Setelah menulis tentang perjalanan ELC di artikel sebelumnya, aku baru tersadar bahwa sebenarnya program sertifikasi NLP Coaching justru berumur lebih tua dari itu. Ya, kelas coaching berbasis NLP sendiri kan sudah diadakan sejak 2010, tapi hanya berupa kelas pendek berdurasi dua hari. Perlu ku akui, saat itu pun kemampuan coaching ku masih amat terbatas.
Meski sudah mengikuti karya-karya L. Michael Hall seputar coaching sejak 2007, baru pada 2013 aku berkesempatan untuk langsung mengikuti pelatihan sertifikasi coaching berbasis NLP, dengan tajuk Associate Certified Meta Coaching (ACMC). Kelas itu adalah pelatihan terbaik yang menurutku pernah ku ikuti. Dengan definisi pelatihan harusnya adalah berisi latihan, kelas delapan hari itu benar-benar diisi latihan tanpa henti, didampingi, hingga kita bisa meniti jalan kompetensi sedikit demi sedikit. Itu pulalah pelatihan bertajuk sertifikasi yang benar-benar sertifikasi. Sebab tidak semua peserta yang ikut pelatihan langsung lulus. Untuk lulus, ada uji kompetensi. Kompetensinya pun amat detil berbasis perilaku. Tunjukkan perilaku dalam sesi coaching secara konsisten, baru bisa lulus. Tapi kalau belum bisa menunjukkan, ya latihan saja lagi. Singkat cerita, baru dua bulan setelah kelas itu selesai, aku akhirnya lulus. Di titik itulah aku baru merasakan yang dinamakan mampu. Taksonomi Bloom itu benar adanya ketika memisahkan level pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan. Mampu itu memang berbeda jauh dari paham dan tahu. Tapi mampu memang membutuhkan paham dan tahu. Dan ketika kita sudah mampu, rupanya kita pasti tahu dan paham. Semuanya dibangun dan jadi satu kesatuan.
Waktu berjalan beberapa lama, aku mulai mempraktikkan Meta Coaching, dan mendapati tidak semua teknik dan model yang diajarkan dan ku kuasai, begitu mudah dipraktikkan dalam konteks lapangan, riil dengan klien biasa yang sama sekali tidak kenal NLP. Di situlah aku mulai menengok kembali materi-materi dasar NLP, dan menyadari bahwa apa yang tersedia rupanya lebih mudah dipraktikkan dan dijelaskan. Jadilah lama kelamaan, keterampilan coaching ku berkembang, namun sebenarnya kembali kepada akar NLP pada mulanya. Inilah salah satu sebab mengapa akhirnya kita di INLPS memutuskan untuk menyusun sendiri skema proses belajar coaching berbasis NLP. Sebab coaching yang kami praktikkan memang berasal dari berbagai sekolah coaching yang kami ikuti. Aku di Meta Coaching. Mas Syamsul dan Andra berguru pada Pak Kurnia dan Bu Ina di Loop. Mas Aji nyantri pada Bu Lyra Puspa di Vanaya. Pergumulan kami dengan coaching mendorong kami untuk bereksperimen dengan metode-metode baru.
Alhasil, aku, Mas Syamsul, dan Andra memulai kelas sertifikasi NLP Coaching pada tahun 2014 di INLPS. Kelas itu langsung tujuh hari, mengandaikan para pesertanya adalah awam sama sekali di NLP. Jadi mereka langsung belajar NLP dalam kemasan coaching sekaligus. Tentu saja pada akhirnya yang ikut tidak sama sekali awam. Mereka adalah sahabat-sahabat yang percaya pada apa yang sama-sama ingin kita bangun, dan bersedia belajar bersama. Putri Salfiani, Pintari Gian Vemari, Muhammad Irwansyah, Surya Kresnanda, Gita Laksita, Bli Dewa Widhiantara adalah beberapa sahabat yang belajar bersama kala itu. Belum ada satu pun yang lulus dengan sistem itu. Hehe.. Tapi apa yang kami lakukan rupanya menjadi fondasi bagi program berikutnya.
Dari hasil refleksi, kami temukan rupanya memang sulit, belajar NLP dan coaching sekaligus. Ya, waktu itu kan, kelas dasar NLP ELC juga belum ada. Maka kisaran 2016, kami mencoba pendekatan berbeda. Bagaimana jika diasumsikan, para peserta adalah mereka yang sudah menguasai NLP, dan karenanya fokus langsung belajar coaching. Jadilah kelas NLP Coaching angkatan dua diadakan, dengan beberapa peserta seperti Hendri Harjanto, Bayu Satrio, dan Mas Darmawan Aji sendiri. Ya, mas Aji ikut jadi peserta saat itu, dan lulus. Hehe.. entah karena programnya lebih baik, atau karena dia memang sudah pintar dari sononya. Tapi ini membuktikan tesis bahwa memang orang perlu paham NLP dulu, baru bisa belajar coaching berbasis NLP.
Nah, karena pada tahun itu NLP Essentials (ELC) sudah ada, dan alhamdulillah pesertanya makin banyak, maka pada 2017 kita adakan program dengan skema yang sampai sekarang kita gunakan, yaitu Professional NLP Coach, enam hari, dengan sebelumnya sudah mengikuti terlebih dahulu ELC. Para peserta harus melatih diri setidaknya 30 sesi, kemudian mengikuti uji kompetensi. Di antaranya ada mentoring yang kami lakukan tanpa henti. Kelulusan meningkat tajam di angkatan ini. Beberapanya adalah penggerak INLPS hingga sekarang. Mbak Andayani Muktiasari, Rani Indriani Kusumah, Bu Arie Kusuma Dewi, Bu Chita Harahap, Bu Rita Anggorowati, adalah beberapa orang sahabat yang percaya pada program ini dan terus jadi sahabat belajar hingga sekarang.
Alhamdulillah, sejak itu, hampir tiap tahun program CPNC diadakan, sekali saja dalam setahun, karena memang membutuhkan komitmen tinggi. Para peserta yang ikut biasanya memang harus sudah amat serius ingin menjadi seorang coach. Sebab keterampilan coaching itu mudah saja dikuasai, cukup rajin berlatih saja. Yang berat adalah mendorong diri untuk memasukkan jadwal latihan di sela-sela kesibukan, juga memantik diri saat menyadari bahwa yang namanya belajar ya tak langsung pandai. Menjadi seorang CPNC rupanya merupakan perjalanan transformasi diri, tidak saja semata sertifikasi.
Jadi, buat kamu yang mau serius jadi coach sampai bisa, yuk belajar bareng di INLPS. Kalau kamu sampai lulus, insya Allah kamu benar-benar bisa coaching. Skill-mu gak akan ‘goyang-goyang’. You’ll know what to do. Sebab kalau belum bisa sampai situ, ya tentunya belum akan lulus. Kan malu juga ya, majang sertifikat tapi skill masih ‘goyang’. Hehe.. Gak fair juga buat klien.
Ya, sertifikasi kami memang belum internasional. Tapi apa sih yang dicari klien? Ia mendapatkan hasil kan? Ya jadilah kompeten. Insya Allah di INLPS kalian akan dibantu sampai mendapatkan itu.
Teddi Prasetya Yuliawan