Indonesia NLP Society > Article > Uncategorized > 10 Tahun INLPS di Amaris Kemang (Sebuah Ulasan dari Teddi Prasetya Yuliawan)
  • Rahayu Zulfa
  • Uncategorized
  • No Comments

Baru ku sadari hari ini, di kelas Essential Life Course (ELC) Jakarta, bahwa INLPS sudah bekerja sama dengan Amaris Kemang selama sepuluh tahun. Ini juga sekaligus menandai bahwa program ELC sudah berjalan 10 tahun juga.

Wah, lama juga ya. Alhamdulillah. Ah, mungkin ini adalah momen tepat untuk merefleksikan perjalanan ELC dan INLPS, bersama Amaris Kemang (yang kita klaim akan kita beli suatu saat nanti).

Jadi begini ceritanya. Tahun 2015 itu, aku, Mas Syamsul Hatta, Mas Andra Hanindyo, dan sepertinya juga Mas Ryan Mauladi, ngopi di Plaza Semanggi. Entah apa rencana awalnya, tapi aku teringat adegan saat Andra mengusulkan, “Sepertinya kita perlu bikin program basic deh. NLP Essential gitu.” Ya, jadi seingatku memang nama NLP Essential (yang tak lagi bisa kita pakai itu), adalah usulan dari Andra. Kami langsung setuju, dan mulai merencanakan. Program itu didesain berdurasi tiga hari, dengan materi-materi NLP yang kami perkirakan bisa dikunyah oleh awam.

Oh iya, mungkin salah satu alasannya adalah di 2014, kami pernah mencoba mengadakan kelas sertifikasi NLP Coach. Kelasnya tujuh hari. Para pesertanya sampai sekarang belum ada yang lulus, tapi alhamdulillah masih jadi keluarga besar INLPS. (Ada tragedi bawal dialami oleh Surya Kresnanda. Silakan tanya dia apa maksudnya. Itu zaman ketika Surya masih suka pakai topi.) Program NLP Coach versi satu itu ceritanya mau langsung memasukkan ilmu coaching dengan NLP sekaligus. Asumsinya para peserta masih awam dengan NLP. Belum pernah belajar sama sekali. Langsung belajar coaching plus NLP nya. Sebuah ambisi yang menggebu-gebu, dan tentu saja, sepertinya gagal. Hehe.. Maaf ya para peserta generasi pertama. Tapi wahai para peserta generasi sekarang yang bisa lulus, kalian perlu hormat pada generasi pertama itu. Sebab mereka percaya pada kami, padahal kami masih coba-coba. Jasa mereka sungguh besar sekali. Sekarang sudah angkatan sebelas.

Nah, dari situ, sepertinya ide belajar NLP dan coaching sekaligus dalam satu program rupanya tidak memadai. Dan, singkat cerita, usulan Andra tadi langsung dieksekusi setelahnya. Karena kalau dipikir-pikir, sebagai organisasi, INLPS saat itu memang belum punya program rutin dasar apapun. Selain NLP Talks yang berganti-ganti, tidak ada program dasar NLP. Jadilah, NLP Essential dibuat dalam format tiga hari, dan berjalan dua angkatan. Peserta awal itu salah satunya adalah Bu Nastiti, pendiri Sekolah Bening yang keren itu. Bangga aku. Orang sekeren itu percaya sama kami yang sungguh cupu.

Amaris Kemang adalah usulan Mas Ryan Mauladi. Ruangan kelasnya persis di ruangan tempat kelas ELC September 2025 ini berjalan. Hotel ini enak. Harganya bersahabat. Makanannya oke lah. Toiletnya proper. Parkiran banyak (tidak seperti Amaris lain), karena satu komplek sama toko mebel mewah di gedung sebelah. Harga kamar bagi yang menginap juga standar dengan kualitas kamar Amaris. Di sekitarnya adalah banyak pilihan makanan yang suka jadi tempat nongkrong para peserta kelas sertifikasi NLP Coach saat abis ngepul latihan sampai malam. Mushala di parkiran, ya lumayan lah, kadang-kadang hotel berbaik hati membukakan satu kamar untuk jadi mushala. Ruang makan di depan kelas juga besar, enak buat jadi tempat ngegosip dan kangen-kangenan member dan pengurus INLPS saat berkunjung. Ruang makan itu jadi saksi banyak orang berlatih coaching, jadi coachee, curhat, menangis, dan lain sebagainya.

Sempat satu kali kami pindah ke hotel di depannya. Tapi kapok (maaf). Sempat juga kami pindah ke Ibis Cawang saat sebelum pandemi, karena chairman saat itu (coba tebak siapa orangnya) ngambek sama PIC Amaris Kemang sebab saat peserta sedikit kami diberi ruangan yang sangat sempit. Tapi toh, sehabis pandemi, kami kembali lagi ke Amaris Kemang.

Komunitas selalu butuh ruang. Ruang yang menerima kita apa adanya. Sebab tak ada transaksi di komunitas, selain pertukaran perbuatan baik satu sama lain. Amaris Kemang, dengan segala dinamika kemacetan daerah Kemang di sekitarnya, sejauh ini sudah menerima INLPS dengan segala kerewelan anggota dan pengurusnya.

Jadi, aku mau berterima kasih pada Amaris Kemang. Semoga hotel ini terus ada dan terus menjadi tempat bertumbuh bagi banyak orang.

Buat kamu yang punya kenangan sama Amaris Kemang dan INLPS, silakan komen.

 

Teddi Prasetya Yuliawan

Author: Rahayu Zulfa

Leave a Reply