Aktualisasi Diri: Jalan-jalan Pertumbuhan

Pada Minggu, 16 Juni 2013 lalu, Indonesia NLP Society kembali menggelar NLP Talks. Kali itu, tema yang dibahas adalah “Path to Actualization – Part 1”. Tema ini diusung untuk mulai mengajak kita menapaki jalan menuju pertumbuhan diri. Ada “Part 1”, karena memang materinya takkan habis dalam 3 jam. Ia perlu sesi lanjutan yang panjang.

Ya, saya merasa cocok dengan istilah ‘jalan’. Sebab aktualisasi diri, sebagaimana telah kita bahas di artikel sebelumnya, adalah sebuah proses, sebuah perjalanan. Pencarian manusia atas puncak kemuliaan sejatinya telah dimulai ribuan tahun lalu. Beragam konsep dan model tersedia, hingga kini pun kita masih terus merumuskan. Apa yang, misalnya, diajarkan oleh Continue reading “Aktualisasi Diri: Jalan-jalan Pertumbuhan” »

Perkayalah Makna-makna

“Kala makna diperkaya, pengalaman kan penuh warna.”

Kita bereaksi terhadap makna. Dan sebab inilah kita punya kebebasan, apapun keadaan. Kebebasan ini pula lah, yang kala tak dibebaskan, maka kan berbalik membelenggu. Sebab makna, jadikan segalanya tampak nyata. Padahal kenyataan, bagi diri ini selalu merupakan penafsiran. Dan penafsiran, sangat bergantung pada silabus makna yang kita miliki.

Seseorang bisa menghujat diri ini. Namun respon terhadap hujatan itu, sangat bergantung pada kekayaan makna yang kita miliki. Inilah sejatinya yang membedakan insan bijak bestari dengan orang biasa. Para bijak adalah mereka yang memiliki alternatif makna cukup banyak, sekaligus cakap menggunakannya sesuai keadaan.

Continue reading “Perkayalah Makna-makna” »

Dari Maslow, ke NLP, ke Coaching

Abraham Maslow menyebutnya self actualized people. Carl Rogers, rekan seperjuangannya dalam membesarkan mazhab ketiga psikologi—Psikologi Humanistik—menyebutnya fully functioning person. Mudahnya, ia adalah orang-orang yang telah tumbuh sebagaimana mestinya. Menggunakan relasi dengan pendekatan spiritual, ia lah manusia yang menjadi seperti yang Tuhan ciptakan. Orang yang kokoh secara personal, secara karakter, dan kokoh pula secara sosial. Maka Maslow memang konon sempat agak gusar kala istilah aktualisasi diri pernah digunakan secara serampangan demi pembenaran atas tindakan seseorang yang semaunya sendiri, dengan alasan ekspresi diri.

Lalu kini, kita mengenal istilah yang dipopulerkan oleh Stephen R. Covey, Highly Effective People.

Continue reading “Dari Maslow, ke NLP, ke Coaching” »

8 Hari Berguru pada Michael Hall

1 Maret 2013 lalu adalah momen penantian panjang saya untuk bisa belajar langsung dari salah satu pendiri Neuro Semantics, L. Michael Hall. Mengikuti tulisan beliau sejak 2008, pertemuan seminggu lebih itu seperti memuaskan dahaga saya akan berbagai pertanyaan yang menggelayut selama ini. Ya, Hall merupakan salah satu sosok yang bagi saya amat unik di jagat NLP. Meski bukan merupakan tokoh awal, kiprahnya dalam melakukan modeling bisa dikatakan menyaingi para pendiri. Neuro Semantics pun kemudian menjadi sebuah disiplin ilmu yang menyempurnakan NLP, alih-alih hanya sekedar merek yang berbeda. Puluhan buku telah ia tulis mengupas hampir seluruh aspek NLP, membedahnya satu demi satu hingga ke berbagai teori yang mendasarinya. Berbeda dengan penulis lain yang kebanyakan hanya berfokus pada teknik, Hall menelisik dalam hingga sejarah dan latar belakang setiap model. Tak heran jika kebanyakan bukunya cukup njelimet. Namun tetap saya baca jua, sebab isinya komplit dan komprehensif.

Seminggu lebih saya mengikuti Coaching Mastery, kelas 8 hari sertifikasi Meta Coaching ini benar-benar menggenjot kami untuk menguasai dan mencapai standar kompetensi yang Continue reading “8 Hari Berguru pada Michael Hall” »

Puasa: Sebuah Disosiasi

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Tak terasa, sudah separuh Ramadhan terlalui. Sungguh hati bercampur rasa, antara cemas dan harap. Cemas, akankah diri ini termasuk yang semata mendapat lapar dan dahaga. Harap, semoga segala kekurangan digenapkan sempurna sebab kemurahanNya.

Sementara harap dan cemas menyatu, terngiang suara para guru yang mengajarkan bahwa makna puasa adalah menahan. Secara fisik, ia menahan makan, minum, dan berhubungan seksual. Secara psikis, ia menahan segala kegiatan hati dari munculnya rasa marah, dengki, iri, dan kawan-kawannya.

Continue reading “Puasa: Sebuah Disosiasi” »