, gelembung. Misalnya yang pernah saya baca tentang algoritma Facebook, di mana Anda akan melihat apa yang Anda sukai, sesuai interest Anda, selebihnya, seolah-olah dihilangkan. Tentu ada baik dan buruknya disini. Tapi jika merujuk pada keinginan terhadap perubahan, mungkin saatnya untuk menyeberang. Apa sih yang ada di pola pikir orang lain, bagaimana cara pandang mereka, yang nantinya itu bisa menyebabkan pemahaman dan juga sikap toleransi.

Lho, ini kok jadi nyambung ke toleransi? Maafkan, mari saya lanjutkan lagi dengan NLP dan Internal Representation. Jadi, informasi yang Anda dapat, akan melalui  3 filter yang secara garis besar disebut Delesi, Generalisasi, dan Distorsi. Makhluk-makhluk apakah ini? Mereka adalah 3 bersaudara yang tidak bisa dipisahkan. Apakah mereka negatif? Tidak juga, mereka juga berperan positif dalam proses kehidupan manusia.

Fungsi generalisasi bermanfaat saat belajar. Itulah mengapa, untuk tiap tuts keyboard yang berbeda, Anda masih bisa mengetik dengan biasa saja. Karena fungsi generalisasi muncul dengan pikiran: “Ah, ini kan sama-sama tuts keyboard, hurufnya sama, jadi ngetiknya juga bakal sama.”

Fungsi delesi bermanfaat contohnya saat Anda ditanya: “Gimana persiapan Idul Adha?” Tanpa fungsi delesi, Anda akan jawab panjang kali lebar kali tinggi. Bervolume. Tapi dengan adanya fungsi ini, maka Anda bisa jawab hanya dengan satu kata yang mewakili semua: “Aman.”

Fungsi distorsi, bermanfaat saat Anda membutuhkan proses kreatif. Misalnya bagaimana cara menghubungkan antara 2 hal yang tak berhubungan, misalkan saat Anda diminta mencari benda kreatif, untuk berinovasi, menghubungkan antara selang air dan dan sabun. Akhirnya muncul selang air yang bisa di bawahnya ada tempat penyimpanan sabun cair, dan bisa menyemburkan air sabun, bermanfaat untuk cuci kendaraan.

Nah, jadi tidak ada yang salah dengan ketiga bersaudara ini. Salahnya, kadang Anda tidak menggunakannya di saat yang tepat. Contohnya ya saat ingin mengubah mindset. Anda melakukan delesi terhadap hal-hal yang semestinya Anda perhatikan, melakukan generalisasi terhadap satu hal “ah, pokoknya kerjaan sales itu ya memalukan, dll dsb”; atau ketika melakukan fungsi distorsi: “jika memakai produk ini, maka keajaiban ini  akan terjadi pada Anda.”

Brand, ialah contoh fungsi distorsi yang luar biasa. Bagaimana mungkin sebuah simbol, sebuah barang, dijadikan identitas seseorang. Misalkan ketika orang memakai brand tertentu, itu artinya dia adalah orang yang bla bla bla; sesuai dengan identitas yang ingin ditampilkan pada brandnya. Kan tidak ada hubungan sebenarnya. Coba Anda pikirkan, apakah ada hubungannya antara sepatu dan pola pikir. Kan tidak ada? Tapi dengan adanya fungsi distorsi, Anda akan merasa semua masuk akal. Bahwa seolah-olah memang ada hubungannya antara merk sepatu yang dipakai, dan citra diri yang ditampilkan.

OK, jadi setelah informasi mendapat saringan dari 3 bersaudara ini, dia akan masuk menjadi Internal Representasi, yaitu apa yang Anda yakini terhadap sesuatu. Contohnya: ketika Anda mendengar kalimat: Domba, sapi, kambing, dan unta disembelih pada hari Raya Idul Adha. Coba perhatikan, apakah ada gambar yang muncul? Apakah ada gambar hewan-hewan yang disebutkan lalu satu per satu disembelih? Ataukah ada suara takbir yang terdengar, ataukah gambar kesibukan pada saat penyembelihan? Rasa takut karena melihat darah? Apa yang muncul?

Mudahnya, Internal representation adalah gambaran, suara, rasa yang muncul saat Anda menerima informasi.

Contoh lagi, apa yang Anda bayangkan ketika mendengar seseorang telah membeli IPhone terbaru? Apakah Anda akan langsung berdecak kagum, ataukah Anda akan meremehkan dengan berkata “ah, kayaknya BM”?

Mudahnya, Internal Representasi adalah persepsi.

Persepsi Anda terhadap sesuatu akan memunculkan state of mind tertentu, istilahnya mudahnya, perasaan tertentu. Rasa meremehkan yang ada, rasa kagum, rasa jijik, dan rasa-rasa yang lain, terhadap persepsi Anda terhadap sesuatu. Kemudian, perasaan ini berakibat pula pada keadaan jasmani Anda, misalkan jadi menggerakkan otot-otot muka sehingga rasa jijik, atau rasa meremehkan muncul, ataukah rasa kagum, dan bahagia; semua menggunakan konfigurasi otot yang berbeda. Ataukah muncul keringat dingin saat orang gugup berdiri di depan banyak orang?

Jika dilanjutkan, apakah sama perilaku orang yang gugup berbicara di depan orang, dan orang yang nyaman? Tentunya tidak. Alhasil, semua yang diingat oleh orang yang gugup bisa melayang pergi begitu saja, sehingga ia terpatung dan tampak aneh, sedangkan sebaliknya, orang yang nyaman begitu mudahnya berbagi cerita dan menguasai panggung. Walau dengan resource yang sama, misalkan sesama manajer, cara Anda menghadapi situasi, akan membedakan hasil yang akan dicapai.

Baiklah, kembali ke mindset. Apakah persepsi adalah mindset? Jika merujuk pada 5 arti mindset di atas, maka mindset dimulai dari proses penyaringan oleh 3 bersaudara (way they think about things), yang menghasilkan gambar, suara, dan rasa tertentu (their opinions); yang menghasilkan efek pada jasmani, dan perasaan (fix state of mind); sehingga menjadi sebuah perilaku (mental attitude, make decisions, general attitude).

Jadi mindset adalah keseluruhan fungsi penerimaan informasi hingga ke perilaku yang dihasilkan.

Mindset, bukan hal yang remeh. Maka jadi semakin yakin, inilah alasan mengapa untuk menggeser mindset sedikit saja, diperlukan banyak informasi baru, lingkungan baru; karena informasi biasanya berkaitan erat dengan lingkungan. Fiuh, effortful.

Anda masih yakin akan menggeser mindset lama dengan yang baru, kan

Arahkan Energimu

Alih-alih fokus pada apa yang salah dalam diri atau orang lain, fokuslah pada apa yang berjalan dengan baik.”

Richard Bandler

Dari khazanah ilmu bertajuk Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang kupelajari 13 tahun terakhir, kalimat dari seorang rekan-pendiri di atas merupakan salah satu tema sentral yang penting untuk direnungkan. Bahwa seseorang yang mengalami fobia, misalnya, sejatinya memiliki sebuah keterampilan yang luar biasa.

Kok bisa? Fobia kan rasa takut yang berlebihan terhadap hal-hal tertentu itu?

Benar. Fobia, bukanlah rasa takut yang riil, yang sumbernya ada di dunia nyata. Fobia, rasa takut yang berlebihan itu, ialah sesuatu yang kita ciptakan sendiri dalam benak kita, sengaja maupun tidak. Orang yang fobia terhadap hewan berkaki banyak, misalnya, bukan takut terhadap hewan itu sendiri, melainkan ia takut terhadap memori yang ia simpan terkait dengan hewan tersebut.

Dari sini, khazanah ilmu NLP berpendapat bahwa artinya kita memiliki kemampuan untuk mengkreasi gambaran mental-emosional yang amat dahsyat. Apa jadinya jika potensi kreasi tersebut kemudian diarahkan untuk hal yang mendukung kemajuan?

“Saat menemui seorang klien yang mengalami ketakutan berlebihan,” ujar Richard Bandler di salah satu kesempatan, “saya langsung terpikir, bagaimana energi besar itu bisa ia arahkan untuk mencapai tujuannya?”

Maksudnya?

Ya, sumber energi kita sejatinya sama saja, apakah ia akhirnya produktif atau tidak. Malas, contohnya, memerlukan energi. Yakni energi untuk menahan diri. Maka orang yang malas untuk meributkan hal yang tidak penting, misalnya, sebenarnya sedang menahan kecenderungannya untuk bergerak, dan memilih diam. Jadilah dalam konteks ini malas menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sumber energi malas ini sama persis dengan ketika seseorang malas bangun pagi. Fitrah kita bergerak. Maka ketika yang terjadi adalah malas—bukan lelah—diri inilah yang sebenarnya sedang menahan kecenderungan untuk bergerak itu.

Contoh lain, insan yang antusias untuk bermain video game, memiliki sumber energi yang amat besar. Sumber energi yang sama dengan ketika ia arahkan untuk antusias menggali ilmu pengetahuan, membangun keterampilan, memulai bisnis, dll. Pikiran dan perasaan kita ini satu jua. Tidak berbeda-beda. Maka hasil yang kita dapatkan bergantung pada ke mana energi ini kita arahkan.

Pelajari energimu, wahai diri, dan bagaimana kau membangkitkannya. Kala kau kenali bagaimana sebuah energi muncul pada sesuatu, cobalah tuk arahkan ia pada hal yang lebih bermanfaat. Malaslah untuk bodoh. Rajinlah untuk pandai. Takutlah tuk berbuat keburukan. Beranilah dalam mengerjakan kebenaran. Cintailah orang-orang baik. Bencilah orang-orang yang merusak. Sungguh-sungguhlah dalam menyambut rezeki, sebagaimana sungguh-sungguh pulalah dalam menghindari risiko.

Ada 2 jalan yang disediakan bagi tiap insan. Jalan kebaikan dan keburukan. Energi yang sama bisa digunakan tuk menempuh keduanya. Fokus pada yang satu kan lalaikan kita pada yang lainnya.

Ingin menjadi yang mana kah kita?

Praktisi NLP Itu (Seharusnya) Rendah Hati

Ya. Bagaimana tidak? La NLP itu ilmu modeling. Berangkat dari ‘meniru’ keahlian orang lain. Maka melakukan modeling berarti mengakui adanya orang lain yang telah lebih dulu mengembangkan keahlian, dan bersedia belajar kepadanya. Dengan kata lain, jika toh sang praktisi menemukan sebuah teknik baru yang fenomenal, tetap ada orang lain yang lebih dulu memulainya. Ia ‘hanya meniru’.

(more…)

Benarkah NLP bagian dari New Age Movement?

Beberapa kali dalam waktu berdekatan, saya mendapati pertanyaan serupa tajuk di atas. Sebuah pertanyaan yang sejatinya tidak saja muncul belakangan, melainkan sudah ada sejak lama, bahkan di negara asalnya Amerika. Namun beberapa kawan mengajukan pertanyaan serupa, mungkin sebab terbitnya sebuah tulisan dari Mas Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Tragedi Iman Seorang Hafidz” di sini. Saya maklum jika kemudian beberapa kawan muslim yang sedang mendalami NLP menjadi gundah, sebab persoalan akidah yang diangkat oleh penulis memang bukan perkara ringan. Saya pun, jika tidak melakukan penelusuran, mungkin akan merasakan hal yang sama.

Tulisan ini saya buat sebagai pelengkap pemikiran semata. Tentu jauh dari sempurna, sebab ia ditulis atas keterbatasan ilmu yang saya miliki. Namun merupakan tanggung jawab ilmiah untuk menjelaskan hal-hal yang kiranya kurang pas dipahami orang awam.

 

(more…)

Balada ‘Jangan’ dan ‘Mengapa’

Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak orang berduyun-duyun untuk menghindari penggunaan kata jangan dan sejenisnya.

Dulu, saya sempat amat meyakini hal ini. Sampai pada satu waktu sebuah pertanyaan pun muncul dalam diri: masak sih kata jangan tidak bisa digunakan? Kalau kata jangan dan semisalnya tidak bermanfaat, mengapa ia ada? Bukankah setiap kata memiliki fungsi masing-masing?

(more…)

Kesabaran Itu Ada Batasnya

“Jika ada yang katakan kesabaran ada batasnya, maka kemarahan dan kekecewaan pun ada batasnya pula.”

Demikian biasa terdengar. Sebuah kalimat yang tentu memiliki alasan. Atau menjadi alasan, untuk tidak merasa sabar. Dulu, aku berpikir bahwa kalimat ini amat perlu direvisi. Ya, mempelajari beragam ilmu dan meretas secuil hikmah saja telah mengajarkanku bahwa kesabaran sungguh tidak berbatas. Apatah lagi kala mendapati kisah-kisah orang yang menyejarah. Duh, betapa kesabaran mereka sedemikian luas, layaknya samudera, dibandingkan dengan kesabaranku yang sekolam kecil saja.

(more…)