• Teddi Prasetya
  • Coaching
  • No Comments

Saya meyakini bahwa pasar coaching di Indonesia—dan dunia—baru dimulai. Belum mencapai titik stabil, apalagi titik jenuh.

Alasannya?

  1. Bertumbuh adalah kebutuhan alamiah setiap manusia. Pilihannya adalah bertumbuh, atau mati. Csikszenmihalyi dalam karyanya, Flow, menguraikan bahwa tak membutuhkan waktu lama untuk seseorang menjadi bosan setelah terampil melakukan sesuatu. Kebosanan menjadikan seseorang sulit mengalami kondisi ‘larut’, dan lama kelamaan mematikan potensinya. Untuk terus bertumbuh, kita memerlukan tantangan atau masalah. Nah, tantangan sekaligus masalahnya, ketika terdapat tantangan baru, kita memerlukan keterampilan baru. Ini menimbulkan ketidaknyamanan, yang jika tak difasilitasi dengan baik, akan mengubah bentuk kebosanan menjadi kecemasan. Manusia hidup di antara kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan dan mengatasi tantangan.
  2. Akan dibutuhkan coach dengan keahlian spesifik untuk setiap kebutuhan. Tak tepat benar jika dikatakan kalau seorang coach sama sekali tak perlu tahu latar belakang kondisi atau keilmuan bidang kliennya. Bagaimana mungkin kita mendengar empatik seseorang yang curhat dalam bahasa Rusia, jika kita sama sekali tak mengerti bahasa Rusia? Maka seorang sales coach akan sangat baik jika berpengalaman di bidang penjualan, parent coach berpengalaman mengasuh dan mendidik anak, business coach berpengalaman menjalankan bisnis, executive coach berpengalaman memimpin. Meski benar pula, bahwa tak mesti executive coach untuk seorang eksekutif di bidang pertambangan harus memiliki latar belakang bisnis pertambangan pula. Memahami bidang klien memungkinkan seorang coach mendengar kata-kata kunci dalam bidang tersebut.
  3. Lebih banyak orang sehat daripada orang sakit. Ini sudah pernah saya bahas dalam artikel beberapa waktu lalu. Berapa banyak orang yang mengalami masalah psikologis dan membutuhkan psikoterapi? Bandingkan dengan berapa banyak orang yang kesulitan mencapai target? Jika di sebuah perusahaan terdapat 50 orang manajer saja, yang sedang dikehendaki berubah mindsetnya, lalu akan di-coach 6x pertemuan, maka aka nada 300 sesi. Sanggupkah seorang coach ahli sekalipun menangani sesi sejumlah itu dalam waktu 6 bulan? Jelas tidak. Proses coaching yang individual—atau paling banter tim dengan jumlah terbatas—menjadikan kita memerlukan lebih banyak coach handal daripada trainer handal.
  4. Perusahaan besar biasanya memiliki anggaran pengembangan untuk tiap karyawannya. Namun kerapkali, karyawan masih memiliki anggaran baru, sedang belum ada lagi pelatihan yang perlu ia ikuti. Jika ikut pelatihan yang sama, maka akan mubadzir. Padahal materinya tak langsung bisa dipraktikkan. Nah, disinilah peluang coaching. Sebab pelatihan, ibarat menjahit baju, masih kebesaran di sana sini. Perlu proses fitting sebelum jahitan final. Coaching lah proses fitting itu. Menjadikan pengetahuan yang didapat dalam pelatihan menjadi pas dengan konteks peserta.

Itu baru bicara dunia bisnis. Belum ranah lain, seperti keluarga misalnya. Orang tua yang anaknya beranjak remaja, atau dari remaja menjadi dewasa, dari dewasa lalu menikah, sejatinya tak pernah bisa melepaskan tugas pendidikan seluruhnya. Namun gaya mendidik anak yang dewasa tentu tak sama dengan kala ia masih anak-anak. Repotnya, banyak orang tua tak terampil mendidik dengan gaya yang berbeda. Maka jadilah ini peluang bagi parent coach untuk membantu orang tua mengembangkan keterampilan mendidik baru yang lebih pas dengan fase perkembangan anaknya.

Jadi, ayo belajar coaching! Tidak saja kita akan bertumbuh, kita akan bertumbuh bersama klien kita.

 

Author: Teddi Prasetya

Leave a Reply